Dewan Pers

Dark/Light Mode

Di Hadapan PKS, Bamsoet Bicara Makna Kemerdekaan Hingga Penanganan Covid-19

Jumat, 27 Agustus 2021 19:59 WIB
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)
Ketua MPR Bambang Soesatyo (Foto: Dok. MPR)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua MPR Bambang Soesatyo menegaskan, peringatan kemerdekaan merupakan kesempatan bagi semua elemen bangsa untuk bermawas diri dan menjadi momentum perenungan perjalanan sejarah bangsa dengan segala dinamikanya. Sejarah mencatat bahwa setiap keringat dan setiap tetes darah pahlawan yang membasahi bumi pertiwi, adalah penanda betapa mahalnya harga sebuah kemerdekaan.

"Maka, sebagai buah dari perenungan dan mawas diri, adalah hadirnya rangkaian retorika yang harus dijawab setiap anak bangsa. Sudahkah kita mewarisi semangat juang para pahlawan? Mampukah rasa cinta kepada Tanah Air dan bangsa kita manifestasikan melalui pengorbanan? Ataukah makna kemerdekaan hanya akan kita simpan rapat-rapat dalam monumen kesejarahan yang akan lapuk ditelan usia peradaban?" ujar Bamsoet, sapaan akrab Bambang, dalam 'Mimbar Demokrasi Kebangsaan Fraksi PKS DPR' secara virtual, Jumat (27/8).

Berita Terkait : Puncak Hapernas, Basuki Bicara Pengentasan Kemiskinan Hingga Stunting

Ketua DPR ke-20 menuturkan, pandemi Covid-19 dengan segala dampaknya telah menggerus sendi-sendi kehidupan dan mengoreksi banyak pencapaian yang telah diraih selama 76 tahun kemerdekaan. Tidak hanya di Indonesia, sejak Covid-19 ditetapkan WHO sebagai pandemi global pada Maret 2020, dampak pandemi juga dirasakan hampir seluruh negara di berbagai belahan dunia. 

"Dampak pandemi ini bahkan lebih buruk jika dibandingkan dengan dampak resesi global pada tahun 1930-an atau the great depression, yang berdampak pada 83,8 persen negara di dunia. Hingga tanggal 25 Agustus kemarin, tercatat sudah lebih dari 214 juta kasus positif terkonfirmasi di seluruh dunia, dan menyebabkan lebih dari 4,4 juta penduduk dunia meninggal," kata Bamsoet.

Berita Terkait : Wapres Ingatkan Pelaku UMKM Segera Lakukan Vaksin Covid-19

Ketua Umum Ikatan Motor Indonesia (IMI) ini memaparkan, pandemi Covid-19 juga telah menciptakan pertumbuhan ekonomi negatif di hampir seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Merujuk laporan Bank Dunia, pendapatan per kapita Indonesia mengalami penurunan, dari 4.050 dolar AS pada tahun 2019 menjadi 3.870 dolar AS pada 2020. Kondisi ini kembali menempatkan Indonesia pada kategori negara berpendapatan menengah bawah, setelah sebelumnya per Juli 2020 sempat 'naik kelas' dan dikategorikan sebagai negara berpenghasilan menengah atas. 

"Pandemi juga telah berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk miskin di Indonesia. Jumlah penduduk miskin per Maret 2021 menurut data BPS adalah sebesar 27,54 juta atau meningkat 1,12 juta dari Maret 2020. Dengan pandemi Covid-19 yang masih membayangi, tentunya angka ini masih mungkin berpotensi naik, saat angka pengangguran hingga tahun 2021 diprediksi akan mencapai angka 12,7 juta," jelas Bamsoet.
 Selanjutnya