Dark/Light Mode

Riset Evident: Wamen Dan Waka Beri Dampak Positif Bagi Citra Lembaga

Rabu, 7 Oktober 2026 17:34 WIB
Head of Research EVIDENT Institute Antonius Ivan Sudibyo. Foto: EVIDENT Institute
Head of Research EVIDENT Institute Antonius Ivan Sudibyo. Foto: EVIDENT Institute

RM.id  Rakyat Merdeka - Wakil menteri (Wamen) dan wakil kepala badan (Waka) di Kabinet Merah Putih bukan hanya menjadi cadangan menteri atau kepala badan. Sejumlah nama justru dinilai memberi dampak terhadap citra dan kinerja lembaganya.

Temuan itu terungkap dalam riset independen EVIDENT Institute Indonesia bertajuk Kajian Analisis Popularitas dan Sorotan Publik terhadap Wakil Menteri (Wamen) dan Wakil Kepala (Waka) Badan Kabinet Merah Putih Periode 3 September 2025–3 September 2026.

Head of Research EVIDENT Institute Antonius Ivan Sudibyo mengatakan, kajian terhadap 63 tokoh menunjukkan posisi Wamen dan Waka Badan dapat memberikan efek terhadap citra lembaga.

“Dalam negara demokrasi yang menempatkan kebebasan berpendapat, publik secara langsung memberikan penilaian mereka pada para Wamen dan Waka Badan secara organik,” ujar Ivan di kantor EVIDENT Institute, Jakarta Selatan, Rabu (7/10/2026).

Menurut dia, penilaian datang dari pemberitaan media maupun unggahan dan tanggapan masyarakat di media sosial. Namun, sorotan tidak selalu positif. Tindakan negatif seorang pejabat juga dapat menyeret citra lembaganya.

Baca juga : Maung Garuda Premium, Nyaman Dan Antipeluru

Dari 63 tokoh yang dianalisis, EVIDENT menyoroti dua nama dengan portofolio strategis, yakni Todotua Pasaribu, Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), serta Angga Raka Prabowo, Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi).

Todotua dinilai mewakili sisi ekonomi, khususnya investasi, hilirisasi dan penciptaan lapangan kerja. Riset mencatat realisasi investasi nasional 2025 mencapai Rp1.931 triliun, melampaui target Presiden, sementara realisasi hilirisasi tumbuh 43,3 persen.

Pada semester I-2026, pemerintah disebut telah merealisasikan sekitar 1,456 juta tenaga kerja baru dari target sekitar 2,5 juta lapangan kerja. Todotua juga disebut memimpin penerapan skema “fiktif positif” berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2025 untuk mempercepat perizinan usaha.

Menurut EVIDENT, capaian tersebut relatif mudah dilacak karena bersumber dari data resmi institusi.

Sementara Angga Raka dinilai berperan dalam penguatan komunikasi kebijakan pemerintah kepada publik. Saat memimpin Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom), sejak 17 September 2025 hingga 27 April 2026, dia tetap menjabat Wamen Komdigi.

Baca juga : Tokoh Muhammadiyah Apresiasi Buku Dadang Kahmad tentang Masa Depan Agama

Dia juga disebut terlibat dalam agenda perlindungan data pribadi, pemberantasan judi daring, pemanfaatan kecerdasan buatan dalam layanan publik, percepatan regulasi dan transformasi digital.

Namun, EVIDENT mencatat masih ada pekerjaan rumah dalam membangun sentimen publik terhadap pemerintah. Dibutuhkan komunikasi yang setara atau deliberatif untuk menjembatani kebijakan pemerintah dengan masyarakat.

Nama lain yang disorot adalah Giring Ganesha, Wakil Menteri Kebudayaan yang mendampingi Menteri Kebudayaan Fadli Zon. Di bawah kepemimpinan keduanya, Indeks Pembangunan Kebudayaan 2025 disebut mencapai 59,98, melampaui target 58,39.

Giring juga aktif mengikuti perkembangan industri musik nasional, termasuk membawa data Spotify yang menyebut musik Indonesia menguasai 80 persen tangga lagu teratas ke Konferensi Musik Indonesia di Makassar.

EVIDENT mencatat Giring mendorong pemahaman budaya sebagai sumber inspirasi kreativitas dan inovasi generasi muda, dengan platform digital sebagai sarana memperluas ekosistem budaya dan ekonomi kreatif.

Baca juga : Usia Kabinet Tersisa 3 Tahun, Para Menteri Harus Gaspol

EVIDENT menegaskan, tingginya volume pemberitaan tidak otomatis berarti citra publik yang baik maupun kinerja yang tinggi. Kajian itu mencontohkan Immanuel Ebenezer Gerungan, dan pejabat lainnya yang mendapat sorotan terkait persoalan hukum.

EVIDENT merekomendasikan penguatan pengawasan internal pada lembaga baru yang menjalankan program prioritas berskala besar, pembaruan basis data pemantauan mengikuti reshuffle dan perkembangan proses hukum, serta tidak menjadikan volume pemberitaan sebagai ukuran tunggal kinerja.

“Jumlah atau volume pemberitaan bukan indikator kinerja pejabat publik, karena kajian ini menunjukkan bahwa keduanya adalah sumbu yang berbeda dan tidak berbanding lurus,” pungkas Ivan.

EVIDENT menyebut kajian ini bersifat deskriptif dan merupakan penjajakan awal, bukan penilaian kinerja. Data mencakup 392 artikel dari 66 sumber media untuk 63 tokoh selama satu tahun, dengan rata-rata 6,2 artikel per tokoh. Kajian tidak memuat analisis sentimen dan seluruh status hukum tetap tunduk pada asas praduga tak bersalah.

EVIDENT juga mengingatkan hasil penjaringan otomatis dapat berubah serta berpotensi menangkap nama orang lain yang kebetulan sama.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.