Dark/Light Mode

Pulung Agustanto Soroti Tingginya Angka Kematian Ibu dan Bayi di Indonesia

Rabu, 16 September 2026 14:23 WIB
Foto: PDIP.
Foto: PDIP.

RM.id  Rakyat Merdeka - Anggota Komisi IX DPR RI Pulung Agustanto meminta pemerintah terus memperkuat sistem kesehatan nasional menyusul masih tingginya angka kematian ibu dan bayi di Indonesia.

Menurutnya, angka tersebut perlu menjadi perhatian bersama untuk mendorong perbaikan layanan kesehatan secara menyeluruh.

Pulung mengatakan, berdasarkan data yang disampaikan Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, sekitar 4.000 ibu dan 30.000 bayi meninggal setiap tahun di Indonesia.

Pemerintah menargetkan angka kematian ibu dapat ditekan hingga di bawah 400 kasus dan kematian bayi hingga di bawah 3.000 kasus per tahun.

“Empat ribu ibu dan tiga puluh ribu bayi bukan sekadar angka. Itu menunjukkan masih ada hal-hal dalam sistem kesehatan kita yang perlu terus diperbaiki,” ujar Pulung.

Menurutnya, upaya menekan angka kematian ibu dan bayi perlu dilakukan dengan melihat seluruh rangkaian pelayanan kesehatan, bukan hanya kondisi pasien ketika tiba di rumah sakit.

Baca juga : Pulung Agustanto Soroti Pengangguran Anak Muda, Dorong Evaluasi Kebijakan

Hal tersebut mencakup deteksi risiko kehamilan, kualitas tenaga kesehatan, kesiapan ruang bersalin, ketersediaan obat dan darah, pengendalian infeksi, sistem rujukan, hingga kecepatan penanganan kondisi kegawatdaruratan.

“Jangan sampai setiap kematian kita jawab dengan kalimat karena pasien datang terlambat. Kita perlu melihat lebih jauh, kenapa terlambat dan di titik mana sistem kita perlu diperbaiki,” tegasnya.

Pulung juga menyoroti rasio kematian maternal Indonesia yang berdasarkan estimasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 2023 berada di sekitar 140 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan sejumlah negara di kawasan, seperti Malaysia sekitar 26, Thailand 34, Brunei Darussalam 36, Vietnam 48, dan Filipina 84. Sementara Singapura sekitar 6 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Menurut Pulung, perbandingan tersebut menunjukkan masih terdapat ruang bagi Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas dan akses pelayanan kesehatan ibu dan bayi.

“Kalau negara lain mampu menekan risikonya, kita juga harus terus berupaya melakukan hal yang sama,” tuturnya.

Baca juga : Komisi IX DPR dan Kemendukbangga Bahas Program 2027

Pulung turut menyoroti temuan Kementerian Kesehatan mengenai adanya wilayah dengan angka kematian ibu dan bayi yang tinggi, termasuk di rumah sakit yang telah memiliki akreditasi paripurna.

Menurutnya, kondisi tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk memastikan sistem akreditasi rumah sakit tidak hanya berfokus pada aspek administratif, tetapi juga mendorong peningkatan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.

“Jangan sampai rumah sakit sudah baik secara administratif, tetapi masih ada hal yang perlu diperbaiki dalam pelayanan ibu dan bayi. Sertifikasi harus berjalan seiring dengan upaya memastikan keselamatan pasien,” imbau Pulung.

Ia mendorong rumah sakit dengan angka kematian yang tinggi agar mendapatkan pendampingan, audit klinis, pengawasan, serta target perbaikan yang terukur.

Evaluasi berkala dinilai penting agar upaya perbaikan dapat dipantau secara berkelanjutan. Pulung juga meminta pemerintah meningkatkan transparansi data kematian ibu dan bayi.

Data tersebut, menurutnya, perlu mencakup penyebab kematian, lokasi, fasilitas kesehatan, waktu penanganan, ketersediaan darah dan obat, serta berbagai kendala dalam sistem rujukan.

Baca juga : Pulung Agustanto: Data Desil Perlu Terus Disempurnakan agar Tepat Sasaran

“Kita jangan hanya menghitung siapa yang meninggal. Kita perlu menemukan di mana sistem masih perlu diperbaiki agar kejadian serupa dapat dicegah,” ungkap Pulung.

Ia menambahkan, persoalan kematian ibu dan bayi juga berkaitan dengan kondisi sosial dan geografis.

Seperti kemiskinan, jarak tempuh, akses pemeriksaan kehamilan, ketersediaan transportasi, serta kemampuan keluarga memperoleh pertolongan medis tepat waktu.

“Jangan menyalahkan ibu karena datang terlambat sebelum kita memastikan sistem sudah berupaya memberikan pertolongan secara cepat dan tepat,” kata Pulung.

Karena itu, Pulung mendorong penguatan layanan kesehatan primer dan rujukan, ketersediaan tenaga kesehatan, darah, obat-obatan, ruang bersalin, NICU/PICU, serta layanan kegawatdaruratan maternal dan neonatal.

“Ukuran keberhasilan sistem kesehatan bukan hanya berapa banyak rumah sakit yang mendapat predikat terbaik. Salah satu ukurannya adalah seberapa banyak ibu dan bayi yang berhasil kita selamatkan,” pungkasnya.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.