Dewan Pers

Dark/Light Mode

Luncurkan Buku Bung Karno, Guntur: Bangkitkan Nasionalisme Yang Mulai Melempem

Minggu, 6 Juni 2021 20:31 WIB
Putra pertama Presiden Soekarno, Guntur Soekarno. (Foto: Ist)
Putra pertama Presiden Soekarno, Guntur Soekarno. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Putra pertama Presiden Soekarno, Guntur Soekarno akan kembali meluncurkan buku bertajuk BUNG KARNO, Bapakku, Kawanku, Guruku. Buku ini kembali dicetak untuk ketiga kalinya menjawab kegelisahan Guntur Soekarno terhadap gerakan de-Soekarnoisasi di era reformasi.

Dia menilai, saat ini ada kalangan yang masih terus berupaya melakukan de-Soekarnoisasi. Sehingga, perlu pengingat agar rakyat dan juga generasi muda tidak melupakan siapa itu Soekarno.

"Sekarang ini ada sebagian kalangan ingin melakukan de-Soekarnoisasi. Sehingga anak muda sekarang nggak jelas mengenai identitas politiknya, nasionalisme juga melempem, untuk itu, saya pikir perlu ada bacaan yang bisa membangkitkan itu," katanya dalam diskusi virtual, Minggu (6/6).

Guntur menjelaskan, Indonesia saat ini memerlukan indoktrinasi pembinaan watak dan jiwa bangsa. Indoktrinasi telah dihapuskan pada era orde baru. Seharusnya di era reformasi, pembinaan watak dan jiwa bangsa tetap diselenggarakan.

"Jadi jiwa dulu yang dibangun. Watak yang dibangun. Dengan begitu, otomatis rasa patriotisme, nasionalisme, pengenalan pada pahlawan akan timbul, jadi inget lagi. Siapa Pangeran Diponegoro? Siapa Gatot Soebroto," ujarnya.

Dalam buku ini, dia mencoba mengenalkan sosok Soekarno dengan cara paling sederhana. Guntur menuliskan semua pengalaman dirinya dengan Soekarno, sebagai seorang anak, kawan, dan murid.

Berita Terkait : Lewat Inpres, Gubernur Khofifah Yakin Sepakbola Nasional Bisa Maju

"Saya itu menulis artikel nggak pakai referensi, hanya dengan ingatan saja. Apa yang diingat, berdasarkan pengalaman, jadi bentuk artikelnya semacam, Bung Karno ngomong apa saya jawab apa. Jadi tanya jawab," terangnya.

Mencegah Diberedel Orde Baru

Dia menceritakan, buku ini pertama kali diterbitkan tahun 1977. Kala itu, Orde Baru melakukan de-Soekarnoisasi secara masif kepada rakyat dan generasi muda. Untuk mencegah hal tersebut, Guntur menilai, menulis adalah salah satu cara agar ingatan rakyat terhadap sosok Soekarno tidak hilang.

"Kemudian saya berpikir bagaimana ya caranya? Satu-satunya jalan, saya bukan orang partai, ya jalan tulisan. Kalau tulisan kan pertanyaannya mau dimuat di mana? Nah kebetulan ada koran minggu namanya, Simponi, mereka berani muat tulisan tentang Bung Karno," katanya.

Agar pemerintahan Orde Baru tidak mengetahuinya, Guntur memutuskan menulis artikel tentang Soekarno dari sisi human interest. Sebab Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Soeharto kerap melakukan pemberedelan terhadap karya sastra, salah satunya milik Pramoedya Ananta Toer.

Setelah terbit berkala di koran mingguan, tulisan tersebut dirangkum untuk menjadi buku. Untuk lebih amannya, Guntur mengajukan izin kepada pihak kepolisian. Harapannya pemerintahan kala itu tidak memberedel buku tersebut.

Berita Terkait : Luncurin MotionBanking, MNC Bank Bidik 30 Juta Nasabah Baru

"Saya minta ke polda, minta izin menerbitkan kumpulan artikel yang sudah diterbitkan Simponi. Kalau dikumpulkan harusnya tidak ada masalah, jadi saya minta izin dan diberikan. Dan akhirnya buku itu terbit dan laris terjual," jelasnya.

Guntur mengungkapkan, saat ini generasi muda masih sangat tertarik dengan sosok Soekarno. Untuk itu, dia melihat, buku ini akan menjadi asupan terbaik bagi yang ingin tahu lebih dekat dengan sang proklamator.

"Saya sering bertemu anak muda. Ketika saya tanya, kamu kenal enggak sih Bung Karno? Itu proklamator. Menurut kamu bagaimana? Itu Bung Karno orang hebat. Jawaban itu buat saya sudah cukup. Jadi mereka sudah punya keinginan untuk tahu siapa itu Bung Karno," jelasnya.

Dia berharap, kembali hadirnya buku ‘BUNG KARNO, Bapakku, Kawanku, Guruku’ tidak hanya mengingatkan tentang siapa Soekarno. Tapi generasi muda dapat mengetahui bagaimana sikap dan ideologi presiden pertama Indonesia itu.

"Bagaimana caranya generasi muda ini tahu siapa Soekarno dengan cara yang gampang? Dari sisi humanismenya. Sehingga generasi muda mulai akrab lagi. Oh Soekarno tuh gini. Oh Soekarno tuh begitu. Jangan sampai blank enggak tahu," imbau Guntur.

Putri Guntur Soekarno, Puti Guntur Soekarno mengatakan, buku ‘BUNG KARNO, Bapakku, Kawanku, Guruku’ memberikan gambaran sosok Soekarno dengan cara yang mudah. Harapannya generasi muda dapat menerima buku ini dan mengenal lebih dekat siapa Soekarno.

Berita Terkait : Krakatau International Port Tingkatkan Peran RI Dalam Perdagangan Global

"Buku ini bisa menghapus sekat antara Soekarno dan pembacanya. Karena selama ini buku yang diterbitkan itu lebih banyak Bung Karno yang berat. Jadi membacanya harus mempelajari seperti apa pemikiran Bung Karno, seperti ide dan gagasan Bung Karno. Buku ini dinarasikan bagaimana Bung Karno itu sebagai seorang ayah, kawan, dan guru," papar Puti.

Puti menyakini, buku ini akan menghilangkan sekat dengan generasi muda. Sehingga sosok Bung Karno dapat diterima dan masih akan terus diingat sebagai salah satu pendiri bangsa.

"Hari ini kita butuh anak muda untuk tidak melupakan sejarah dan anak muda tidak melupakan siapa pendiri bangsanya. Saya katakan buku ini bisa menghapus sekat, menghapuskan bagaimana anak muda bisa melihat sosok Bung Karno dalam narasi lebih mudah lagi," tandasnya. [MRA]