Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Gerak Cepat, Waskita Karya Salurkan Ribuan Bantuan Untuk Korban Gempa NTT
- Juventus Menang Tipis di Pekan Pertama Serie A 2026/27
- Ibrahima Konate Ingin Buktikan Diri Di Real Madrid
- Atasi Karhutla Riau, Prabowo Minta Bangun 306 Sumur Bor Di Dekat Hotspot
- Calon Bos OJK Sarjito Beberkan Tantangan Bursa Mineral RI Agar Dipercaya Dunia
Sebelumnya
Tantangan PSI
Tentu saja, pesatnya kenaikan suara PSI bukan tanpa tantangan. Dan tantangan terbesar partai ini adalah identitas partai.
PSI sudah berganti lambang dari mawar ke gajah, sudah menambah tokoh, dan sudah punya figur sentral. Tetapi partai besar tidak dibangun hanya dari tokoh dan logo. Ia dibangun dari gagasan yang bisa diwariskan ketika tokohnya tak lagi ada.
Pertanyaannya adalah: PSI ini partai apa?
Baca juga : Perkuat Soliditas Internal, PSI Surabaya Aktifkan Kerja-kerja Struktural
Jawaban resmi partai itu adalah “politik jalan tengah”. Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali memaknainya sebagai upaya mengakomodasi semua golongan dan menghapus sekat identitas—menjadikan PSI rumah politik yang nyaman bagi siapa saja. “Tidak boleh ada sekat berdasarkan agama, suku, ataupun latar belakang seseorang,” katanya.
Sebagai penolakan terhadap politik sektarian, gagasan itu terpuji. Sebagai identitas partai, ia justru sangat absurd.
Sebab, identitas dalam politik adalah sesuatu yang mustahil dinafikan. Dan identitas tidak melulu berkutat pada suku, agama, ras, serta primordialisme. Ada identitas kelas: buruh, petani, nelayan, pelaku UMKM. Ada identitas generasional: anak muda, Gen Z, kelompok lanjut usia. Ada identitas kewilayahan—Jawa dan luar Jawa, kota dan desa. Dan yang paling menentukan, ada identitas nilai: nasionalis, konservatif, liberal, sosial-demokrat.
Setiap partai yang bertahan lama selalu berpijak pada salah satunya. Menghapus sekat SARA adalah keharusan demokratis; tetapi menghapus seluruh identitas adalah kemustahilan sosiologis. Yang lahir dari situ bukan partai untuk semua orang, melainkan partai yang tidak jelas untuk siapa.
Baca juga : Blusukan ke NTT, Jokowi Disambut Ribuan Warga
PSI memang menyebut diri sebagai partai anak muda. Tetapi anak muda adalah segmen, bukan ideologi. Ia baru menjadi identitas politik ketika disertai jawaban atas pertanyaan lanjutan: apa yang hendak diperjuangkan untuk mereka dan melawan siapa.
Ironinya terasa justru pada Jokowi. Sepanjang meniti karier politik, ia melekat dan “dihantar” oleh satu identitas yang sangat spesifik: marhaen, wong cilik. Tukang mebel dari Solo yang blusukan ke pasar-pasar. Identitas itulah yang membawanya dari Balai Kota Surakarta ke Istana. Lalu, di partai barunya, tiba-tiba ia menjadi tanpa identitas? Ini tentu menjadi pekerjaan rumah besar yang harus diformulasikan dengan baik oleh PSI dan tim Jokowi.
Peringatan terbaiknya justru datang dari SMRC sendiri. Exit poll 2024 menunjukkan, dari pemilih yang puas terhadap kinerja Jokowi, hanya 3 persen yang memilih PSI. Popularitas seorang tokoh ternyata tidak otomatis berpindah ke partai yang menaunginya.
Artinya, 4,1 persen hari ini adalah pintu yang terbuka, bukan kemenangan yang sudah digenggam. Rumah besar itu memang lapang. Tetapi rumah yang lapang tanpa fondasi gagasan hanya akan menjadi tempat singgah, bukan tempat tinggal. Dan politisi, seperti kita tahu, adalah penumpang yang paling cepat turun ketika keretanya tak lagi bergerak.
Baca juga : Akhir Bulan Ini Ke NTT, Safari Jokowi Berlanjut
Jokowi masih memegang satu kartu, dan ia sedang memainkannya dengan sungguh-sungguh. Yang belum pasti adalah apakah kartu itu cukup untuk memenangi permainan atau hanya cukup untuk membuatnya tetap berada di meja.
Oleh: Abdul Hamied
Penulis adalah Direktur Visi Indonesia Strategis
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya