Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Tim Hukum Febrie: Jawaban Polri dan Kejagung Perkuat Praperadilan
- Rapat 4 Jam di BPKP, Hashim & Ara Bahas Pembentukan Tim Kawal Investasi Qatar
- Tahan Suku Bunga Di 5,75%, BI Fokus Jaga Stabilitas Rupiah
- Penyelundupan 2,6 Ton Sabu Cair Digagalkan, MMB: Kado Indah HUT Kemerdekaan
- Juara Dewata Series, Igor Tolic Puji Mentalitas Skuad Persib
Di Forum BRICS India, Jumhur Pamer 3 Tradisi Lokal Indonesia untuk Hadapi Perubahan Iklim
Rabu, 19 Agustus 2026 06:02 WIB
RM.id Rakyat Merdeka -
Menteri Lingkungan Hidup RI, Jumhur Hidayat, memamerkan tiga tradisi lokal Indonesia yang dinilai sukses menjadi solusi ampuh dalam menghadapi perubahan iklim global. Tiga kearifan lokal tersebut adalah sistem irigasi Subak dan hukum adat Awig-Awig dari Bali, serta praktik konservasi perikanan Sasi Lompa dari Maluku.
Baca juga : BRICS Dorong Penguatan Fondasi Ketahanan Hadapi Tantangan Global
Hal itu disampaikan Jumhur saat memberikan paparan pada Pertemuan Menteri Lingkungan Negara Anggota BRICS di New Delhi, India, Selasa (18/8/2026). Dalam forum yang dihadiri 10 dari 11 negara anggota BRICS tersebut, ia menegaskan bahwa solusi lingkungan berkelanjutan tidak hanya bersumber dari ilmu pengetahuan modern, tetapi juga dari kekayaan pengetahuan tradisional masyarakat adat.
"Praktik-praktik ini membuktikan bahwa hidup selaras dengan alam bukan sekadar warisan budaya, melainkan alat yang ampuh untuk adaptasi dan ketahanan iklim berbasis masyarakat," ujar Jumhur.
Menurut Jumhur, masyarakat lokal adalah pihak pertama yang merasakan dampak perubahan iklim sehingga memiliki wawasan mendalam tentang pengelolaan sumber daya alam. Keberhasilan tradisi Nusantara seperti Subak, Awig-Awig, dan Sasi Lompa menjadi bukti nyata bagaimana kearifan lokal mampu memperkuat ketahanan air, ekosistem, serta pangan secara berkelanjutan.
Kehadiran kearifan lokal ini dinilai sangat krusial bagi Indonesia sebagai negara kepulauan yang berada di garis depan ancaman perubahan iklim. Dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang melimpah—seperti 23 persen hutan mangrove dan 10 persen spesies karang dunia—Indonesia mengintegrasikan kearifan tradisional ini ke dalam Rencana Adaptasi Nasional 2026–2030 guna mendukung Visi Indonesia Emas 2045.
Oleh karena itu, Jumhur menilai forum seperti BRICS sangat penting untuk memperluas tata kelola lingkungan global yang lebih representatif, sebab memberi ruang bagi praktik kearifan lokal dari negara-negara berkembang untuk ikut menjawab tantangan iklim dunia.
Di sisi lain, ia juga menyayangkan sikap sejumlah negara maju ber-ekonomi besar yang justru memilih mundur dari tanggung jawab kolektif mengatasi polusi. Padahal, aktivitas ekonomi negara-negara tersebut masih menyumbang porsi terbesar emisi global saat ini.
Baca juga : KSPSI AGN Gaungkan Suara Buruh Indonesia di Forum BRICS 2026
Pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung selama dua hari ini turut dihadiri oleh jajaran Delegasi RI dari Kementerian Lingkungan Hidup, antara lain Deputi PPI dan TKNEK Ary Sudjianto, Direktur Kebakaran Lahan Dasrul, Tenaga Ahli Menteri Teguh Santosa, serta Kuasa Usaha Ad Interim KBRI New Delhi Yudo Sasongko.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya