Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Jadi Pelatih Belanda, Xavi Bidik Gelar Piala Dunia 2030
- Erick Thohir Puji Komitmen Prabowo Bangun Prestasi Olahraga
- Marc Klok Rindu Persib, Siap Gabung di Bali
- KUR Mandiri Tembus Rp 25,63 Triliun, 56 Ribu UMKM Naik Kelas
- MBG Berkah Penjual Bumbu & Sayur, Barang Cepat Berputar, Omzet Ikut Terdongkrak
Melihat Cara Kerja SPPG Di Sulawesi Tengah
Ini Bukti MBG Sarat Gizi Dan Aman Dari Zat Bahaya
Kamis, 13 Agustus 2026 07:00 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Soal keamanan pangan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Polda Sulawesi Tengah tak main-main. Setiap hari, empat petugas memeriksa menu Makan Bergizi Gratis (MBG) sebelum dibagikan kepada para siswa. Mereka menguji makanan dari empat zat berbahaya, yakni formalin, sianida, arsenik, dan nitrit. Pengujian ini dilakukan untuk memastikan menu MBG aman dikonsumsi.
Hari masih pagi. Tiga personel kesehatan Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulteng tiba di SPPG Polda Sulteng, Jalan Teratai, Palu. Ketiganya mengenakan seragam polisi lengkap. Satu petugas menggeret koper berwarna cokelat berukuran sedang.
Lima menit kemudian, IPTU dr. Endris Edya Tamboto bergabung dengan tim. “Selamat pagi,” sapanya kepada Rakyat Merdeka yang sudah di lokasi sejak sebelum Subuh.
Endris kemudian memperkenalkan timnya yang seluruhnya berlatar belakang keperawatan. Mereka merupakan bagian dari Tim Food Safety Biddokkes Polda Sulteng yang bertugas melakukan pengawasan keamanan pangan. “Ada lima tim yang bertugas. Jadi setiap hari selalu dilakukan pengujian oleh tim berbeda,” ujarnya.
Baca juga : Ara Percepat Penyediaan Perumahan Untuk Rakyat
Setelah perkenalan, dr. Endris mulai melakukan pengujian. Ia terlebih dahulu mengenakan alat pelindung diri (APD), berupa penutup kepala, masker, dan sarung tangan. Satu petugas membuka koper dan mengeluarkan empat kotak peralatan.
Di dalamnya terdapat reagen, tabung reaksi, dan mangkuk. Petugas lain membawa sampel makanan yang akan diuji.
Mereka kemudian menata seluruh peralatan di atas meja. Tampak empat kotak reagen bertuliskan formalin, sianida, arsenik, dan nitrit. Setelah semuanya siap, pengujian pun dimulai.
Satu petugas mencatat menu yang akan diperiksa. Pagi itu menunya ada nasi putih, ayam garlic, tahu kecap, tumis sayur, dan sepotong semangka.
Baca juga : Hindari Pecah Kongsi, Golkar Dukung Pilkada Tanpa Wakil Kepala Daerah
Pengujian diawali dengan uji organoleptik. Petugas mengamati satu per satu makanan, mulai dari tampilan, aroma hingga kondisi fisiknya. Mereka memastikan tidak ada makanan yang mulai berlendir, berubah warna, atau mengeluarkan bau asam.
Selanjutnya, petugas mengambil sampel dari setiap menu dan memasukkannya ke dalam mangkuk. Sampel kemudian dicampur dengan air untuk mengambil sarinya. Cairan hasil ekstraksi inilah yang selanjutnya digunakan dalam proses pengujian dengan reagen.
Endris menjelaskan, waktu yang dibutuhkan untuk setiap pengujian berbeda-beda. “Untuk formalin, prosesnya sekitar 15 menit. Kalau sianida sekitar dua menit, sedangkan nitrit hasilnya bisa langsung dibaca,” ujar Endris.
Menurutnya, pemeriksaan ini penting karena kondisi fisik makanan tidak selalu dapat menunjukkan ada atau tidaknya zat berbahaya. Makanan yang tampak segar, berwarna normal, dan tidak berbau belum tentu bebas dari kandungan kimia tertentu.
Baca juga : Konsolidasi Se-Provinsi Sumsel, Hanura Bidik 2 Kursi DPR
“Kadang secara kasatmata tidak terlihat. Karena itu, kita perlu membandingkan sampel yang diberi reagen dengan sampel pembanding,” katanya.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya