Dark/Light Mode

Wabah PMK Kembali Mengganas

DPR: Kementan Jangan Lengah

Senin, 13 Januari 2025 07:15 WIB
Anggota Komisi IV DPR drh. Slamet. (Foto: Dok. PKS)
Anggota Komisi IV DPR drh. Slamet. (Foto: Dok. PKS)

RM.id  Rakyat Merdeka - Senayan menyoroti mengganasnya Wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di sejumlah sentra peternakan. Pemerintah diminta jangan lengah mencegah munculnya kembali penyakit yang sangat menular bagi hewan ternak ini.

Anggota Komisi IV DPR drh. Slamet mengatakan, se­jumlah wilayah Jawa Timur terpaksa menutup pasar hewan­nya untuk mencegah penularan yang lebih luas dari wabah ini. “Sejak Indonesia belum kem­bali dinyatakan sebagai negara bebas PMK, maka PMK akan tetap ada di Indonesia,” kata dia kepada Rakyat Merdeka, Sabtu (11/1/2025).

Seharusnya, kata politisi Fraksi PKS ini, Pemerintah tetap waspada terhadap kemunculan wabah PMK ini. Apalagi saat ini peternak baru mulai bangkit dari wabah PMK yang menyerang dan menyebabkan kematian ribuan hewan ternak pada tahun 2022 lalu.

Namun sayangnya, Pemerin­tah justru lengah dalam meng­hadapi wabah yang sangat mena­kutkan di banyak negara ini. Hal ini terlihat dari program vaksinasi yang tidak berlanjut. “Bahkan saya lihat anggaran vaksinasi PMK 2025 tidak ada sama sekali,” katanya.

Ironisnya, lanjut dia, Pemerintah malah berencana melaku­kan impor sapi di tengah wa­bah PMK. “Ini Pemerintah sudah kurang antisipatif, malah mengeluarkan kebijakan-ke­bijakan yang membuka ruang untuk memperparah kondisi yang terkait dengan PMK,” ujarnya .

Baca juga : Berjumlah 1 Juta Agen, Ini Dampak Ekonomi Dan Sosial Keberadaan AgenBRILink Milik BRI

Slamet mengingatkan, Pemerintah harusnya menempuh kebijakan yang sangat hati-hati terhadap kebijakan impor sapi ini. “Pengakuan Brasil bebas PMK itu baru sepihak. Belum ada pengakuan dari Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (World Organisation For Animal Health /WOAH),” pungkasnya.

Sebagaimana diketahui, wa­bah PMK kembali mewabah di sejumlah sentra peternakan di Pulau Jawa. Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Jawa Barat mengungkapkan, periode 28 Desember 2024 hingga 9 Januari 2025, kasus PMK menu­lar ke 1.112 hewan ternak. Se­banyak 52 ekor mati, 51 ekor dipotong bersyarat, 111 ekor sembuh, 898 kasus aktif, dan 764 hewan diduga terpapar PMK.

Sementara di Jawa Tengah, dilaporkan sebanyak 2.300 ekor sapi terinfeksi PMK dan se­banyak 50 ekor sapi lainnya dilaporkan mati.

Sedangkan di Jawa Timur lebih parah lagi. Tiga pasar hewan di beberapa sentra peter­nakan di Jawa Timur menutup pasar hewan untuk mencegah penyakit PMK ini. Tercatat sejak 1 Desember 2024 sampai 10 Januari 2025, terdapat 11.317 sapi yang terinfeksi PMK, di mana 22 persen sembuh, 70 persen proses penyembuhan, dan sisanya mati dan dipotong paksa. Yogyakarta tengah mem­pertimbangan untuk menetapkan situasi darurat karena wabah PMK ini.

Sementara, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kemen­tan Agung Suganda menjamin ketersediaan daging sapi dan kerbau untuk kebutuhan bulan Ramadan dan Idul Fitri 1446 H/2025 Masehi dalam kondisi aman. Walau kasus PMK merebak di sejumlah sentra sapi, tidak akan membuat stok daging sapi selama Ramadhan terganggu.

Baca juga : Jalani Hidup Sehat, Pakai Masker Dan Cuci Tangan

“Pemerintah menjamin bahwa ketersediaan daging untuk bulan puasa maupun Lebaran 2025 Insya Allah tercukupi,” kata Agung.

Agung mengakui terjadi peningkatan kasus PMK di wilayah Indonesia, tapi jumlahnya masih jauh lebih kecil apabila dibandingkan ketika wabah PMK merebak pada tahun 2022.

Terpisah, Kepala Badan Karantina Indonesia (Baran­tin) Sahat Manaor Panggabean memastikan tindakan karantina terhadap impor sapi bakalan dari Australia. Pengasingan dan pengamatan dilakukan selama kurang lebih 14 hari sejak ke­datangan. Sapi-sapi impor terse­but tidak diperbolehkan keluar atau didistribusikan sebelum masa karantinanya selesai.

“Ini kita lakukan semua sama ya, intinya kita lakukan tindakan karantina untuk memastikan ternak tersebut sehat, tidak ada penyakitnya, misalnya PMK dan LSD,” ungkap Sahat.

Menurutnya tindakan karantina yang dilakukan oleh Barantin terhadap importasi sapi hidup dilakukan secara hati-hati dan menyeluruh yang meliputi tahapan pre border, at border, dan post border. Selain tindakan karantina, seluruh populasi sapi impor tersebut juga dilakukan vaksinasi serta penerapan biosekuriti di IKH yang ketat.

Baca juga : Real Sociedad Vs Villarreal, Misi Perbaiki Klasemen

Dari data Barantin, pema­sukan sapi bakalan Australia pada tahun 2024 adalah se­banyak 487.452 ekor. Sapi ini masuk melalui Pelabuhan Tan­jung Priok, Pelabuhan Panjang, Pelabuhan Belawan, Pelabuhan Tanjung Perak. Dan, tidak ter­dapat kasus penyakit PMK.

Perlu diketahui PMK meru­pakan salah satu penyakit menu­lar pada hewan yang paling dita­kuti oleh semua negara di dunia. Penyebaran PMK pada hewan ternak berjalan dengan sangat cepat dan mampu melampaui batas wilayah negara. Dampak yang ditimbulkan berupa keru­gian ekonomi karena menyebab­kan penurunan produksi daging dan susu, serta menghambat perdagangan hewan ternak dan produk hewani. [KAL]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.