Dark/Light Mode

Media Sosial Bisa Picu Bunuh Diri

Jaga Kesehatan Mental Anak!

Selasa, 18 Maret 2025 07:10 WIB
Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa dalam acara Dialektika Demokrasi di Gedung Parlemen, Kamis (13/3/2025). (Foto: Dok. DPR RI).
Anggota Komisi X DPR RI, Ledia Hanifa dalam acara Dialektika Demokrasi di Gedung Parlemen, Kamis (13/3/2025). (Foto: Dok. DPR RI).

 Sebelumnya 
Karena itu, Ledia berpandangan, memperkuat literasi digital anak tidak bisa serta merta dilakukan. Untuk literasi baca tulis saja, seharusnya didesain oleh Pemerintah mulai kelas 2 SD, dengan menguasai beberapa ribu kosakata sampai kelas 6 SD, SMP, dan SMA. Anak-anak harus mampu memahami arti kata-kata dan juga persoalan-persoalan yang mungkin muncul dari hal-hal yang sifatnya tertulis. “Karena komunikasi tertulis dengan komunikasi lisan itu sangat berbeda. Nah ini PR yang belum terselesaika,” ujarnya.

Ledia menilai, perlu juga melihat sejauh mana pendampingan terhadap perkembangan literasi anak ini. Memang sudah ada assesment nasional yang mengukur literasi baca dan literasi numerik. Tetapi, hasil evaluasi dan follow up-nya terkadang tidak ditindaklanjuti. Bahkan ada kecenderungan orang tua melepaskan hasil evaluasi literasi baca dan numerik ini. Sehingga, ketika teknologi berubah, terjadi gap yang luar biasa besar antara pemahaman literasi baca tulis dan literasi digital.

Baca juga : Top, Nilai Merek BRI Peringkat Satu Di RI

“Anak-anak punya keterbatasan dalam pengetahuan kemampuan. Perkembangan kognisinya juga terbatas. Tiba-tiba dia harus berhadapan dengan hal-hal yang betul-betul di luar di luar kendali dia. Jangankan anak-anak, orang dewasa saja tidak akan sanggup mengatasi itu,” sebutnya.

Oleh karena itu, Ledia mendorong agar kesehatan mental anak benar-benar diperhatikan. Apalagi saat ini, tidak ada yang dapat mengukur seberapa kuat kesehatan mental anak ketika menghadapi hal-hal yang diakibatkan rendahnya literasi digital.

Baca juga : 66 Pelaku Usaha Nakal MinyaKita Kena Sanksi

“Karena mental health tidak terukur, kita mengkhawatirkan terjadi kasus-kasus bunuh diri. Bukan karena kejahatan seksual, bukan karena perundungan digital, tapi justru cuma gara-gara ada yang unfollow,” ujarnya.

Oleh karena itu, ketahanan keluarga harus sangat diperhatikan. “Jadi, orang tua nggak bisa melepas anak begitu saja berinteraksi dengan media sosial,” tambahnya. KAL

Baca juga : CKG Boleh Kapan Saja, Tak Usah Tunggu Ultah

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 8, edisi Selasa, 18 Maret 2025 dengan judul "Media Sosial Bisa Picu Bunuh Diri Jaga Kesehatan Mental Anak!"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.