Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Surat Haru Messi untuk Sang Ayah: Mengapa Tak Bertahan Sedikit Lebih Lama?
- Persik Bidik Trofi Internasional di Turnamen Pramusim Malaysia
- Marc Klok Rindu Persib, Siap Gabung di Bali
- Penyaluran KUR BRI Hingga Akhir Juni 2026 Capai Rp103,81 T Dukung Danantara
- Diperiksa KPK, Bebizie Sebut Hanya Jalani Profesi sebagai Penyanyi
Tahu Fantasy-Ayam Garlic, Menu Ibu Hamil Dibikin Lebih Cantik
Kamis, 13 Agustus 2026 23:07 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polda Sulawesi Tengah tidak menyamakan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa dengan kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui dan balita. Menu untuk ibu hamil dibuat lebih menarik agar tetap menggugah selera dan kebutuhan gizinya terpenuhi
Kepala SPPG Polda Sulteng Aldi mengatakan, kelompok ibu hamil memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda dengan penerima manfaat lainnya. Karena itu, penyajian makanan juga perlu mendapat perhatian.
"Jangan sampai begitu dibuka, ibu hamil tidak mau makan. Karena itu, kami variasikan supaya menjadi makanan tetap menarik," ujar Aldi, kepada Rakyat Merdeka, Kamis (6/8/2026).
Pagi itu, perbedaan menu terlihat dari olahan tahu. Untuk penerima manfaat reguler, tahu disajikan dalam bentuk tahu cincang dengan bumbu kecap. Sementara untuk ibu hamil, tahu diolah menjadi tahu fantasy. Bahan dasarnya tetap tahu. Namun, resepnya ditambahkan telur dan dibuat dengan tampilan yang lebih menarik.
Cara tersebut dilakukan agar penerima manfaat tidak hanya mendapatkan makanan dengan kandungan gizi yang sesuai, tetapi juga tertarik untuk menyantapnya.
Baca juga : SPPG Buka Peluang Kerja Ibu Tunggal Lulusan SD
Upaya mempercantik menu tersebut berkaitan erat dengan tingkat konsumsi makanan. Bagi pengelola SPPG, makanan bergizi tidak akan memberikan manfaat apabila tidak dimakan.
Di SPPG Polda Sulteng, rata-rata tingkat konsumsi nasi mencapai sekitar 95 persen. Konsumsi protein hewani seperti ayam berada di kisaran 96 persen, sedangkan protein nabati seperti tahu dan tempe sekitar 86 persen.
Sayuran menjadi tantangan tersendiri. Tingkat konsumsinya rata-rata masih berada di kisaran 45 hingga 50 persen.
Namun, angka tersebut tidak selalu rendah. Aldi mengatakan, tingkat konsumsi sayuran tertinggi yang pernah dicatat SPPG Polda Sulteng mencapai 87,7 persen. Perbedaannya sangat bergantung pada jenis sayuran yang disajikan.
"Ada yang tingkat konsumsinya bisa mencapai 87,7 persen," katanya.
Baca juga : Barang Cepat Berputar, Omzet Ikut Terdongkrak
Menurut Aldi, Badan Gizi Nasional (BGN) memiliki standar atau passing grade tingkat konsumsi sebesar 85 persen. Jika makanan dikonsumsi minimal 85 persen, menu tersebut dinilai berhasil diterima penerima manfaat.
Sebaliknya, menu dengan tingkat konsumsi di bawah angka tersebut akan dievaluasi. Tim SPPG kemudian mencari cara agar makanan tetap memenuhi kebutuhan gizi sekaligus sesuai dengan selera penerima manfaat.
"Kalau masih di bawah 85 persen, kami di lapangan terus mencari formulasi makanan yang tepat. Pertama, harus tetap bergizi. Kedua, harus sesuai dengan selera anak-anak," jelas Aldi.
Upaya tersebut dilakukan dengan mendengar langsung suara para siswa. Tim SPPG bahkan turun ke sekolah untuk mengetahui makanan yang mereka sukai dan yang kurang diminati.
Dalam salah satu kunjungan, seorang siswa menyampaikan pesan yang menurut Aldi cukup mengena.
Baca juga : Ini Bukti MBG Sarat Gizi Dan Aman Dari Zat Bahaya
"Pak, percuma Bapak bicara gizi kalau kami tidak makan."
Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan MBG tidak cukup diukur dari kandungan gizi dalam makanan. Makanan harus benar-benar disantap agar manfaat gizinya sampai kepada penerima.
"Kalau anak-anak tidak makan, pembahasan soal gizi tidak akan sampai. Bagaimana gizi yang kita sampaikan bisa diterima kalau makanannya tidak dikonsumsi?" ujarnya.
Karena itu, SPPG Polda Sulteng membuka ruang bagi sekolah untuk memberikan kritik, masukan, dan saran mengenai menu. Masukan tersebut kemudian menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan menu berikutnya.
Jika siswa mengusulkan makanan tertentu yang mereka sukai, menu tersebut dapat dimasukkan ke dalam daftar menu yang akan disajikan pada kesempatan berikutnya. Pendekatan tersebut membuat penyusunan menu tidak berhenti pada hitungan kebutuhan gizi. Tim juga memperhatikan pengalaman penerima manfaat saat menyantap makanan.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya