Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Senayan menyoroti kasus gagal ginjal anak akibat diabetes yang meningkat signifikan setiap tahunnya. Pemerintah diminta membendung penyakit gagal ginjal ini, mengingat dampaknya yang sudah sangat luar biasa dan mengancam generasi bangsa.
Anggota Komisi IX DPR Dewi Asmara mengatakan, marakanya kasus cuci darah pada anak tidak bisa dipandang enteng. “Mohon maaf ini saya meminta kepada Pemerintah agar tidak mengecilkan permasalahan cuci darah ini. Angkanya menurun memang bagus, tapi akar permasalahannya apa sampai sekarang tidak diketahui,” tegasnya di Jakarta, kemarin.
Dewi mengatakan, kalau melihat penelitian kesehatan tahun 2023, prevalensi diabetes pada anak ini meningkat 70 kali lipat dalam kurun waktu tahun 2000 sampai dengan tahun 2010. Sementara data terkini tahun 2023, jumlah anak yang mengalami gagal ginjal sebanyak 3.421 anak, sementara di tahun 2024 sementara sebanyak 1.994 anak.
Dia bilang, maraknya kasus tersebut bukan sekadar masalah angka. Mereka merupakan generasi penerus bangsa yang mesti diselamatkan. Karena, kasus gagal ginjal memerlukan perawatan seumur hidup. “Jadi ini bagaimana negara hadir dan memastikan bahwa mereka mendapat perawatan sehingga tetap produktif dan bagaimana pencegahannya ke depan,” tegasnya.
Dia juga mengingatkan pentingnya pengetatan konsumsi makanan dan minumat berpemanis, terutama kebijakan lintas kementerian terkait. Mengingat kebijakan Pemerintah mendatang akan ada pemberian makanan bergizi di sekolah.
Baca juga : Kondisi Ekonomi Yang Stabil Masih Jadi Magnet Investor
Dia tidak ingin, di saat Pemerintah terus menggelontorkan anggaran untuk makanan sehat bagi anak dan ibu hamil, di satu sisi, pengetatan makanan dan minuman berpemanis ini tidak ada pengaturannya.
Hal senada dilontarkan anggota Komisi IX DPR Netty Prasetyarini. Menurutnya, kasus cuci darah pada anak ini erat kaitannya dengan pola makan atau asupan gizi yang kurang tepat pada anak-anak. Namun masalahnya, Pemerintah terkesan menyalahkan masyarakat atas kasus tingginya kasus diabetes ini.
Dia lalu mengungkap rapat kerja Panitia Kerja (Panja) Pengawasan Produk Pangan Olahan dan Pangan Siap Saji dengan Kandungan Gula, Garam, dan Lemak (GGL). Perwakilan Pemerintah saat itu menyebut jika tingginya konsumsi gula itu bukan hanya berasal dari produk-produk makanan dan minuman, tapi juga proses pengolahan makanan yang disajikan keluarga di rumah.
“Jadi kan ini narasinya sudah berbeda. Padahal Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah mengajak, ayo bagaimana meningkatkan upaya promotif dan preventif. Tapi yang bergerak di bidang industri, perdagangan, menganggap itu sebetulnya kesalahan keluarga,” sesalnya.
Dia bilang, harusnya narasi terhadap produk makanan kandungan GGL ini sama antara kementerian dan lembaga. Apalagi bicara tentang peningkatan kasus cuci darah ini sangat memprihatinkan karena jumlah penderitanya sangat miris.
Baca juga : Ekosistem Kendaraan Listrik Bakal Melesat
“Jadi bayangkan anak dari Bekasi, setiap dua kali sepekan ke rumah sakit Pemerintah (untuk lakukan cuci darah). Sementara orang tuanya dari kalangan tidak mampu. Tentu ini juga menjadi keprihatinan kita semua,” tegasnya.
Dia bilang, tugas membendung kasus gagal ginjal ini tidak hanya diserahkan ke Kemenkes. Sementara, kementerian dan lembaga lainnya tidak memiliki narasi dan komitmen perlindungan yang sama.
“Jadi Kemenkes ini jangan seperti pemadam kebakaran, memadamkan apinya. Sementara di sana apinya dinyalakan lagi, seperti itu. Atau seperti ambulans, mengangkut orang sakit sementara sebab-sebab sakitnya tetap didatangi,” tambahnya.
Menanggapi itu, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, kasus gagal ginjal anak sekarang terdeteksi lebih banyak karena tingginya screening yang dilakukan. Dalam kurun waktu 6 bulan ini saja, jumlah masyarakat yang di-screening sudah meningkat lebih sampai 40 juta orang.
Kasus gagal ginjal pada anak ini, lanjutnya, terjadi karena penanganan yang sudah telat. Penderitanya kemungkinan besar sudah berada di stadium empat atau lima. Penyakit gagal ginjal akibat diabetes ini punya beberapa tahapan, dari stadium I hingga stadium kronis. Begitu juga penanganannya, berdasarkan per stadium, hingga paling parah, cuci darah sampai transplantasi ginjal.
Baca juga : Warga Jakarta Kesulitan Mendapatkan Air Bersih
Menkes menyebutkan, kasus gagal ginjal ini lebih disebabkan penyakit metabolic diabetes. Namun untuk kasus pada anak ini, sebenarnya diabetesnya masih bisa dikontrol. “Yang ditangani itu bukan ginjal ginjal anaknya, tapi diabetesnya harus dijaga sejak dini. Jadi promotif preventif,” ujarnya.
Dan salah satu program yang kini Kemenkes sedang dikaji, sebut Menkes, adalah pemberian insulin pada anak. Program ini dilakukan mempertimbangkan bahwa kasus diabates pada anak ini kemungkinan besar diabetes tipe 1. Diabetes yang harus ditangani dengan pembelian insulin seumur hidup.
“Kalau memang terjadi banyak diabetes tipe 1 di anak-anak, kita mesti mengeluarkan kebijakan pemberian insulin ke mereka. Itu ada dampak di BPJS-nya, ada dampak juga di penyediaan insulinnya,” sebutnya.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Minggu, 1 September 2024 dengan judul Kasus Gagal Ginjal Pada Anak, Hindari Makanan Berpemanis
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya