Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Dampak Corona bagi Industri Penerbangan Lebih Dahsyat dari Krisis 2008
Selasa, 28 April 2020 18:40 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Anggota Komisi VI DPR, Deddy Yevri Sitorus, memprediksi dampak krisis Covid-19 yang dirasakan industri penerbangan bakal sangat dahsyat. Terlebih, tidak ada yang bisa menjamin kapan pandemi ini akan berakhir.
“Bagi airlines, impact corona ini jauh lebih dahsyat dibanding kejadian 9/11 dan krisis global 2008 jika digabungkan. Praktis tidak ada airlines yang beroperasi saat ini di dunia,” ujar Deddy, melalui pernyataan tertulis, Selasa (28/4).
Deddy mengungkapkan, berdasarkan data yang dia peroleh, maskapai penerbangan di dunia akan kehilangan pendapatan sebesar 252 miliar dolar AS hingga menjelang pertengahan 2020. Saat ini, seluruh maskapai di dunia melakukan program restrukturisasi yang melibatkan pemerintah maupun tidak.
Baca juga : Bamsoet: Traditional Chinese Medicine Perlu Diberi Ruang Lebih Besar di Dunia Medis
Sebagai contoh, kata Deddy, Singapore Airlines yang beberapa minggu lalu mendapat dana segar 19 miliar dolar Singapura dan 5,3 miliar dolar Singapura penerbitan saham baru, ditambah 9,7 miliar dolar Singapura, dan pinjaman dari DBS sebesar 4 miliar dolar Singapura. Bantuan serupa juga diterima Qantas yang mendapat 1,1 miliar dolar Australia dari pemerintah negeri kanguru tersebut.
“Bagaimana dengan Garuda Indonesia? Apakah Garuda bisa survive dalam krisis ini? Garuda ini ibarat orang yang jatuh tertimpa tangga, ketiban cat, dan tertimbun tembok,” ungkap Deddy.
Anggota parlemen dari daerah pemilihan Kalimantan Utara itu mengatakan, hingga saat ini, belum terdengar program penyelamatan Garuda dari krisis Covid-19 dan pemulihan saat pandemi ini berlalu. “Yang kita tahu Garuda menghentikan operasinya karena penerapan PSBB dan Garuda harus membayar utang jatuh tempo Juni 2020,” ujar Deddy.
Baca juga : Bamsoet: Peningkatan Kualitas Perguruan Tinggi Tantangan Terbesar Dunia Pendidikan
“Garuda adalah epicenter industri penerbangan di Indonesia, penyelamatan Garuda sangat penting, untuk menyelamatkan industrinya,” sambung dia. Ratusan ribu pekerja di industri penerbangan harus diselamatkan mulai dari ground handling, jasa pengiriman, bandar udara, dan lainnya.
Menurut Deddy, penyelamatan Garuda bukan hanya dengan ‘menunda’ kewajiban membayar utang yang jatuh tempo pada 2020, di antaranya adalah Sukuk sebesar 500 juta dolar AS yang jatuh tempo pada Juni 2020. Penyelamatan Garuda harus melalui restrukturisasi menyeluruh dan mendalam. Restrukturisasi itu meliputi restrukturisasi operasi, restrukturisasi aspek kecukupan modal, restrukturisasi model bisnis, dan pengaturan arus kas perusahaan.
“Garuda juga harus menyiapkan recovery program pasca Covid-19, mulai dari skenario recovery demand, skenario market structure, sampai saatnya kondisi normal. Karena impact dari krisis corona ini bisa 3-5 tahun, Garuda dan pemerintah harus bahu membahu menyelamatkan industri penerbangan nasional,” ujar anggota Fraksi PDI Perjuangan tersebut. [USU]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya