Dark/Light Mode

Sebulan Menyebar Di 20 Negara

Epidemiolog Minta Pemerintah Waspada Varian Lambda

Jumat, 9 Juli 2021 21:57 WIB
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman. (Foto: Ist)
Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman. (Foto: Ist)

RM.id  Rakyat Merdeka - Epidemiolog Universitas Griffith Australia Dicky Budiman meminta pemerintah mewaspadai penyebaran varian Covid-19, Lambda.

Varian yang telah muncul Desember akhir tahun lalu sudah menyebar di 20 negara dalam sebulan terakhir. "Varian Lambda ditemukan Desember 2020 di Peru. Saat ini dalam status varian yang harus diwaspadai," kata Dicky dalam keterangannya kepada RM.id, Jumat (9/7).

Dicky menyatakan, berdasarkan catatan, varian Lambda dalam sebulan terakhir ini sudah menyebar kurang lebih ke 20 negara. Meskipun, lanjut Dicky, masih harus diteliti apakah kemampuan varian Lambda dalam menginfeksi seganas varian Delta.

Berita Terkait : KPK Terus Kejar Dugaan Penerimaan Suap Eks Penyidiknya Dari Pihak Lain

"Kemudian faktor terhadap vaksin dan terhadap kematian. Ini masih terus diteliti. Belum ada data yang firm. Akan tetapi, tetap waspada, karena ditemukan di Peru yang genom sequency minim," ingatnya.

Dicky melanjutkan, catatan mengkhawatirkan berikutnya dari varian Lambda, selain menyebar di 20 negara dalam sebulan, ternyata varian Lambda menjadi kasus dominan di Peru. Hampir 80 persen kasus di negara Amerika Latin ini terinfeksi varian Lambda.

"Masalahnya di sana angka kematiannya tinggi. Tertinggi di dunia. Yakni 3.094 kematian per 1 juta. Sudah lebih 0.5 persen warga Peru yang meninggal karena Covid-19. Angka 0.5 persen saja, dibanding korban di Inggris saat flu Spanyol 100 tahun lalu, lebih tinggi di Peru. Ini jadi kewaspadaan," paparnya.

Berita Terkait : Sahroni Minta Polri Tindak Tegas Warga Bandel

Karenanya, lanjut Dikcy, pemerintah wajib melakukan 4 strategi pengendalian pandemi. Pertama yakni testing, tracing, dan treatment atau 3T. Kedua vaksinasi 85 persen populasi.

Ketiga pembatasan mobilitas yang tak hanya dilakukan di dalam negeri, tetapi di pintu masuk kedatangan luar negeri dan komunitas. Keempat, visitasi atau kunjungan rumah.

"Kasus infeksi di negara berkembang mayoritas berada di rumah-rumah. Harus ada program kunjungan rumah. Yang bisa menemukan kasus sedini mungkin dan akan mencegah kematian karena keterlambatan diagnosa dan penanganan," pungkasnya. [SAR]