Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Di Unhas, Eddy Soeparno Dorong Ketahanan Energi dan Ketahanan Nasional
Rabu, 11 Maret 2026 04:44 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Menyikapi kenaikan harga minyak mentah dan gas dunia akibat gejolak perang di Timur Tengah, Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN) Eddy Soeparno mengatakan bahwa urgensi ketahanan energi saat ini identik dengan ketahanan nasional.
Hal ini dikatakan Eddy saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin Makassar dalam rangkaian acara MPR Goes to Campus, Selasa (10/3/2026).
Acara MPR Goes to Campus ini dihadiri antusias oleh mahasiswa, dosen dan para Guru Besar di lingkungan kampus.
Universitas Hasanuddin merupakan kampus ke 45 dalam rangkaian acara MPR Goes to Campus yang diinisiasi oleh Eddy Soeparno sejak menjabat sebagai Pimpinan MPR RI.
Baca juga : PHE Genjot Produksi Migas 2026 dan Kembangkan Energi Rendah Karbon
Doktor Ilmu Politik UI ini mengingatkam kalau sektor industri dan transportasi berperan penting dalam menggerakkan perekonomian nasional, ketahanan nasional Indonesia merupakan satu kesatuan dengan ketahanan energi.
Eddy menambahkan, Ketergantungan dunia, termasuk Indonesia kita terhadap minyak mentah dan gas masih sangat besar, mengingat sektor industri seperti petrokimia, pupuk, farmasi, serat sintetis dan juga sektor transportasi membutuhkan migas sebagai bahan baku dan bahan bakar.
"Saat ini belum ada substitusi terhadap keduanya,” tegas Eddy.
Ia menambahkan, jika pasokan migas terganggu dan Indonesia kesulitan mendapatkan BBM yang selama ini diimpor, maka kegiatan ekonomi akan melambat atau bahkan terhenti.
Baca juga : Munas X LDII Bahas Dampak Geopolitik Global dan Ketahanan Nasional
"Bahwa tidak ada mobil, pesawat terbang dan kapal laut yang dapat beroperasi jika tidak ada BBM," ujar Eddy.
Begitu pula sektor industri yang bergantung pada bahan baku migas juga akan berhenti beroperasi. Dengan kata lain, mobilitas masyarakat dan proses produksi akan lumpuh.
Waketum PAN ini menyarankan agar pasokan migas nasional terus diamankan, melalui diversifikasi pasokan dari negara yang tidak terdampak penutupan Selat Hormuz. Selain itu, mendapatkan pemasok migas yang handal sangat penting saat ini.
“Saat ini reliability of supply lebih penting dari availability of supply, mengingat seluruh negara yang mengimpor kebutuhan migasnya mencari sumber pasokan dari negara lain yang mampu menjamin ketersediaan pasokan," ujar Eddy.
Baca juga : Agrovoltaics, Jalan Tengah Energi Surya Dan Perlindungan Lahan Tani
Ke depannya untuk memperkuat ketahanan energi nasional, Eddy mendorong percepatan transisi energi, termasuk peningkatan kapasitas simpanan BBM sebagai agar penyangga strategis BBM Indonesia meningkat dari 20 hari saat ini ke 90 hari sesuai arahan Presiden Prabowo.
“Melalui pengembangan energi terbarukan, kita akan mampu mengurangi ketergantungan pada energi fosil yang selama ini diimpor. Selain menghemat devisa dan memperkuat ketahanan energi dalam negeri, kita juga mendapatkan energi bersih dan hijau,” ujarnya.
Eddy berharap bahwa ketahanan fiskal Indonesia juga kuat, mengingat kebutuhan anggaran untuk membeli minyak mentah dengan harga mahal akan membebani seluruh negara importir migas, termasuk Indonesia.
“Kami di lembaga legislatif tentu akan mendukung berbagai kebijakan untuk menciptakan ketahanan energi yang kuat ke depan," pungkasAnggota Komisi XII DPR RI ini.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya