Dark/Light Mode

Senator Mirah Dorong Penguatan Perlindungan Petani Kopi Lombok Timur

Minggu, 5 Juli 2026 14:50 WIB
Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid. Foto: DPD RI
Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid. Foto: DPD RI

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat (NTB), Mirah Midadan Fahmid, menyoroti masih maraknya praktik ijon atau jual beli tidak resmi yang membelenggu petani kopi di Kabupaten Lombok Timur.

Kondisi tersebut dinilai ironis mengingat komoditas kopi memiliki nilai ekonomi tinggi dan prospek pasar yang terus menjanjikan, baik di tingkat nasional maupun internasional.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Lombok Timur, luas lahan kopi di daerah itu mencapai 2.114 hektare dengan produksi sekitar 1.887 ton pada 2025. Namun, produktivitas kopi masih tergolong rendah, sementara sebagian besar petani masih bergantung pada sistem ijon akibat tekanan kebutuhan ekonomi.

Saat ini, produktivitas kopi di Lombok Timur baru sekitar 0,5 ton per hektare, jauh di bawah potensi ideal yang bisa mencapai 1,5 ton per hektare.

Baca juga : Sekjen Demokrat: Anggota DPRD Ujung Tombak Perjuangan Partai

Di sisi lain, Pemerintah mulai mendorong pengembangan kopi arabika melalui bantuan bibit untuk sekitar 490 hektare lahan, dengan kebutuhan sekitar 10.000 bibit per hektare.

Senator Mirah menilai praktik ijon bukan sekadar persoalan jual beli hasil panen. Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan masih terbatasnya akses petani terhadap pembiayaan, perlindungan usaha, dan jaminan kesejahteraan.

"Persoalan ijon bukan semata-mata persoalan transaksi jual beli hasil panen, tetapi merupakan cerminan bahwa masih banyak petani yang belum memperoleh akses pembiayaan, perlindungan usaha, dan jaminan kesejahteraan yang memadai. Kondisi seperti ini tidak boleh terus dibiarkan karena akan menghambat kemajuan sektor perkebunan rakyat," ujar Mirah, Minggu (5/7/2026).

Dia menjelaskan, praktik ijon membuat posisi tawar petani sangat lemah karena hasil panen dijual jauh sebelum masa panen dengan harga yang tidak mencerminkan nilai ekonomi sebenarnya.

Baca juga : Kowani Dorong Pengajuan Arsip Perjuangan Perempuan RI Ke UNESCO

Bahkan, dalam beberapa kasus, petani terpaksa memanen buah kopi sebelum matang optimal sehingga kualitas produk ikut menurun.

Menurut Mirah, Lombok Timur memiliki peluang besar menjadi salah satu sentra kopi unggulan nasional. Kawasan Sembalun dan wilayah pengembangan lainnya memiliki karakteristik geografis yang mendukung pengembangan kopi arabika maupun robusta berkualitas tinggi.

Karena itu, dia menilai pengembangan sektor kopi harus dibarengi kebijakan yang mampu memperkuat daya saing petani, mulai dari peningkatan kapasitas budidaya, pendampingan pascapanen, hingga perluasan akses pasar.

"Pemerintah telah menunjukkan komitmennya melalui penyediaan bibit unggul dan pengembangan kawasan perkebunan kopi. Langkah tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, upaya itu perlu dilengkapi dengan solusi yang menyentuh akar persoalan, yaitu memastikan petani memiliki akses terhadap pembiayaan yang mudah, murah, dan tidak membuat mereka kembali bergantung kepada tengkulak maupun praktik ijon," tegasnya.

Baca juga : Senator Mirah Dukung Kolaborasi Pemprov NTB-BRIN Atasi Krisis Air Bersih

Selain itu, Mirah mendorong penguatan kelembagaan petani melalui koperasi dan kelompok tani agar memiliki posisi tawar yang lebih baik dalam rantai perdagangan kopi.

Pengembangan industri hilir serta pemasaran berbasis digital juga dinilai perlu diperluas agar nilai tambah produk kopi dapat dinikmati langsung oleh masyarakat di daerah.

Dia berharap sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, pelaku usaha, dan komunitas petani terus diperkuat untuk membangun ekosistem kopi yang berkelanjutan di NTB.

"Kopi Lombok Timur memiliki kualitas yang mampu bersaing di pasar dunia. Oleh karena itu, sudah saatnya keberhasilan sektor kopi tidak hanya diukur dari besarnya produksi ataupun tingginya harga pasar, tetapi juga dari meningkatnya kesejahteraan para petani sebagai pelaku utama. Mereka harus menjadi pihak pertama yang menikmati nilai ekonomi dari setiap biji kopi yang dihasilkan," tutup Mirah.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.