Dark/Light Mode

Sekolah Pancasila Bisa Hadang Isu Menyesatkan

Kamis, 21 Januari 2021 21:01 WIB
Diskusi Sekolah Pancasila. (Foto: ist)
Diskusi Sekolah Pancasila. (Foto: ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) mendorong masyarakat senantiasa menggali nilai-nilai Pancasila. Guna menghadang isu-isu hoaks yang menyesatkan.

Pandangan tersebut mengemuka dalam diskusi virtual nasional "Sekolah Pancasila" dengan tema "Respiritus Pancasila: Dialog Agama dan Negara" pada Kamis (21/1). 

Direktur Pengkajian dan Materi BPIP, Muhammad Sabri mengatakan, salah satu poin utama adalah penegasan Pancasila sebagai ideologi, pandangan-dunia, dan dasar filosofis negara-bangsa Indonesia. 

Berita Terkait : HMI Dukung Langkah Pemerintah Tertibkan Ormas Tak Sesuai Pancasila

"Indonesia tidak mengenal, tidak mengakui, dan tidak menerima konsep ideologi selain Pancasila. Tidak memilih model lain di luar sistem dan bentuk NKRI yang mengandaikan kepelbagaian," ucap Sabri. 

"Hakikat Indonesia adalah cita-cita politik untuk mempersatukan unsur-unsur tradisi dan inovasi serta berbagai etnik, agama, budaya, dan kelas sosial," tandasnya.

Lebih lanjut, hasrat persatuan terdorong secara negatif oleh kehendak menghadapi musuh bersama seperti terorisme, radikalisme, kolonialisme. Sedangkan secara positif, tercipta oleh hasrat untuk mencapai kemerdekaan dan kebahagiaan bersama.

Baca Juga : Kembangin Kereta Api, Kemenhub Gandeng 14 Universitas

"Nilai persatuan memiliki energi yang mendorong dan menguatkan falsafah dan etos budaya gotong royong bangsa Indonesia," tutur Sabri.

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Agama dan Filsafat Iqbal Hasanuddin, M. Hum menambahkan, Pancasila adalah falsafah kenegaraan yang berfokus pada dimensi sosial manusia.

"Relasi agama dan negara tidak akan pernah tampil dalam dua wujud ekstrim yaitu negara-agama atau negara yang anti-agama," ujar Iqbal. 

Baca Juga : Gubernur Kalbar Terima Jenazah Empat Korban Sriwijaya Air Dan Serahkan Santunan Jasa Raharja

Ia menjelaskan, relasi agama dan negara merupakan menara kembar berdiri sama tinggi dan tidak mencampuri urusan masing-masing. 

"Lembaga negara dan lembaga agama saling menghormati otonomi masing-masing. Keduanya mengembangkan sikap toleran satu sama lain," tegas Iqbal. 

Adapun Direktur Rumi Institute, M. Nur Djabir menekankan pentingnya masyarakat untuk menancapkan fondasi, berkomitmen menjaga Pancasila sebagai ideologi. [GO]