Dark/Light Mode

Seruan Menteri Jumhur Dilakukan Taubat Ekologis Jadi Momen Perbaikan Lingkungan

Minggu, 7 Juni 2026 21:49 WIB
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat. (Foto: Ist)
Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Direktur Eksekutif Citra Komunikasi LSI Denny JA, Toto Izul Fatah menilai, ajakan Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, untuk melakukan Taubat Ekologis sangat tepat dan relevan dengan problem lingkungan hidup saat ini.

"Ajakan Pak Menteri Jumhur itu  patut disambut positif. Momennya sangat tepat," kata Toto dalam keterangannya, di Jakarta, Minggu (8/6/2026).

Lebih dari itu, kata Toto yang juga aktivis pengrajin bambu,  istilah Taubat Ekologis yang digunakan Menteri Jumhur tersebut terasa lebih kuat, menyentuh, dan menggugah dibandingkan berbagai jargon lingkungan yang selama ini sering kita dengar.

Menurut Toto, dalam kata taubat tersimpan sebuah pengakuan yang jujur bahwa manusia telah melakukan kesalahan. Bahkan, dalam konteks spiritual, taubat berarti kesediaan mengakui dosa, menyesalinya, menghentikan perbuatan yang salah, serta berjanji tidak mengulanginya.

Karena itu, lanjut Toto, Taubat Ekologis seharusnya dimaknai sebagai pengakuan kolektif bahwa selama ini kita memang telah banyak berdosa terhadap alam.

Toto menyebut dosa kita menebang hutan tanpa cukup memikirkan pemulihannya. Kita juga mengeruk kekayaan bumi tanpa sungguh-sungguh menghitung daya dukung lingkungan. 

Baca juga : Rupiah Melemah Bukan Tanda Krisis, Ekonom Beberkan Alasannya

Bahkan, seringkali sungai dijadikan tempat pembuangan limbah, gunung dikeruk, laut dicemari, lahan produktif dialih fungsikan, dan ruang hidup masyarakat sering dikorbankan atas nama pembangunan.

"Intinya, selama ini alam selama ini lebih banyak dipandang sebagai objek eksploitasi daripada sebagai ruang kehidupan yang harus dihormati dan dijaga," ungkapnya.

Oleh karena itu, Toto berpendapat, ajakan Taubat Ekologis dari Menteri Lingkungan Hidup memiliki pesan yang sangat penting. Ajakan itu seolah mengingatkan bahwa ancaman ekologis yang kita hadapi bukan semata-mata hukuman alam, melainkan konsekuensi dari perbuatan manusia sendiri.

"Banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, pencemaran udara, kebakaran hutan, kerusakan pesisir, dan meningkatnya suhu bumi tidak datang begitu saja. Disitu ada keserakahan, kelalaian, pembiaran, serta kebijakan yang sering kali tidak ramah terhadap alam," tegasnya.

Namun, Toto menjelaskan, sebagaimana taubat dalam pengertian agama, Taubat Ekologis tentu tidak cukup berhenti pada ucapan. Taubat harus dibuktikan dengan perubahan sikap dan tindakan.

Taubat tanpa perubahan perilaku, kata Toto,  hanya akan menjadi kata-kata. Begitu pula Taubat Ekologis tanpa perbaikan kebijakan dan kerja nyata hanya akan menjadi slogan yang indah, tetapi kosong.

Baca juga : Menteri Imipas Nonaktifkan Pejabat Imigrasi yang Jadi Tersangka KPK

Karena itu, menurut Toto, ajakan Jumhur Hidayat harus segera diterjemahkan menjadi langkah-langkah konkret. Misalnya, pemerintah harus berani mengevaluasi izin-izin usaha yang merusak lingkungan, menindak perusahaan pencemar, memulihkan kawasan kritis, serta menghentikan praktik pembangunan yang melampaui daya dukung alam.

Selain itu, dalam pandangan Toto, Taubat Ekologis juga tidak boleh hanya dibebankan kepada rakyat kecil. Jangan sampai masyarakat diminta mengurangi penggunaan plastik dan menanam pohon, sementara industri besar terus membuang limbah, merusak hutan, dan mengeruk sumber daya alam tanpa pengawasan yang tegas.

Toto berpendapat, Taubat Ekologis harus berlaku untuk semua, mulai dari pemerintah, dunia usaha, masyarakat, dan setiap individu.

Pada bagian lain, Toto juga menyambut positif  gagasan menanam dua miliar pohon sebagai langkah yang cerdas dan patut didukung. Penanaman pohon memang menjadi salah satu cara penting untuk memperbaiki tutupan lahan, menyerap karbon, menjaga sumber air, mengurangi risiko banjir dan longsor, serta memulihkan ekosistem yang rusak.

Tetapi, lanjut Toto, angka dua miliar pohon tidak boleh hanya terdengar besar dalam pidato. Publik membutuhkan penjelasan yang terukur. Misalnya, pohon apa yang akan ditanam, di mana lokasinya, berapa luas lahan yang tersedia, siapa yang menanam, siapa yang merawat, dari mana anggarannya.

Sebab, menurut Toto, keberhasilan program penghijauan tidak dapat diukur hanya dari jumlah bibit yang ditanam dalam sebuah seremoni. Ukuran sebenarnya adalah berapa banyak pohon yang masih hidup setelah satu tahun, tiga tahun, bahkan sepuluh tahun.

Baca juga : Tragis, Mantan Kepala BGN Langsung Diborgol Kejagung

Dari pengalaman selama ini, jelas Toto, menanam itu relatif mudah. Yang sulit adalah memastikan pohon itu tumbuh, dirawat, terlindungi, dan memberi manfaat ekologis maupun ekonomi kepada masyarakat.

Begitu pun, pemilihan jenis pohon juga sangat penting. Pemerintah jangan hanya mengejar jumlah, tetapi harus mempertimbangkan kesesuaian dengan kondisi tanah, iklim, ekosistem, dan kebutuhan masyarakat setempat.

Toto mencontohkan, di kawasan sumber air, misalnya, harus ditanam pohon yang mampu memperkuat fungsi hidrologis. Di daerah rawan longsor diperlukan tanaman berakar kuat. Di kawasan perkotaan dibutuhkan pohon peneduh dan penyerap polusi. 

"Sementara di wilayah pedesaan, dapat dikembangkan tanaman produktif yang sekaligus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat," tegasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.