Dark/Light Mode

Apresiasi Penyederhanaan Aturan Pupuk Subsidi

Gerindra: Swasembada Pangan Semakin Dekat

Selasa, 30 Juni 2026 06:50 WIB
Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto. (Foto: Dok. Gerindra)
Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto. (Foto: Dok. Gerindra)

RM.id  Rakyat Merdeka - Pemangkasan 145 regulasi tata kelola pupuk bersubsidi dinilai mampu mempercepat distribusi pupuk, sehingga dapat diterima petani tepat waktu.

Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra yang juga Ketua Komisi IV DPR, Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto, mengapresiasi langkah Pemerintah menyederhanakan tata kelola pupuk bersubsidi. Dia mengatakan, pemangkasan 145 regulasi mempermudah petani mendapatkan pupuk. 

"Kini prosesnya jauh lebih sederhana, sehingga petani bisa memperoleh pupuk tepat waktu," kata Titiek dalam keterangannya di Jakarta, Senin (29/6/2026). 

Menurut Titiek, penyederhanaan regulasi menjadi langkah penting dalam mendukung peningkatan produktivitas pertanian, sekaligus memperkuat upaya Pemerintah mewujudkan swasembada pangan. 

"Komisi IV DPR akan terus mengawasi penyaluran pupuk bersubsidi agar benar-benar diterima petani yang berhak, disalurkan tepat waktu, dan dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET)," ujarnya. 

Baca juga : Musda Golkar Sulsel, Appi Tegaskan Belum Kibarkan Bendera Putih

Selain memangkas birokrasi, Titiek juga mengapresiasi kebijakan Pemerintah yang menurunkan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen. Menurutnya, kebijakan tersebut sangat membantu petani menekan biaya produksi. 

"Ini sangat membuat petani lebih bergairah untuk bercocok tanam dalam rangka mewujudkan swasembada pangan," katanya. 

Titiek menceritakan, selaku Ketua Komisi V DPR sempat mengujungi PT Pupuk Kujang, di Karawang, Jawa Barat, Jumat (26/6/2026). Dalam kesempatan itu, dia mengaku, menyoroti pentingnya akurasi data petani melalui sistem elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK) sebagai dasar penyaluran pupuk bersubsidi agar tepat sasaran. 

Titiek mengatakan, penyuluh pertanian memiliki peran strategis dalam mendampingi petani mengisi dan memperbarui data e-RDKK. Dia mengatakan, dengan data yang valid, kebutuhan pupuk, jadwal distribusi, hingga jenis pupuk yang sesuai dengan komoditas dapat dipetakan secara lebih akurat. 

"Peran penyuluh sangat diperlukan untuk memberikan edukasi kepada petani mengenai cara mengisi dan memasukkan data ke e-RDKK," tegasnya. 

Baca juga : Top, PLTP Kamojang Pasok Listrik Ke 260 Ribu Keluarga

Sementara itu, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, ketersediaan pupuk bersubsidi menjadi salah satu faktor utama meningkatnya produksi beras nasional, meski dunia tengah menghadapi ancaman krisis pangan dan perubahan iklim. 

Menurut Amran, ketika banyak negara mengalami kelangkaan pupuk dan harga yang terus melonjak, Indonesia justru mampu menjaga pasokan sekaligus menurunkan HET pupuk bersubsidi sebesar 20 persen. 

"Inilah salah satu kunci mengapa produksi pangan Indonesia terus meningkat," ujar Amran. 

Amran mengatakan, keberpihakan Pemerintah kepada petani menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah berbagai tantangan global. Hal ini, kata dia, diperkuat dengan laporan Food Outlook Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) edisi Juni 2026. 

"Dalam laporan itu, Indonesia tercatat sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan menempati peringkat keempat dunia dengan proyeksi produksi sekitar 38,6 juta ton," bebernya. 

Baca juga : Menteri Bahlil Ajak Kampus Kejar Target Program E20

Di saat yang sama, lanjut dia, produksi beras dunia diperkirakan turun sekitar 1,6 persen akibat perubahan iklim dan gangguan pasokan di sejumlah negara produsen. 

Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah memastikan, stok pupuk bersubsidi masih mencukupi kebutuhan petani hingga musim tanam berikutnya. 

Hingga 25 Juni 2026, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi telah mencapai 54,28 persen dari total alokasi nasional sebesar 9,55 juta ton. 

"Artinya, masih tersedia sekitar 45,72 persen atau kurang lebih 5,1 juta ton pupuk bersubsidi yang siap dimanfaatkan petani di seluruh Indonesia," ujarnya. 

Pemerintah, lanjut Alam, terus mempercepat distribusi agar pupuk tersedia tepat waktu, tepat jumlah, dan tepat sasaran. Di saat bersamaan, pemerintah juga mengantisipasi dampak El Nino dengan mendorong percepatan musim tanam melalui pemanfaatan pupuk bersubsidi, alat dan mesin pertanian (alsintan), pompa air, serta traktor. [BSH]

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.