Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- UGM Pastikan Penanganan Kasus Kekerasan Berbasis Gender Online Adil & Transparan
- Hati-Hati Penipuan Jalur Masuk UI, Warga Semarang Rugi Rp 380 Juta
- Tiga Singa Terkam Narodak, Harry Kane Ikut Cetak Gol
- Marko Dugandzic Jadi Rekrutan Terakhir Bali United
- Jeda Liga Dimanfaatkan Persebaya Buat Genjot Fisik Pemain
Sabar L. Tobing: Profesi Pajak Harus Bersiap Hadapi AI dan Digitalisasi
Rabu, 30 September 2026 10:29 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Perkembangan artificial intelligence (AI) dan transformasi digital akan mengubah cara kerja profesi perpajakan.
Di tengah perubahan tersebut, tenaga profesional pajak dituntut tidak hanya menguasai regulasi, tetapi juga mampu membaca data dan memahami teknologi digital.
Founder & CEO Hive Five Dr. Sabar L. Tobing, SE., MM., Ak., CA., CTL., CTAP., BKP., mengatakan mahasiswa perlu mulai mempersiapkan diri sejak di perguruan tinggi dengan membangun kompetensi, mengembangkan keahlian spesifik, serta menentukan arah karier secara lebih terencana.
Hal tersebut disampaikan Sabar dalam Kuliah Umum Universitas HKBP Nommensen Medan bertajuk “The Future of Taxation: AI, Digital Transformation & The Future of Tax Professionals”, Senin (28/9/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri lebih dari 500 mahasiswa Universitas HKBP Nommensen Medan.
“Dunia terus berubah dengan cepat seiring perkembangan teknologi digital. Generasi muda harus terus beradaptasi dan meningkatkan kompetensi,” kata Sabar.
Menurut Sabar, perubahan dunia kerja membuat lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya mengandalkan latar belakang akademik.
Kompetensi yang unggul menjadi faktor penting untuk membangun daya saing sekaligus meningkatkan nilai profesional seseorang.
Baca juga : Sabar Tobing: Pajak Sehat Dimulai dari Pembukuan dan Administrasi yang Tertib
“Untuk mendapatkan nilai tinggi di dunia kerja, mahasiswa perlu membangun kompetensi yang unggul dan memiliki daya saing,” ujarnya.
Ia juga mendorong mahasiswa memiliki keahlian yang semakin spesifik. Menurutnya, penguasaan suatu bidang secara mendalam dapat menjadi pembeda ketika memasuki dunia profesional.
“Mahasiswa perlu mengembangkan keterampilan yang spesifik dan mendalam agar memiliki keahlian yang kuat di bidang profesional tertentu,” jelasnya.
AI Masuk Sistem Perpajakan
Dalam pemaparannya, Sabar turut menyoroti penggunaan AI dalam sistem perpajakan.
Menurutnya, teknologi AI dapat menjadi alat bantu untuk mendeteksi ketidakwajaran dalam penerapan Self Assessment System, yakni sistem yang memberikan tanggung jawab kepada wajib pajak untuk menghitung dan melaporkan kewajiban perpajakannya.
“Artificial Intelligence berperan sebagai alat bantu untuk mendeteksi ketidakwajaran dalam sistem perpajakan Indonesia yang menerapkan Self Assessment System,” ungkapnya.
Perkembangan digital tersebut, lanjut Sabar, juga membawa tantangan bagi profesi konsultan pajak dan wajib pajak yang harus beradaptasi dengan implementasi Coretax.
Sabar menyebut rasio konsultan pajak saat ini berada pada angka 1:735. Sementara itu, jutaan wajib pajak masih membutuhkan pendampingan dalam proses adaptasi terhadap sistem tersebut.
Baca juga : Melayani Sepenuh Hati: Ketika Teknologi Menjadi Infrastruktur Kepercayaan
“Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap tenaga profesional perpajakan masih besar, terlebih ketika wajib pajak juga harus beradaptasi dengan Coretax,” tuturnya.
Menurut Sabar, perkembangan tersebut sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa yang ingin membangun karier di bidang perpajakan. Namun, kompetensi yang dibutuhkan tidak lagi terbatas pada pengetahuan mengenai regulasi pajak.
Industri, kata dia, membutuhkan lulusan yang mampu menggabungkan kemampuan akademik dengan pemahaman terhadap data dan teknologi digital.
“Perusahaan membutuhkan lulusan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu memahami data dan menguasai teknologi digital,” paparnya.
Sabar juga mengingatkan mahasiswa agar mulai menentukan arah karier sejak dini. Perencanaan tersebut diperlukan agar proses pendidikan dapat diarahkan untuk membangun keterampilan sesuai dengan bidang yang ingin ditekuni.
“Mahasiswa perlu mulai merencanakan dan menentukan arah karier sejak dini sebagai langkah awal mempersiapkan masa depan profesional,” ujarnya.
Selain kompetensi, ia menilai lingkungan pergaulan turut berperan dalam membentuk karakter dan kebiasaan seseorang.
“Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan kebiasaan. Pergaulan yang buruk dapat merusak kebiasaan baik yang telah dibangun,” tegasnya.
Baca juga : Hari Bahasa Isyarat, Wamen Fajar Pastikan Digitalisasi Ramah ABK
Karena itu, mahasiswa perlu membangun lingkungan yang mendukung proses belajar dan pengembangan diri, seiring dengan upaya meningkatkan keterampilan profesional.
Pada kesempatan tersebut, Sabar juga memberikan beasiswa penuh 100 persen hingga lulus kepada mahasiswa terpilih Universitas HKBP Nommensen Medan.
Program tersebut menjadi bagian dari dukungan kepada mahasiswa agar kondisi ekonomi tidak menjadi penghalang dalam memperoleh pendidikan tinggi.
“Kondisi ekonomi bukan menjadi penghalang untuk meraih pendidikan tinggi,” ucapnya.
Sabar menegaskan, perubahan teknologi pada akhirnya menuntut mahasiswa untuk terus meningkatkan kompetensi, membangun spesialisasi, memahami data, dan beradaptasi dengan perkembangan digital agar tetap relevan ketika memasuki dunia profesional.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya