Dark/Light Mode

ASN Terpaksa WFH, Krisis BBM Melanda Makassar

Selasa, 15 September 2026 08:44 WIB
Foto: Pertamina
Foto: Pertamina

RM.id  Rakyat Merdeka - Krisis bahan bakar minyak (BBM) melanda Sulawesi Selatan (Sulsel). Di Kota Makassar, pemerintah daerah bahkan menerapkan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN).

Antrean kendaraan terjadi di sejumlah wilayah, mulai Maros, Gowa hingga Makassar. Sejumlah pengendara bahkan rela menunggu berjam-jam hingga bermalam demi mendapatkan BBM.

Kondisi tersebut terlihat di SPBU 74.902.32 atau SPBU Racing dan SPBU 74.902.31 kawasan Pettarani, Makassar. Antrean didominasi sepeda motor dan mobil pribadi.

Pemkot Makassar memberlakukan WFH bagi ASN pada 14-15 September 2026. Kebijakan itu tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Makassar Nomor 44 Tahun 2026 yang diteken Wali Kota Munafri Arifuddin pada 13 September.

“Untuk 14-15 September 2026, ASN Pemkot Makassar melaksanakan tugas dari rumah secara daring sebagai langkah sementara menyesuaikan kondisi BBM,” tulis akun resmi Pemkot Makassar, @pemkot.makassar.

Baca juga : MT Mauhau Pertamina Evakuasi 16 Korban Virgo Transport 8 ke Basarnas

Pemkot juga sebelumnya menerapkan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi peserta didik PAUD, TK, SD hingga SMP pada 12-19 September 2026. Selama WFH, ASN tetap bekerja secara daring. Unit pelayanan publik juga tetap menyiapkan personel sesuai kebutuhan.

Namun, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian menilai WFH maupun PJJ semestinya diterapkan dalam kondisi darurat yang mengancam kesehatan dan keselamatan. Menurut dia, kelangkaan BBM tidak serta-merta menjadi alasan untuk menerapkan kebijakan tersebut.

“Kalau memang ada, harusnya stok BBM-nya ditambah dulu,” ujar Tito di Jakarta, Senin (14/9/2026).

Pasokan Ditambah

Di tengah antrean, Pemerintah memperkuat pasokan BBM ke Makassar. Kepala BPH Migas Wahyudi Anas mengatakan, stok Pertalite saat ini mencapai 8-14 hari, sedangkan Biosolar 7-12 hari.

Baca juga : Demi Ketahanan Energi, Pertamina Buat Pusat Pengembangan Bioethanol di Lampung

Pengiriman BBM juga dilakukan berkelanjutan dari Kilang Tuban dan Balikpapan. Jumlah SPBU yang beroperasi 24 jam ditambah dari 11 menjadi 25 SPBU, disertai penambahan nozzle dan operator.

Armada mobil tangki juga bertambah dari 83 menjadi 108 unit. Armada dari luar Makassar dikerahkan untuk mempercepat distribusi ke SPBU yang mengalami antrean panjang.

Wahyudi menyebut lonjakan konsumsi menjadi salah satu penyebab antrean. Penjualan Pertalite di Makassar yang biasanya sekitar 800 kiloliter (KL) per hari kini mencapai sekitar 1.300 KL.

Kenaikan konsumsi juga dipicu perpindahan pengguna BBM nonsubsidi ke Pertalite. Secara nasional, konsumsi Pertalite disebut meningkat hingga 11 persen.

Sementara itu, Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Deny Sukendar memastikan, pasokan terus disalurkan. Pertamina bahkan menambah kapal dengan muatan sekitar 16 ribu KL.

Baca juga : Antrean BBM Subsidi Makassar Semakin Landai, 80 Persen SPBU Kondusif

Deny mengatakan, penyaluran BBM ke Makassar mencapai sekitar 1.200 KL pada 11 September, 1.000 KL pada 12 September, dan sekitar 1.300 KL pada 14 September. Angka tersebut hampir dua kali lipat dari kebutuhan normal Makassar yang berada di atas 700 KL per hari.

“Tetap kita salurkan. Jadi tidak ada kita potong 16 kiloliter ke 8 kiloliter,” ujarnya di Polda Sulsel, Senin (14/9/2026).

Meski pasokan ditambah, tingginya penyerapan membuat BBM lebih cepat habis sehingga antrean tetap terjadi. Dugaan adanya konsumen dari luar Makassar yang ikut membeli BBM juga masih didalami bersama kepolisian.

Deny memastikan Pertamina terus memperkuat distribusi untuk mencegah antrean dan kelangkaan kembali terjadi.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.