Dark/Light Mode

Kota, Garda Terdepan Hadapi Krisis Iklim Global

Minggu, 1 November 2026 17:40 WIB
The 2nd International Conference on Environment, Economic, Education, Social-Humanities, and Technology (ICE3SHT) 2026 digelar oleh Program Studi Magister Manajemen Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Sabtu (31/10/2026). [Foto: Dok]
The 2nd International Conference on Environment, Economic, Education, Social-Humanities, and Technology (ICE3SHT) 2026 digelar oleh Program Studi Magister Manajemen Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Sabtu (31/10/2026). [Foto: Dok]

 Sebelumnya 
Sementara Koordinator Staf Ahli Gubernur DKI Jakarta, Firdaus Ali, yang hadir mewakili Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung, menyoroti kompleksitas persoalan lingkungan di kawasan metropolitan.

Pertumbuhan penduduk dan aktivitas ekonomi perkotaan meningkatkan kebutuhan air bersih, volume sampah, serta emisi dari sektor transportasi. Kondisi tersebut membutuhkan pengelolaan sumber daya yang terintegrasi.

"Pengelolaan lingkungan perkotaan tidak bisa dilakukan dengan kebijakan yang berjalan sendiri-sendiri. Persoalan air, sampah, transportasi, dan perubahan iklim saling berkaitan sehingga membutuhkan perencanaan dan penanganan secara terpadu," menjadi salah satu pesan utama dalam paparannya.

Baca juga : Menteri Jumhur Ajak Serikat Pekerja PLN Selamatkan Ekosistem Hijau Danau Toba

Persoalan lingkungan tidak hanya berkaitan dengan emisi karbon dan pengelolaan sampah domestik. Ancaman kontaminan baru juga menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi ekosistem dan kesehatan manusia.

Prof. Mei Li dari School of the Environment, Nanjing University, Tiongkok, mengangkat persoalan tersebut melalui materi Emerging Contaminants and Environmental Health: From Toxicological Evidence to Sustainable Risk Management.

Dia membahas ancaman kontaminan baru, termasuk mikroplastik dan senyawa organofosfor, serta pentingnya mengelola risiko berdasarkan bukti ilmiah.

Baca juga : Menteri Jumhur Dorong Aksi Lingkungan Berdampak Nyata

Adapun Hyunjeong Jin dari United Nations Environment Programme (UNEP), melalui Coordinating Body on the Seas of East Asia (COBSEA), membahas tantangan pencemaran laut dan pentingnya kerja sama regional.

Dalam paparannya bertajuk Shared Ocean Challenges and Opportunities for Regional Action in the East Asian Seas, ia menjelaskan bahwa sampah plastik laut, kerusakan ekosistem pesisir, dan perubahan iklim merupakan persoalan lintas batas.

"Persoalan pencemaran laut tidak dapat diselesaikan oleh satu negara. Diperlukan kerja sama regional, pertukaran data, pemantauan bersama, dan penguatan kebijakan untuk melindungi ekosistem laut," demikian substansi yang disampaikan Hyunjeong.

Baca juga : KSPSI Imbau Demo Mahasiswa Besok Berlangsung Damai

Melalui COBSEA, sembilan negara di kawasan Asia Timur, termasuk Indonesia, didorong memperkuat koordinasi dalam penanganan sampah laut dan perlindungan lingkungan pesisir.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.