Dark/Light Mode

Fraksi Golkar Kaji Sistem Pemilu, Sarmuji: Perlu Diagnosis Sebelum Ubah Sistem

Kamis, 15 Mei 2025 12:50 WIB
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI Muhammad Sarmuji. (Foto: Dokumen Pribadi)
Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI Muhammad Sarmuji. (Foto: Dokumen Pribadi)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI Muhammad Sarmuji menyoroti evaluasi menyeluruh terhadap sistem pemilu Indonesia dalam sebuah Focus Group Discussion bertajuk “Sistem Pemilu” yang diselenggarakan di Kompleks DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu (14/5/2025).

Diskusi yang menghadirkan sejumlah pakar, seperti Dr. Muh. Nurhasim (peneliti Pusat Penelitian Politik BRIN), Ahmad Doli Kurnia Tandjung (Wakil Ketua Baleg DPR), dan Zulfikar Arse Sadikin (Wakil Ketua Komisi II DPR RI), serta Wakil Ketua Umum Partai Golkar Idrus Marham sebagai penanggap, membahas tantangan sistem pemilu proporsional terbuka dan kemungkinan adopsi sistem campuran.

Menurut Sarmuji, sistem proporsional terbuka yang kini diterapkan sejatinya merupakan respons terhadap permasalahan dari sistem pemilu sebelumnya yang bersifat tertutup. Namun, sistem terbuka juga menuai kritik karena dinilai mendorong tingginya biaya politik dan maraknya praktik politik uang.

Baca juga : Fraksi Golkar DPR: Hilirisasi Tingkatkan Daya Saing Bangsa

“Persoalan yang kita hadapi sekarang adalah hasil dari solusi masa lalu; today's problem come from yesterday's solution. Pertanyaannya, apakah benar sistem terbuka otomatis memicu politik uang? Dan apakah sistem tertutup menjamin hilangnya praktik itu—atau malah hanya memindahkan locus dari masyarakat ke elite partai, atau biaya-biaya lain seperti iklan politik?” ujar Sarmuji.

Ia menegaskan pentingnya diagnosis yang akurat sebelum mengambil kebijakan perubahan sistem.

“Jangan sampai obat lebih berbahaya dari penyakitnya. Kita perlu berpikir matang dan objektif,” tambahnya.

Baca juga : Kontrak Layanan Haji di Saudi Mulai Diteken, Target Selesai Sebelum 14 Februari

Sarmuji juga menyinggung sosok Zulfikar Arse Sadikin sebagai contoh anggota DPR yang berhasil terpilih melalui sistem terbuka dengan biaya relatif rendah. Hal ini menunjukkan bahwa generalisasi atas sistem terbuka perlu ditelaah lebih jauh.

Dalam diskusi tersebut, Nurhasim menyampaikan soal sistem pemilu campuran yang memungkinan untk diadopsi oleh Indonesia. 

Nurhasim seringkali menyuarakan rekomendasi penggunaan sistem pemilu campuran atau paralel sebagai solusi untuk mengatasi beberapa permasalahan sistem pemilu yang ada di Indonesia, seperti multipartai ekstrem. Dia juga merekomendasikan sistem pemilu campuran sebagai alternatif untuk mengatasi masalah multipartai ekstrem dan meningkatkan stabilitas pemerintahan.

Baca juga : Kebakaran Museum Satria Mandala: Api Berhasil Dilokalisir, Belum Ada Korban Jiwa

Sistem pemilu campuran, menurutnya, dapat memberikan suara yang lebih besar bagi partai-partai politik dan sekaligus memberikan representasi yang lebih baik bagi individu-individu yang kuat di daerah pemilihan.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.