Dark/Light Mode

Tanah, Pangan, dan Wajah Baru Kekuasaan

Minggu, 4 Mei 2025 16:22 WIB
Ketua Umum Partai Rakyat Arvindo Noviar. Foto: Istimewa
Ketua Umum Partai Rakyat Arvindo Noviar. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka - Ada sebuah rasa baru yang mengalir di tanah republik ini. Yaitu rasa percaya yang belum pernah terasa sejak lama. Seolah negeri yang selama bertahun-tahun berdiri di antara janji dan penantian, kini mulai melangkah keluar dari bayang-bayang keterpurukan, menuju terang yang masih jauh tapi nyata.

Dan di ujung sana, tampak satu nama berdiri di persimpangan sejarah: Prabowo Subianto. Kepemimpinan ini, yang baru seumur jagung, telah memberi isyarat penting. Bahwa, arah telah bergeser.

Bahwa kekuasaan bukan hanya tentang mempertahankan status quo, melainkan tentang menjemput nasib rakyat di titik nadir dan mengangkatnya ke tempat yang lebih layak. Bahwa mimpi lama tentang kedaulatan pangan bukan hanya gula-gula yang dibacakan dalam pidato, tapi sudah mulai diurai menjadi program kerja nyata.

Baca juga : MotoGP, Vinales Pantang Jumawa Bareng KTM

Tak dapat disangkal, dalam bulan-bulan awal pemerintahannya, Prabowo telah menyalakan harapan di ladang-ladang yang lama ditinggalkan. Ia tak datang sebagai birokrat yang hanya mengganti wajah papan nama kementerian, tapi sebagai negarawan yang membawa visi besar: menjadikan pangan sebagai pondasi kemerdekaan.

Kami menyaksikan sendiri, dengan kepala tegak, bagaimana lumbung pangan mulai dibangun bukan sekadar di atas beton, tetapi juga di atas tekad dan keberpihakan. Program penyediaan pupuk murah, pembenahan tata niaga hasil tani, dan dorongan terhadap kemandirian produksi pangan adalah langkah-langkah yang tak bisa diremehkan.

Di tangan pemimpin yang tepat, kebijakan bukan lagi hanya angka-angka dalam dokumen, tapi menjadi denyut dalam nadi kehidupan rakyat. Namun seperti kata Albert Camus, “Menjadi raja bukan soal memiliki kekuasaan, tapi soal memikul bebannya dengan anggun.”

Baca juga : Cahaya Kartini, Pertamina Hadirkan Tiga Perempuan Inspiratif

Dan dalam beban itulah kritik lahir. Bukan untuk melemahkan, tetapi justru untuk meneguhkan jalan. Masih ada petani yang menjual gabah di bawah harga pokok produksi. Masih ada nelayan yang kehilangan lautnya karena tata kelola yang belum bersih dari kepentingan. Masih ada pasar-pasar rakyat yang perlahan mati, kalah oleh skema distribusi yang dikuasai segelintir pemilik modal.

Dan lebih dari itu, masih ada rasa waswas di dada rakyat kecil : Apakah keberpihakan ini akan bertahan, atau hanya euforia sesaat? Justru karena kami percaya pada Presiden Prabowo, kami merasa perlu bersuara. Bukan dengan teriakan oposisi, tapi dengan kasih seorang rakyat pada pemimpinnya.

Karena di titik ini, kritik adalah bentuk tertinggi dari cinta. Sebab kedaulatan pangan tak bisa dibangun hanya di atas proyek-proyek raksasa. Ia mesti berakar pada yang kecil dan tampak remeh: benih lokal yang dijaga, ladang kecil yang dilindungi, pupuk yang mudah diakses, harga panen yang layak, dan pasar yang adil.

Baca juga : Dua Wajah “Barisan”

Presiden Prabowo telah membuka pintu arah baru. Maka kini, tantangan berikutnya adalah menata isi rumah: membersihkan birokrasi dari rente, menertibkan mafia pangan, dan memperkuat posisi petani dalam rantai pasok. Langkah ini akan berat.

Tapi bangsa ini tak dibangun oleh langkah yang ringan. Kami tahu, Presiden tidak berjalan sendiri. Ia dikelilingi oleh harapan jutaan rakyat kecil, dan juga oleh kepungan kekuatan lama yang selalu mengintai.

Maka di sinilah, kami ingin berdiri bersama beliau. Bukan sebagai pengikut yang tuli, tapi sebagai penyokong yang jujur.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.