Dark/Light Mode

Kasus Pabrik Uang Palsu Di Makassar

Usut Tuntas, Tangkap Pelaku & Jaringannya

Selasa, 24 Desember 2024 07:15 WIB
Anggota Komisi III DPR Rudianto Lallo
Anggota Komisi III DPR Rudianto Lallo

RM.id  Rakyat Merdeka - Senayan menyoroti kasus pabrik uang palsu di lingkungan kampus Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel). Aparat penegak hukum diminta bertindak tegas dan menangkap seluruh pelaku dari jaringan uang palsu ini.

Anggota Komisi III DPR Rudianto Lallo mengatakan, uang palsu (upal) yang sudah terlanjur beredar di masyarakat sudah sangat meresahkan. Pemerintah bersama Polda Sulsel dan Bank Indonesia (BI) mesti menarik seluruh uang palsu ini memikirkan ganti rugi buat kor­ban penerima uang palsu.

“Ini kan sudah banyak bere­dar dan banyak ditemukan di pelosok-pelosok. Nah ini harus ditarik lalu dimusnahkan dan dipikirkan cara penggantian­nya. Apalagi, uang (palsu) ini dimiliki orang-orang kecil. Kasi­han mereka telah menjadi korban peredaran uang palsu ini,” tegas Rudianto saat dihubungi, Senin (23/12/2024).

Politisi Fraksi Nasdem ini juga mendorong Bank Indonesia (BI) untuk lebih masif lagi melakukan sosialisasi ke masyarakat agar bisa lebih membedakan antara uang asli dan uang palsu. Dia juga mendesak aparat penegak hukum segera menangkap AAS, pengusaha yang diduga menjadi otak kejahatan dan masih ber­status buron atau masuk Daftar Pencarian Orang (DPO).

Baca juga : BSI Optimistis Kinerja Tumbuh Double Digit

Menurutnya, keterangan AAS sangat penting untuk mengung­kap siapa pun yang terlibat dalam peredaran uang palsu untuk dimintai pertanggungjawaban. Polda Sulsel, khusus­nya Polres Gowa, diminta segera mengungkap kasus ini hingga ke akar-akarnya.

“Kami di DPR akan melaku­kan pengawasan sampai tuntas terhadap kasus ini. Dan kami berharap ada efek jera dengan memakai pasal-pasal memberat­kan karena dampaknya ini sudah sangat meresahkan,” tegas ketua DPRD Kota Makassar 2019-2024 ini.

Dia menegaskan, kasus ini tidak boleh dianggap remeh. Sebab potensi dampak yang ditimbulkan bisa menyebabkan in­flasi di masyarakat. Banyaknya uang beredar bisa berakibat pada stabilitas ekonomi negara. Apalagi uang palsu jaringan UIN Gowa ini presisinya luar biasa karena sangat mirip dengan uang asli.

“Bayangkan bisa masuk di ATM. Tidak terdeteksi. Ini berarti kejahatan canggih dan ironisnya, ini sudah berlangsung 14 tahun. Berarti sudah banyak uang yang beredar. Sekarang kita dorong polisi mengungkap itu setuntas-tuntasnya,” tegasnya.

Baca juga : Rosan Raih Komitmen Investasi Rp 120 Triliun

Rudianto mengaku, kasus uang palsu dari jaringan UIN Gowa ini sangat mengejutkan dan jauh dari dugaan. Sebab pabrik uang palsu ini justru ter­jadi di lembaga pendidikan yang notabene merupakan lembaga yang seharusnya menjadi tem­pat untuk mencerdaskan anak bangsa, malah menjadi tempat terjadinya praktik kejahatan.

“Lembaga pendidikan yang seharusnya mencetak insan-insan berakhlak mulia dan ber­budi pekerti, kini malah terlibat dalam praktik pembuatan uang palsu. Ini sangat memprihatinkan,” ujarnya prihatin.

Hal senada dilontarkan anggota Komisi XI DPR Tommy Kurniawan. Dia berharap BI segera melakukan operasi uang palsu yang sudah banyak beredar di masyarakat. Terlebih pabrik uang palsu itu sudah beroperasi sejak 14 tahun lalu. “Sudah cu­kup lama pabrik itu beroperasi. Berarti uang palsu sudah beredar luas di masyarakat,” terangnya.

Anggota DPR dari Dapil Jawa Barat V itu mengatakan, BI ha­rus bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melacak ke mana saja uang beredar. Dae­rah mana saja yang selama ini menerima uang palsu. “Dari ha­sil pemeriksaan, para tersangka mungkin sudah menyebut lokasi peredaran uang palsu,” ujarnya.

Baca juga : Harga Cabe Dan Daging Melejit

Menurutnya, data dari polisi bisa digunakan BI untuk melaku­kan penelusuran dan operasi uang palsu. Melihat lamanya pabrik uang palsu beroperasi, ti­dak menutup kemungkinan uang palsu tersebut banyak digunakan masyarakat bertransaksi.

Di satu sisi, tidak semua ma­syarakat mengetahui bahwa uang tersebut palsu lantaran tidak melakukan pengecekan se­hingga tidak mengetahui bahwa uang yang mereka gunakan adalah uang palsu.

“Jaringannya jelas sangat luas. Ini yang harus ditelusuri dan diusut tuntas. Yang paling dirugikan adalah masyarakat,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.