Dark/Light Mode

Tangani Penurunan PMI Manufaktur, Pemerintah-Industri Harus Bergerak Cepat Tepat

Selasa, 20 Mei 2025 09:32 WIB
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Dr Evita Nursanty. (Foto: DPR)
Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Dr Evita Nursanty. (Foto: DPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Penurunan Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia dalam beberapa bulan terakhir bahkan sudah memasuki zona kontraksi sejak April 2025 dengan angka 46,7 atau di bawah 50 menjadi sinyal kuat bahwa sektor industri manufaktur nasional sedang mengalami tekanan serius. Pemerintah dan industri harus bergerak cepat dan tepat untuk mengambil langkah-langkah strategis dan terkoordinasi.

“Saya mengajak seluruh pihak, baik pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya, untuk tidak menunggu krisis lebih dalam. Pelemahan aktivitas manufaktur ini sudah terlalu dalam,  mencapai level terendah sejak Covid-19 harus dijadikan peringatan untuk segera bertindak demi menjaga ketahanan industri nasional dan melindungi tenaga kerja Indonesia,” kata Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Dr Evita Nursanty, di Jakarta, Senin (19/5/2025).

Politisi PDI Perjuangan ini mengatakan, penurunan PMI Manufaktur tidak hanya berdampak pada penurunan produksi yang mengindikasikan turunnya output industry yang akan menekan pertumbuhan ekonomi, tapi juga mendorong PHK dan pengangguran karena perusahaan cenderung melakukan efisiensi, yang berdampak lanjutan terhadap melemahnya daya beli masyarakat dan meningkatnya angka kemiskinan. 

Baca juga : Pemerintah Gercep Sikat Pengganggu Iklim Investasi

“Jika ini terus berlanjut maka akan berdampak pada masalah-masalah sosial. Kita tidak ingin ini terjadi. Karena itu kami di Komisi VII sebagai mitra Kementerian Perindustrian mengawal dan mendukung pemerintah untuk mencari solusi paling baik untuk menyelesaikan persoalan-persoalan ini,” sambung Evita lagi.

PMI yang rendah juga mengindikasikan iklim bisnis yang lesu dimana investor cenderung menahan ekspansi bahkan menarik investasi. Bahkan jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat,  PMI yang terus turun bisa memicu sentimen negatif di pasar keuangan, bahkan dunia usaha menjadi lebih pesimis, memperlambat keputusan ekspansi, perekrutan, dan inovasi.

Menurut Evita Nursanty, diantara solusi dalam rangka menghadapi ketidakpastian global yang muncul akibat kebijakan tarif, diantaranya dengan memperluas pasar ekspor melalui optimalisasi perjanjian perdagangan internasional dan peningkatan daya saing produk dalam negeri, kemudian penataan iklim  investasi asing agar banyak masuk ke Indonesia, hingga pemberian stimulus fiskal yang tepat sasaran kepada sektor manufaktur, dalam bentuk insentif pajak, subsidi energi, dan keringanan logistik, hingga fasilitasi pembiayaan.

Baca juga : Pemerintah Didorong Ngekor Langkah China

Selain itu perlu juga terus memperluas pasar dalam negeri karena permintaan  yang kuat dapat menjadi penyangga saat ekspor melemah atau ketidakpastian global meningkat. Antara lain dengan mendorong substitusi produk impor yang bertujuan mengurangi ketergantungan pada produk luar negeri dengan memaksimalkan konsumsi produk dalam negeri. Termasuk disini adalah penyerapan produk lokal oleh pemerintah, serta mendorong integrasi industri hulu-hilir dengan membangun ekosistem industri lokal dari bahan baku, pengolahan, hingga distribusi.

“Tujuannya agar nilai tambah produk manufaktur maksimal dan seluruh rantai pasok aktif di dalam negeri,” ujarnya.

Demikian juga dari sisi industri, Evita berharap terus melakukan diversifikasi produk dan pasar terutama ke negara-negara berkembang yang permintaannya masih tinggi, melakukan efisiensi produksi dan digitalisasi, meningkatkan kolaborasi dengan pemerintah dan lembaga riset, serta alih fokus ke sektor bernilai tambah tinggi misalnya dari manufaktur sederhana ke industri berbasis teknologi.

Baca juga : Media Wahyudi Askar: Asuransi Berdampak Ke Pemborosan Fiskal

Bahkan, Evita berpandangan perhatian juga harus diberikan pada pekerja yang terdampak. Program reskilling dan upskilling menjadi hal mendesak agar mereka dapat beradaptasi dengan kebutuhan industri baru, termasuk di sektor digital, energi baru terbarukan, dan logistik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.