Dark/Light Mode

LDII Harap Muktamar ke-35 NU Jadi Momentum Rumuskan Solusi Kebangsaan

Jumat, 28 Agustus 2026 10:58 WIB
Foto: DPP LDII.
Foto: DPP LDII.

RM.id  Rakyat Merdeka - DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) berharap Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) dapat menjadi momentum merumuskan solusi atas berbagai persoalan kebangsaan sekaligus memperkuat kontribusi umat Islam bagi bangsa dan peradaban.

Ketua Umum DPP LDII Dody Taufiq Wijaya mengatakan, Muktamar ke-35 NU merupakan momentum penting untuk merumuskan respons umat Islam terhadap berbagai tantangan kebangsaan dan perkembangan dunia Islam.

Muktamar ke-35 NU berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.

Menurut Dody, forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi penguatan kehidupan keumatan dan kebangsaan.

“Umat Islam membutuhkan agenda bersama yang tidak berhenti pada persoalan internal organisasi. Tantangan yang dihadapi umat hari ini bersifat lintas sektor. Karena itu, hasil Muktamar NU sangat kami nantikan sebagai solusi persoalan kebangsaan, sekaligus memperkuat kontribusi Islam bagi bangsa dan peradaban," ujar Dody dalam keterangan persnya, Kamis (27/8/2026).

Menurut Dody, tantangan umat Islam saat ini semakin kompleks karena persoalan keagamaan berkelindan dengan perkembangan teknologi, ekonomi, politik, lingkungan, pendidikan, dan perubahan sosial.

Ia menyebut, setidaknya terdapat sejumlah persoalan strategis yang perlu menjadi perhatian bersama organisasi-organisasi Islam di Indonesia.

Dody mengatakan polarisasi sosial dan menguatnya politik identitas menjadi salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Baca juga : Hadiri Muktamar ke-35 NU, AMY: Sejarah NU Adalah Pengabdian Ulama untuk Bangsa

Menurutnya, perbedaan pilihan politik masih kerap terbawa ke ruang sosial dan keagamaan. Jika tidak dikelola dengan baik, perbedaan tersebut dinilai dapat menggerus ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah wathaniyah.

“Perbedaan pilihan politik merupakan bagian dari demokrasi. Yang harus dijaga adalah jangan sampai perbedaan tersebut berubah menjadi permusuhan sosial. Islam memiliki tradisi musyawarah dan adab dalam menyikapi perbedaan,” ingatnya.

Karena itu, menurut Dody, ormas-ormas Islam perlu memperkuat pendidikan kebangsaan, literasi politik, dan budaya dialog.

Para ulama dan tokoh agama juga diharapkan dapat menjadi penyejuk ketika masyarakat menghadapi kontestasi politik.

Persoalan berikutnya adalah derasnya arus informasi digital dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

LDII memandang, transformasi digital, termasuk penggunaan AI, menghadirkan peluang besar bagi pendidikan dan dakwah.

Namun, perkembangan tersebut juga membawa tantangan berupa disinformasi, manipulasi informasi, ujaran kebencian, dan rendahnya literasi digital.

“Dakwah tidak boleh gagap teknologi. Tetapi penguasaan teknologi harus disertai akhlak. Jangan sampai teknologi yang seharusnya menjadi sarana mencerdaskan justru digunakan untuk menyebarkan kebohongan, fitnah, dan kebencian,” ujar Dody.

Baca juga : Gus Lilur Tantang Uji Kitab Kuning, Dorong Pembuktian Secara Terbuka

LDII mendukung NU dan ormas-ormas Islam lainnya membangun ekosistem literasi digital yang melibatkan ulama, akademisi, pendidik, generasi muda, dan praktisi teknologi.

Menurut Dody, materi keislaman juga perlu dikembangkan dalam format digital yang mudah dipahami generasi muda tanpa kehilangan kedalaman keilmuannya.

Dody juga menyoroti ketimpangan ekonomi dan lemahnya kemandirian ekonomi umat. Menurutnya, jumlah umat Islam yang besar harus diikuti dengan peningkatan kapasitas ekonomi.

Tantangannya bukan hanya meningkatkan konsumsi produk halal, tetapi juga menjadikan umat sebagai produsen, pelaku usaha, inovator, dan bagian dari rantai nilai ekonomi.

“Ekonomi umat harus naik kelas. UMKM jangan hanya menjadi objek pemberdayaan, tetapi harus didorong menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional,” tegasnya.

Solusi yang ditawarkan antara lain penguatan pendampingan UMKM, sertifikasi halal, digitalisasi usaha, akses pembiayaan, peningkatan kualitas sumber daya manusia, serta jejaring perdagangan antarpelaku usaha Muslim.

Dody juga menilai, penguatan industri halal perlu diarahkan tidak hanya pada makanan dan minuman, tetapi mencakup kosmetik, farmasi, fesyen, pariwisata, keuangan, hingga ekosistem ekonomi digital.

Selanjutnya, LDII menilai tantangan pendidikan dan kualitas generasi muda perlu menjadi perhatian. Menurut Dody, bonus demografi harus dipandang sebagai peluang sekaligus tantangan.

Baca juga : Gus Hayid Luncurkan Buku 3 Jilid, Bongkar Tantangan NU di Abad Kedua

Jika tidak diimbangi pendidikan berkualitas, karakter, keterampilan, dan ketahanan sosial, jumlah penduduk usia produktif justru dapat menjadi persoalan.

“Generasi muda tidak cukup hanya dibekali pengetahuan agama. Mereka juga membutuhkan sains, teknologi, keterampilan kerja, kewirausahaan, kemampuan berpikir kritis, serta karakter yang kuat,” ujarnya.

Karena itu, lembaga pendidikan Islam dinilai perlu memperkuat integrasi antara ilmu agama, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pendidikan karakter.

Pesantren dan lembaga pendidikan Islam juga diharapkan dapat menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia yang adaptif terhadap perubahan zaman.

Dody turut menyoroti krisis lingkungan dan perubahan iklim. Ia berharap, Muktamar NU mendorong ormas-ormas Islam lainnya menempatkan isu lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.

“Bencana ekologis, krisis air, sampah, degradasi lahan, dan perubahan iklim semakin berdampak terhadap kehidupan masyarakat. Menjaga lingkungan bukan sekadar agenda pemerintah atau aktivis lingkungan. Ini bagian dari amanah manusia sebagai khalifah di bumi,” tegasnya.

Ia mendorong organisasi Islam, termasuk NU bersama ormas-ormas Islam lainnya, mengembangkan gerakan masjid dan pesantren hijau, pengelolaan sampah berbasis masyarakat, konservasi air, penghijauan, serta edukasi mengenai konsumsi dan produksi berkelanjutan.

“Muktamar adalah saat yang tepat untuk melihat persoalan umat dalam perspektif yang lebih luas. Kami berharap keputusan-keputusan yang lahir dapat memperkuat persaudaraan sesama umat Islam, menjaga persatuan Indonesia, sekaligus memberikan kontribusi terhadap perdamaian dunia dan peradaban umat manusia. Selamat bermuktamar untuk ‘saudara tua’ kami Nahdlatul Ulama,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.