Dewan Pers

Dark/Light Mode

Pengamat Tata Kota: Banjir Harus Diterima Sebagai Kenormalan Baru

Senin, 22 Februari 2021 16:11 WIB
Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna. (Foto: Ist)
Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Sejumlah wilayah yang terimbas banjir sejak Jumat (18/2) lalu seperti DKI Jakarta dan beberapa daerah penyangga yakni Depok, Bekasi dan Tangerang, mulai surut. Namun ancaman hujan dengan intensitas tinggi diprediksi masih akan melanda wilayah Jabodetabek.

Pengamat Tata Kota dari Universitas Trisakti Yayat Supriatna menyebut, hal ini harus diterima sebagai kenormalan baru. Pasalnya banjir yang terjadi kemarin memang belum terjadi pasca 10 tahun terakhir. Perubahan cuaca ekstrim dan pemanasan global memang menjadi salah satu penyebabnya.

"Di 2020, intensitas hujan hampir 300 milimeter. Pada 18-19 Februari 2021 kemarin, hujan durasi 6 jam dengan intensitas 150 milimeter sudah membuat banjir. Kondisi hujan ekstrem sebagaimana yang dikatakan BMKG harus diterima sebagai kenormalan baru," kata Yayat saat dihubungi RM.id, Senin (22/2).

Berita Terkait : Pengusaha, Sudah Jatuh Ketimpa Tangga

Namun yang menjadi pertanyaan, apakah penanganan banjirnya juga sudah dilakukan secara ekstrem? Menurut Yayat, apa yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta memang dinilai belum optimal. Terutama pembenahan 13 aliran sungai dan anak sungai yang saat ini sudah tak mampu lagi diandalkan.

Pembenahan, katanya, tak lagi secara mikro tetapi secara makro (luas). Bahkan ia menyebut, pembebasan lahan dari Pemrov di sungai Ciliwung belum selesai, padahal ini sudah sangat mendesak. Selain itu, pemerintah pusat melalui Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane (BBWSCC) Kementerian PUPR, mesti segera menyelesaikan normalisasi sungai.

Pilihannya kata Yayat, mau tidak mau ada relokasi warga, tetapi harus melalui pendekatan yang persuasif, jangan traumatik. Bagaimana penanganan ini dari sebelum dan sesudah pasca banjir.

Berita Terkait : Golkar Berikan Masker, Sembako, Dan Vitamin

"Banjir ini kan ibarat mengobati orang sakit, jangan cuma dikasih nasehat tapi juga diobati," ucapnya.

Jika hal tersebut belum juga dilakukan, maka tak heran banjir langganan akan terus terjadi tiap tahunnya. "Kasihan kalau kayak gini, kayak Kemang kemarin, jelas membuat bisnis properti dan bisnis lifestyle lainnya bisa anjlok, pengusaha nanti mikir usahanya bisa rugi kalau kerendam. Kemang itu kawasan bisnis di daerah rawan bencana," ujarnya.

Tak hanya itu, peringatan BMKG terkait status siaga karena berpotensi terjadi banjir dan bandang akibat hujan lebat dalam periode 22-23 Februari 2021 di 5 provinsi yaitu Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Selatan, harus ditanggapi serius.

Berita Terkait : Pengamat Tata Kota: Sistem Drainase DKI Tak Sanggup Tampung Air Hujan

Pemprov setempat diimbau Yayat, harus meminta informasi data day by day dari BMKG tentang bibit siklon. Sejauh mana bibit tersebut menentukan tingkat ekstrem cuaca hujan yang akan turun.

"Sehingga masyarakat bisa memantau sendiri apakah daerahnya masuk wilayah potensi hujan besar, terpantau dari pemetaan warna mulai dari kuning, merah hingga yang paling ekstrim itu cokelat. Masyarakat bisa ambil tindakan dengan mengungsi atau menyelamatkan barang-barang berharganya terlebih dahulu, mengurangi dampak risiko yang lebih besar," imbaunya. [DWI]