Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Gus Rozin Masuk Bursa Ketum PBNU, Didukung Jejaring 5 Poros Pesantren
Kamis, 13 Agustus 2026 13:48 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menjelang Muktamar ke-35 NU semakin menghangat. Salah satu nama yang dinilai memiliki peluang besar adalah KH Abdul Ghaffar Rozin atau yang akrab disapa Gus Rozin.
Muktamar ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur.
Di tengah dinamika pencalonan tersebut, Gus Rozin dinilai memiliki modal jejaring pesantren dan pengalaman organisasi yang dapat menjadi kekuatan dalam kontestasi kepemimpinan PBNU.
Pandangan tersebut disampaikan Mufid Rahmat, kader NU asal Boyolali, melalui sebuah tulisan opini. Ia menilai, Gus Rozin sebagai figur yang tenang, tidak konfrontatif, serta berpotensi menjadi perekat berbagai elemen di tubuh jam’iyah NU.
Menurut Mufid, kemunculan Gus Rozin dalam bursa Ketua Umum PBNU dipandang sebagian kalangan NU kultural maupun struktural sebagai sosok yang membawa harapan baru bagi kebersamaan organisasi.
Ia menyebut, Gus Rozin memilih maju melalui jalur yang disebut sebagai "poros tengah", yakni pendekatan yang bertujuan mempertemukan berbagai kelompok di lingkungan NU, bukan membentuk poros yang saling berhadapan.
Baca juga : Jelang Muktamar ke-35, Tokoh NU Dorong Kepemimpinan Independen dan Inklusif
"Poros tengah adalah poros yang mempertemukan, bukan poros baru yang diametral," tulis Mufid.
Dalam tulisannya, Mufid menilai, NU membutuhkan kepemimpinan yang kuat, tetapi tetap berorientasi pada pelayanan kepada umat.
Ia menyebut, Gus Rozin mengusung lima prinsip kepemimpinan, yakni akhlakul karimah, musyawarah, keadilan, khidmah, dan maslahah.
Kelima prinsip tersebut dinilai relevan dengan tantangan yang dihadapi NU pada awal abad kedua.
Mufid juga menguraikan latar belakang pendidikan Gus Rozin yang disebut memiliki dua basis keilmuan, yakni pendidikan agama di lingkungan pesantren serta pendidikan umum, mulai dari filsafat, tarbiyah, manajemen pendidikan dan kepemimpinan, hingga program doktoral.
Salah satu aspek yang mendapat penekanan dalam tulisan tersebut adalah keterkaitan Gus Rozin dengan sejumlah poros pesantren besar di Indonesia. Jejaring tersebut antara lain Tambakberas dan Denanyar di Jombang, Maslakul Huda di Kajen, Pati, Al-Munawwir Krapyak di Yogyakarta, serta Lirboyo di Kediri.
Baca juga : Ahmad Baso Dorong Penghapusan Larangan Rangkap Jabatan Calon Ketum PBNU
Mufid menilai, jejaring tersebut memperkuat posisi Gus Rozin dalam tradisi pesantren dan lingkungan NU.
Dari sisi organisasi, Gus Rozin disebut memiliki pengalaman panjang di berbagai tingkatan, mulai dari IPNU, GP Ansor, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI), jajaran Katib Syuriah PBNU, hingga saat ini menjabat sebagai Ketua PWNU Jawa Tengah dan Ketua Majelis Masyayikh Kementerian Agama.
Pengalaman tersebut dinilai menjadi modal penting bagi Gus Rozin dalam memahami persoalan internal NU sekaligus merumuskan arah pengembangan organisasi.
Mufid juga menilai, Gus Rozin tidak hanya menawarkan visi yang bersifat normatif, tetapi juga agenda yang dinilai realistis.
Sejumlah agenda tersebut antara lain penguatan Aswaja, khittah, dan qanun asasi; tata kelola organisasi yang transparan; penguatan pendidikan NU dalam ekosistem yang terintegrasi; serta kaderisasi yang sistematis dan profesional.
Selain itu, agenda yang disebut mencakup pengembangan NU Satu Data, penguatan kemandirian ekonomi, serta diplomasi dan kolaborasi NU di tingkat nasional maupun global.
Baca juga : Muktamar NU Harus Lahirkan Ketua Umum Berintegritas dan Independen
Dalam tulisannya, Mufid juga menyinggung sejumlah capaian Gus Rozin selama aktif di lingkungan NU dan Majelis Masyayikh, termasuk keterlibatannya dalam penguatan pendidikan pesantren dan berbagai program kaderisasi.
Ia menegaskan, NU saat ini membutuhkan kepemimpinan yang tidak semata mengandalkan retorika dan janji politik, tetapi memiliki kemampuan mitigasi, penyelesaian masalah, serta semangat pelayanan.
"NU tidak butuh ‘wawu panjang’ (wah), tetapi butuh uswah; pemimpin sekaligus teladan," tulisnya.
Mufid menutup opininya dengan menyatakan bahwa rekam jejak Gus Rozin dinilai berpotensi menghadirkan kepemimpinan yang lebih teduh dan inklusif, sekaligus membawa NU menjadi organisasi yang berdaulat, bermartabat, dan bermanfaat.
Pelaksanaan Muktamar NU ke-35 di Jombang diperkirakan menjadi momentum penting dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU untuk lima tahun mendatang, di tengah berbagai tantangan organisasi, pendidikan, ekonomi, serta peran NU di tingkat nasional dan global.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya