Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Pulung Agustanto Soroti Pengangguran Anak Muda, Dorong Evaluasi Kebijakan
Jumat, 4 September 2026 20:18 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Tingginya angka pengangguran di kalangan anak muda menjadi perhatian anggota Komisi IX DPR RI Pulung Agustanto.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu dilihat secara lebih luas, tidak semata-mata dikaitkan dengan kemampuan maupun kemauan generasi muda dalam mencari pekerjaan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tingkat pengangguran terbuka (TPT) usia muda mencapai 17,37 persen, jauh di atas rata-rata TPT nasional sebesar 4,65 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam mempertemukan pertumbuhan angkatan kerja dengan ketersediaan lapangan pekerjaan.
Pulung mengatakan, pertambahan jumlah angkatan kerja setiap tahun perlu diimbangi dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai dan berkualitas.
"Pasokan angkatan kerja kita bertambah besar setiap tahun. Tetapi lapangan kerjanya nggak ada," ujar Pulung.
Baca juga : Komisi IX DPR dan Kemendukbangga Bahas Program 2027
Di sisi lain, sejumlah pelaku industri juga masih menyampaikan kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan yang sesuai dengan perkembangan dunia usaha.
Menurut Pulung, kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan hubungan antara dunia pendidikan, pelatihan keterampilan, dan kebutuhan industri.
"Ini alarm serius. Kita punya banyak anak muda yang membutuhkan pekerjaan, sementara industri mengatakan membutuhkan tenaga terampil. Berarti ada persoalan besar dalam mempertemukan pendidikan, keterampilan, dan kebutuhan industri," ingatnya.
Ia menilai, salah satu tantangan yang perlu mendapat perhatian adalah kesesuaian antara sistem pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja.
Menurutnya, kebijakan pendidikan dan pembangunan industri perlu terus diselaraskan agar lulusan memiliki kompetensi yang relevan dengan perkembangan pasar kerja.
"Kebijakan pendidikan dan desain kebijakan industri seperti dua dunia yang terpisah. Yang menjadi korban adalah anak-anak muda kita karena ego sektoral yang tidak pernah selesai," tegasnya.
Baca juga : Pulung Agustanto: Data Desil Perlu Terus Disempurnakan agar Tepat Sasaran
Pulung juga mengingatkan agar persoalan pengangguran anak muda tidak sepenuhnya dibebankan kepada individu.
Menurut dia, kemampuan generasi muda memang perlu terus diperkuat, tetapi hal tersebut perlu berjalan beriringan dengan kebijakan yang mampu membuka lebih banyak kesempatan kerja.
"Anak-anak muda kita dididik dalam sebuah sistem pendidikan nasional. Sistem itu dirancang oleh pemerintah. Kalau setelah mereka lulus kemudian kesulitan mendapatkan pekerjaan, jangan buru-buru menyalahkan mereka," bebernya.
Karena itu, apabila terdapat kesenjangan antara kompetensi lulusan dan kebutuhan dunia industri, Pulung mendorong pemerintah untuk mengevaluasi kembali desain kebijakan pendidikan dan ketenagakerjaan agar semakin adaptif terhadap perubahan kebutuhan pasar kerja.
"Harusnya yang dievaluasi adalah desain kebijakannya, bukan menyalahkan anak muda sebagai korban dari kebijakan yang tidak pas," tegas Pulung.
Menurutnya, jumlah penduduk usia produktif yang besar merupakan potensi penting bagi perekonomian Indonesia.
Baca juga : Komisi IX Tambahi Aturan Lindungi Pekerja Informal
Namun, bonus demografi baru dapat memberikan manfaat optimal apabila kelompok usia produktif memiliki akses terhadap pekerjaan, keterampilan, produktivitas, dan pendapatan yang memadai.
Sebaliknya, apabila banyak anak muda memasuki usia produktif tanpa memperoleh kesempatan kerja yang layak, potensi bonus demografi tersebut tidak akan sepenuhnya dapat dimanfaatkan.
"Ini bukan hanya soal angka pengangguran. Ini menyangkut masa depan generasi muda dan masa depan ekonomi Indonesia. Anak-anak muda yang tidak mendapatkan pekerjaan dan kesempatan ekonomi dalam waktu lama tentu bisa menjadi sumber keresahan sosial," kata Pulung.
Karena itu, ia mendorong pemerintah tidak hanya berfokus pada penurunan angka TPT, tetapi juga memperhatikan kualitas dan keberlanjutan lapangan kerja yang tersedia.
Menurut Pulung, penciptaan lapangan kerja perlu diarahkan agar semakin produktif, berkualitas, serta memiliki keterkaitan dengan kompetensi dan kebutuhan angkatan kerja.
"Bonus demografi itu tidak mungkin berulang. Kalau momentum ini gagal kita manfaatkan, berarti kita telah melewatkan satu peluang emas untuk membangun masa depan Indonesia," pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya