Dewan Pers

Dark/Light Mode

Migor Curah Akan Dihapus

Sebaiknya Fokus Kendalikan Harga

Rabu, 15 Juni 2022 07:55 WIB
Pemerintah berencana menghapus minyak goreng (migor) curah lantaran kurang higienis. (Foto: Rizki Syahputra/RM)
Pemerintah berencana menghapus minyak goreng (migor) curah lantaran kurang higienis. (Foto: Rizki Syahputra/RM)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemerintah berencana menghapus minyak goreng (migor) curah lantaran kurang higienis. Nantinya, minyak goreng curah akan dibungkus dengan kemasan sederhana.

Anggota Komisi VII DPR Mulyanto menolak wacana penghapusan migor curah yang disampaikan Menteri Kooordinator Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. Pemerintah disarankan fokus mengendalikan ketersediaan dan harga migor baik curah maupun kemasan.

“Bukan justru melempar isu yang berpotensi menimbulkan masalah baru,” ujar Mulyanto dalam keterangannya, ke­marin.

Mulyanto bilang, Pemerintah kudu menggunakan segenap energinya untuk melaksanakan kebijakan, program, dan upaya pengendalian migor.

“Bukan bikin kebijakan baru. Jangan juga pindah fokus ke ekspor Crude Palm Oil (CPO) dan turunannya, pengosongan tangki CPO, dan lain-lain,” kritik politikus PKS ini.

Berita Terkait : Adakan Penyuluhan, Pertamina EP Dukung Penganggulanan Stunting

Sampai hari ini, kata dia, migor curah masih langka dan mahal di atas Harga Eceran Tertinggi (HET). Berbagai janji Pemerintah termasuk janji Presiden Jokowi untuk menurunkan harga migor dalam dua pekan belum terbukti.

Menurutnya, masalah migor tersebut sudah terjadi berlarut-larut dan berganti-ganti kebijakan. Meski begitu, permasalahan hingga kekinian tak kunjung usai.

“Masa Indonesia, kalah dengan mafia migor. Jadi tidak usahlah Pemerintah beralih ke fokus lain atau kehilangan fokus,” saran dia.

Dia menyarankan, persoalan migor diserahkan kepada pemerintahan berikutnya bila para menteri tidak mampu menyelesaikannya. Karena sebagian anggota kabinet juga sudah siap-siap maju ke Pilpres 2024.

 

Sebaliknya, Direktur Eksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNl) Sahat Sinaga menilai, migor curah ini bermasalah. Sebab, ada potensi migor curah tumpah sebanyak 5-7 persen selama dalam perjalanan menuju konsumen.

Berita Terkait : Sebaiknya Ganjar Merendahkan Hati

Dengan kondisi Indonesia yang negara kepulauan, distribusi minyak goreng dalam bentuk curah dinilai tidak efisien. Pasalnya, proses perpindahan migor curah bisa berputar ke mana-mana.

“Dari truk ke kapal, pindah ke jeriken, pindah lagi ke plastik,” kata dia.

Sahat menambahkan, migor curah juga rentan dicurangi dengan modus mengolah kembali dengan minyak jelantah. Belum lagi, migor curah tidak memiliki jaminan halal. Sehingga jika diwajibkan dalam kemasan, diharapkan status kehalalan migor menjadi lebih jelas.

Hanya saja, kata Sahat, harga migor dalam kemasan nantinya setelah pelarangan curah akan di atas Rp 14 ribu per liter atau di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan Pemerintah. Sebab, adanya tambahan biaya untuk pengemasan. “Harga migor kemasan diprediksi Rp 15.500 per liter,” sebut Sahat.

Sahat mengatakan, minyak goreng dalam kemasan baru bisa direalisasikan dalam waktu 6 bulan ke depan. Sebab, Pemerintah tengah memberlakukan kebijakan wajib pemenuhan domestik (Domestic Market Obligation/DMO). “Jangan dikebut dalam tempo 2-3 bulan,” wanti-wanti Sahat.

Berita Terkait : Sandiaga Uno Kenalkan 3G ke Mahasiswa

Belum lagi, kata dia, butuh waktu untuk pengadaan mesin pengemasan minyak goreng termasuk ukuran yang akan tersedia di pasar.

Program ini juga menyangkut sekitar 2 juta ton migor curah per tahun, sehingga harus dipersiapkan dengan baik. ■