Dewan Pers

Dark/Light Mode

Kudatuli, Sejarah Politik Yang Menggembleng Puan Maharani

Rabu, 27 Juli 2022 18:38 WIB
Ketua DPP PDIP Puan Maharani/IG
Ketua DPP PDIP Puan Maharani/IG

RM.id  Rakyat Merdeka - Tragedi kerusuhan dua puluh tujuh juli (Kudatuli) menjadi salah satu sejarah kelam bagi perpolitikan Indonesia.

Hari itu, 27 Juli 1996, kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro yang dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri, diambil alih secara paksa oleh massa dari PDI Kubu Soerjadi.

Peristiwa pertumpahan darah itu meninggalkan kesan mendalam bagi putri Megawati, Puan Maharani.

Puan saat itu masih belia dan duduk di bangku kuliah. Namun, dia sudah aktif mendampingi ibunya dalam berbagai aktivitas politik.

Begitu juga dalam peristiwa Kudatuli. Puan menceritakan, saat itu dia dan Megawati nyaris berangkat ke kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, begitu mengetahui adanya sekelompok massa yang akan datang untuk mengambil alih kantor.

“Ibu saya bilang, ayo siap siap kita ke Diponegoro. Saya sudah siap, tiba-tiba ditelpon lagi,” kata Puan.

Megawati kemudian diberi kabar bahwa situasi di Diponegoro makin genting, sehingga dia diminta menunggu.

Berita Terkait : Ketua IKA Trisakti Dukung Pengembangan Pendidikan Pariwisata

Puan beserta Megawati dan ayahanda Taufik Kiemas, akhirnya menunggu di rumah mereka di Kebagusan dan terus memantau situasi dari jauh.

“Menit per menit itu semuanya kan report ke ibu saya. Sekarang ada beberapa truk yang mendekati DPP Diponegoro. Semua sudah turun berpakaian hitam-hitam. Sampai akhirnya terjadi peristiwa penyerangan, penyerbuan, pembakaran dan sebagainya,” kata Puan.

Tidak lama kemudian, Puan menyaksikan banyak orang luka parah dibawa ke rumahnya di Kebagusan. Mereka adalah korban dari upaya pengambilalihan paksa kantor DPP PDI.

“Rumah sudah kayak tempat pengungsian,” kenang Puan.

Puan mengakui, awalnya panik melihat banyaknya orang yang berdatangan ke rumahnya dengan kondisi luka-luka. Mereka awalnya hanya diberi pengobatan seadanya dengan peralatan PPPK yang ada di rumah Kebagusan.

Namun, dia bersyukur mendapatkan pertolongan. Salah satunya dari sejumlah dokter yang mengobati para korban luka.

“Akhirnya ada simpatisan dokter datang ke situ ngobatin mereka,” kata Puan.

Berita Terkait : Ketum TP PKK Minta Orang Tua Awasi Penggunaan Gadget Pada Anak

Tugas Khusus

Sementara ayah dan ibunya sibuk dalam urusan politik, Puan diberi tugas menyiapkan makanan bagi para simpatisan yang berkumpul di rumah Kebagusan.

Puan yang saat itu masih sangat belia awalnya kebingungan mendapatkan tugas ini.

“Masak apa yang cepat untuk orang sebanyak ini. Kita kan punya peralatan kecil,” kata Puan.

Akhirnya Puan pun meminta para pekerja di rumahnya untuk memasak nasi dan sayur sop. Menu itu dipilih, karena selain mengenyangkan juga bisa untuk banyak orang.

Namun, pada akhirnya banyak bantuan makanan dari berbagai pihak yang datang ke Kebagusan.  

“Alhamdulilah, tanpa diminta banyak orang yang nyumbang, dari siapa-siapa saya juga nggak tau. Ada beras, pisang, tempe, tahu dan sebagainya. Di tengah kesusahan kita masih banyak orang baik yang mau datang untuk menolong,” kenang Puan.

Berita Terkait : Taruna Merah Putih Jakarta Siap Menangkan PDIP Di 2024

Para simpatisan pendukung Megawati itu terus berkumpul di rumah Kebagusan sampai situasi politik yang panas mulai mereda.

Puan mengakui, saat itu kuliahnya di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia sempat terganggu akibat kondisi di rumahnya itu. 

"Saya masih kuliah waktu itu, mau keluar rumah aja susah," katanya.

Puan dengan sekuat tenaga mencoba membantu perjuangan ibunya dengan tetap bertanggung jawab atas kuliah yang diembannya. 

Puan mengaku, peristiwa Kudatuli ini berperan menggembleng dan membentuk dirinya hingga menjadi menteri hingga Ketua DPR.

"Kalau orang yang nggak tahu dipikir Puan itu enak aja, nggak pernah susah hidupnya, cucunya Soekarno anaknya Megawati, dua-duanya pernah jadi presiden. Tapi ini sekelumit cerita yang orang banyak tidak tahu," kata Puan.■