Dark/Light Mode

Dari Nagih Utang BLBI Sampai Teroris Papua

Urusan Mahfud Sangat Njelimet

Sabtu, 5 Juni 2021 07:56 WIB
Menko Polhukam Mahfud MD bersama Menkeu Sri Mulyani berjalan menuju tempat konferensi pers pelantikan Satgas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI, di Aula Mezzanine, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, kemarin. (Foto: Antara)
Menko Polhukam Mahfud MD bersama Menkeu Sri Mulyani berjalan menuju tempat konferensi pers pelantikan Satgas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI, di Aula Mezzanine, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, kemarin. (Foto: Antara)

RM.id  Rakyat Merdeka - Saat ini, Prof Mahfud MD sedang menghadapi urusan yang tak mudah. Mulai dari menumpas teroris di Papua yang tak kunjung selesai, sampai urusan nagih utang Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) yang njelimet, ada di meja Menko Polhukam tersebut.

Kondisi di Papua memang belum juga mereda. Kamis (3/6), teroris Papua melakukan pembakaran sejumlah fasilitas di Bandara Aminggaru, Ilaga, Kabupaten Puncak. Fasilitas yang dibakar itu, di antaranya Tower Air Traffic Controller milik Air Nav dan ruang tunggu. Mereka juga membakar tiga perumahan Dinas Perhubungan di sekitar Bandara Aminggaru dan satu rumah warga.

Saat aparat keamanan datang, mereka melawan. Kontak senjata pun berlangsung selama satu jam. Aparat keamanan sempat mengalami kesulitan mendekati tempat kejadian. Sebab, sekitar bandara merupakan kawasan perbukitan yang masih dipenuhi pepohonan. Tim gabungan pun memutuskan menghentikan sementara kontak senjata.

Alhasil, teroris Papua mampu menguasai bandara Ilaga. "Mereka sudah kuasai bandara. KKB yang kuasai bandara, kami tidak bisa masuk. Kita baku tembak tadi," kata Kapolres Puncak Kompol I Nyoman Punia, Kamis (3/6).

Parahnya lagi, menurut pengakuan pihak teroris Papua, mereka telah menembak mati ajudan Bupati Puncak Willem Wandik. Penembakan dilakukan di kawasan Bandara Ilaga. "Kami tahu ajudan Bupati Wilem Wandik itu anggota militer atau polisi Indonesia, maka kami tembak," klaim Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM), Sebby Sambom dalam keterangan tertulisnya, kemarin.

Kasatgas Humas Operasi Nemangkawi, Kombes Iqbal Alqudusy, menerangkan, kemarin, aparat sudah berhasil mengambil alih bandara. "Pukul 11.30 WIT, pasukan TNI dan Polri berhasil melakukan olah TKP terhadap beberapa bangunan yang dibakar seperti bangunan ATC Bandara Aminggaru Ilaga, pesawat rusak yang terparkir, 2 unit rumah warga sipil, 1 unit excavator,” ucap Iqbal, kemarin.

Saat penyisiran, aparat menemukan dua jenazah dari warga sipil Kampung Nipurolome, Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, atas nama Nelius Kogoya dan Petena Murib. Baru pada pukul 12.15 WIT keduanya berhasil dievakuasi ke Puskesmas.

Meski kondisi Papua sedang Panas, fokus Mahfud MD sedang terbagi. Sebab, mantan Menteri Pertahanan ini juga punya tugas menagih kerugian negara dari para obligor BLBI. Mahfud menjadi komandan juru tagih kasus BLBI. Kemarin, dia melantik Pokja dan Satgas Penanganan Hak Tagih Negara Dana BLBI, di Aula Mezzanine, Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat.

Uang negara yang dinikmati penerima BLBI itu memang sangat besar, mencapai Rp 110,45 triliun. Mahfud meminta para obligor BLBI segera mengembalikan dana itu. Kalau tidak, terbuka kemungkinan mengembalikan penanganan perkara BLBI ke ranah pidana. "Karena kalau dia sudah tak bayar utang atau memberi bukti palsu, atau selalu ingkar, bisa saja dikatakan merugikan keuangan negara," tegasnya.

Mahfud meminta, para obligor dan debitur kooperatif dan proaktif menyelesaikan utang kepada negara. Jika obligor dan debitur tidak kooperatif, kasus BLBI yang ditetapkan saat ini sebagai kasus perdata, dapat beralih menjadi kasus pidana, bahkan korupsi.

"Tidak ada yang bisa sembunyi. Karena daftarnya ada. Jadi, kami tahu, Anda pun tahu. Mari kooperatif saja. Ini bagi negara dan Anda harus bekerja untuk negara," tegas Mahfud, yang ditujukan kepada para obligor BLBI.

Sebelumnya, Mahfud begitu fokus dengan kondisi Papua. Sampai-sampai dia pernah membuat konferensi pers yang seluruhnya membahas tentang Papua. Waktu itu, konpers dilakukan Mahfud setelah mendengar kabar gugurnya Kepala Badan Intelijen Daerah Papua, Mayjen I Gusti Putu Danny Nugraha.

Anggota Komisi III DPR Santoso menyesalkan konsentrasi Mahfud memburu teroris Papua terbagi dengan penanganan kasus BLBI. Menurutnya, untuk memberantas teroris Papua, Mahfud butuh fokus.

Politisi Partai Demokrat ini paham, urusan menagih utang obligor BLBI memang penting. Tapi, urusan penanganan teroris Papua lebih mendesak. "Pemerintah tidak boleh stagnan dalam menyelesaikan hal yang fundamental, karena adanya masalah baru yang muncul," ucapnya, tadi malam. [UMM]