Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Pramono Klaim Warga Setuju Tarif TransJakarta Blok M-Soetta Dipatok Rp 15 Ribu
- 7.643 Personel Gabungan Siap Amankan Zikir & Doa Kebangsaan di Monas
- Hoegeng Awards 2026, Kapolri: Teladani Hoegeng Lahirkan Polisi Berintegritas
- Kemenhaj: Sanksi Travel Nakal, Dicabut Izinnya Hingga Dipidana
- Wuling Aira EV Debut Di GIIAS, Dibanderol Mulai Rp 155 Juta
Bambang Patijaya Apresiasi Pengembangan Waste-to-Energy Lewat PSEL Legok Nangka
Kamis, 30 Juli 2026 19:33 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Ketua Komisi XII DPR dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Patijaya, mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto yang diimplementasikan Kementerian ESDM dalam mengembangkan Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka di Kabupaten Bandung.
Proyek ini dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat transisi energi, mendorong ekonomi sirkular, sekaligus mempercepat penyelesaian persoalan persampahan nasional secara berkelanjutan.
PSEL Legok Nangka memiliki kapasitas pengolahan sekitar 2.131 ton sampah per hari dengan potensi pembangkitan listrik mencapai 40,79 megawatt (MW).
Pengembangannya merupakan bagian dari implementasi kebijakan percepatan pengolahan sampah menjadi energi yang berawal dari Peraturan Presiden Nomor 35 Tahun 2018 dan kini diperkuat melalui Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Pimpin Pengembangan Ekosistem SAF untuk Penerbangan ASEAN
Menurut Bambang, pembangunan PSEL menunjukkan bahwa pengelolaan sampah telah berkembang menjadi bagian dari infrastruktur energi nasional.
Melalui pendekatan waste-to-energy, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, melainkan sebagai sumber daya yang dapat menghasilkan energi, mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA), menekan emisi gas rumah kaca, serta memberikan nilai tambah bagi perekonomian.
Ia menilai, model seperti ini perlu terus dikembangkan di berbagai daerah dengan mempertimbangkan karakteristik timbulan sampah dan kebutuhan sistem ketenagalistrikan nasional.
"Kami mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo yang diimplementasikan oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam mengembangkan PSEL Legok Nangka sebagai bagian dari upaya mempercepat transformasi pengelolaan sampah menjadi energi. Pengembangan waste-to-energy harus diposisikan sebagai strategi nasional yang mengintegrasikan penyelesaian persoalan persampahan, penguatan ketahanan energi, pengembangan ekonomi sirkular, dan pencapaian target pembangunan rendah karbon," ujar Bambang.
Baca juga : Menteri PPPA Apresiasi PNM Mekaar Berdayakan Perempuan Lewat Ekonomi Sirkular
Bambang menegaskan, keberhasilan pengembangan PSEL tidak hanya ditentukan oleh kesiapan teknologi.
Menurutnya, proyek semacam ini juga memerlukan penguatan tata kelola lintas sektor, kepastian pasokan sampah yang telah dipilah, dukungan pembiayaan yang berkelanjutan, kepastian pembelian tenaga listrik oleh PLN, serta sinergi yang erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat.
Ia meyakini, ekosistem yang kuat akan menciptakan iklim investasi yang lebih berkelanjutan sehingga sektor waste-to-energy dapat memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat.
Selain itu, Bambang menilai keberhasilan pengembangan PSEL harus dibarengi dengan penguatan kapasitas pemerintah daerah dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang modern dan berkelanjutan.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Perkuat Pengalaman Pelanggan Lewat Danantara CX100
Karena itu, ia kembali mendorong pemerintah kabupaten dan kota mengalokasikan sedikitnya 3 persen APBD untuk memperkuat infrastruktur serta layanan pengelolaan sampah.
Menurutnya, kepastian pendanaan daerah menjadi salah satu prasyarat penting agar transformasi menuju ekonomi sirkular dan pengembangan waste-to-energy dapat berjalan secara konsisten sekaligus mempercepat pencapaian target nasional pengelolaan sampah.
"Keberhasilan program ini tidak cukup hanya diukur dari besarnya kapasitas listrik yang dihasilkan. Yang lebih penting adalah sejauh mana PSEL mampu mengurangi timbulan sampah, menekan emisi gas rumah kaca, meningkatkan pemanfaatan energi bersih, serta memberikan manfaat ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Karena itu, penguatan tata kelola, dukungan pendanaan yang memadai, dan sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, PLN, dunia usaha, serta masyarakat menjadi faktor kunci agar model seperti PSEL Legok Nangka dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari strategi nasional mewujudkan pengelolaan sampah yang modern, berkelanjutan, dan bernilai tambah," pungkas legislator asal Daerah Pemilihan Bangka Belitung tersebut.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya