Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Partai Ummat Gelar Diskusi Maulid, Kawal Putusan MK soal Pilpres 2029
Rabu, 26 Agustus 2026 16:10 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Partai Ummat menggelar diskusi bulanan perdana bersama sejumlah awak media bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Forum tersebut membahas putusan Mahkamah Konstitusi (MK) terkait pencalonan presiden sekaligus menggali nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kepemimpinan.
Kegiatan yang digagas Ketua Harian DPP Partai Ummat Heikal Safar SH bersama istrinya, Nofalia Heikal Safar, digelar pada Selasa (25/8/2026) di Kantor Heikal Safar & Partners, Grand Kota Bintang, Jalan KH Noer Ali, Kota Bekasi, Jawa Barat.
Diskusi mengangkat tema “Mengawal Putusan Mahkamah Konstitusi Soal Pencalonan Presiden dan Keteladanan Kepemimpinan Nabi Muhammad SAW".
Forum tersebut menjadi ruang pertemuan antara gagasan hukum dan ketatanegaraan dengan nilai-nilai moral serta keteladanan kepemimpinan Rasulullah SAW.
Sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang keilmuan, khususnya bidang hukum, politik, dan keislaman, hadir dalam kegiatan tersebut.
Mereka yakni Ustadz Farid Okbah MA, Dr. Anung Alhamad Lc MA, Dr. Theo Yusuf SH MH, dan Dr. (C) Thorik Thalib SH MA.
Kehadiran para narasumber diharapkan dapat memperkaya perspektif peserta dalam melihat berbagai persoalan ketatanegaraan, khususnya terkait putusan MK mengenai pencalonan presiden.
Baca juga : Partai Ummat Hadiri Kongres Nasional Keadilan 2026, Bidik Kerja Sama Politik
Turut hadir Sekjen DPP Partai Ummat Taufik Hidayat, jajaran pimpinan DPP dan DPW DKI Jakarta Partai Ummat, simpatisan, relawan, serta sejumlah tokoh organisasi kemasyarakatan Islam.
Acara seremonial dimulai sekitar pukul 15.30 WIB dengan kedatangan Heikal Safar bersama istrinya, Nofalia Heikal Safar, di halaman Kantor Heikal Safar & Partners. Keduanya disambut Taufik Hidayat dan jajaran pimpinan DPP Partai Ummat.
Penyambutan juga diisi pertunjukan seni budaya Betawi berupa pencak silat dan palang pintu, dilanjutkan hiburan musik gambus serta pembacaan ayat suci Al-Qur'an oleh mantan qari Istana Negara, KH Abdullah Maki.
Maulid Jadi Momentum Refleksi Kepemimpinan Dalam sambutannya, Heikal Safar mengatakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak semestinya hanya dimaknai sebagai kegiatan seremonial keagamaan.
Menurutnya, momentum tersebut dapat menjadi kesempatan untuk menggali kembali nilai-nilai kepemimpinan Rasulullah SAW dan mengimplementasikannya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
“Kita ingin memastikan setiap langkah ketatanegaraan, termasuk soal pencalonan Presiden, berjalan sesuai aturan hukum dan prinsip keadilan. Di saat yang sama, kita membutuhkan pemimpin yang tidak hanya memahami undang-undang, tetapi juga memiliki akhlak mulia sebagaimana dicontohkan Nabi Muhammad SAW,” ujar Heikal Safar.
Dia mengatakan, forum tersebut juga mengajak peserta melihat persoalan kepemimpinan dari perspektif keteladanan Rasulullah SAW, terutama mengenai keadilan, integritas, amanah, keberanian, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat.
Menurut Heikal, demokrasi yang sehat tidak cukup hanya ditopang perangkat hukum dan aturan konstitusi. Kehidupan bernegara juga membutuhkan pemimpin yang memiliki integritas dan mampu menjadikan nilai moral sebagai landasan dalam mengambil keputusan.
Baca juga : Pakar Hukum Tata Negara: Putusan MK 90 Tetap Mengikat
“Demokrasi membutuhkan hukum yang kuat, tetapi hukum juga harus dijalankan oleh manusia yang memiliki integritas, keadilan, dan tanggung jawab. Maka di peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW inilah keteladanan Rasulullah SAW menjadi sangat relevan untuk kita jalankan,” katanya.
Perkuat Silaturahmi dengan Media
Selain menjadi forum diskusi, kegiatan tersebut juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi antara Partai Ummat dengan masyarakat, tokoh agama, akademisi, serta insan media.
Heikal menilai media memiliki peran penting dalam membangun ruang publik yang sehat melalui penyampaian informasi yang kritis, berimbang, dan bertanggung jawab.
“Oleh karena itu, Partai Ummat selalu siap bersinergi memperkuat silaturahmi dengan media dan masyarakat,” tegas Heikal.
Dia berharap forum diskusi bulanan dan temu media tersebut dapat terus menjadi ruang dialog serta pertukaran gagasan mengenai berbagai persoalan strategis yang berkaitan dengan masa depan demokrasi dan kehidupan berbangsa.
Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, lanjut Heikal, diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi menjadi refleksi bersama untuk menghadirkan kepemimpinan yang adil, amanah, berintegritas, dan berakhlak mulia.
“Pada akhirnya, forum diskusi bulanan yang pertama tersebut menjadi ajakan untuk menjadikan nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW sebagai inspirasi dalam membangun Indonesia yang demokratis, berkeadilan, berkeadaban, serta penuh keberkahan,” ujarnya.
Putusan MK Buka Peluang bagi Parpol
Sementara itu, narasumber Dr. Theo Yusuf SH MH memaparkan perkembangan terbaru hukum kepemiluan, terutama setelah putusan MK Nomor 62/PUU-XXII/2024.
Baca juga : Ahmad Doli Kurnia: Jika Kembali Ke Parpol Bakal Kontraproduktif
Menurut Theo, melalui putusan tersebut, MK menyatakan norma Pasal 222 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum bertentangan dengan UUD 1945 dan tidak lagi mempunyai kekuatan hukum mengikat.
Dia menilai, putusan tersebut menghapus ketentuan presidential threshold sebagai syarat persentase perolehan suara atau kursi untuk mengusulkan pasangan calon presiden dan wakil presiden.
Dengan demikian, menurut Theo, seluruh partai politik peserta pemilu, baik sendiri maupun melalui gabungan partai politik, memiliki hak konstitusional untuk mengusulkan pasangan calon presiden dan wakil presiden tanpa terikat ambang batas seperti rezim sebelumnya.
“Sehingga semua partai peserta pemilu tahun 2029 mendatang memiliki peluang yang sama untuk mengusung capres dan cawapresnya,” ujar Theo.
Empat Sifat Rasulullah Jadi Teladan
Pada sesi terakhir, Ustadz Farid Okbah MA menyampaikan tausiah mengenai empat sifat utama yang menjadi keteladanan Rasulullah SAW, yakni shiddiq atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, tabligh atau menyampaikan kebenaran, dan fathanah atau cerdas.
Menurut Farid, keempat sifat tersebut merupakan pilar akhlak mulia Rasulullah SAW yang semestinya dapat dipraktikkan oleh seluruh kader dan pimpinan Partai Ummat dalam kehidupan sehari-hari.
Dia mengatakan, peringatan Maulid Nabi juga memberikan banyak hikmah mengenai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, bernegara, maupun berorganisasi.
“Maka kesimpulannya yaitu adanya pelajaran yang sangat penting dalam kita mengambil bagian perjuangan tentang kehidupan berbangsa, bernegara dan berorganisasi pada situasi dan kondisi saat ini dengan niat dan usaha yang baik dan benar, jujur, serta kesungguhan dalam memberikan manfaat kepada sesama manusia, sesuai dan sangat relevan dengan tuntunan serta keteladanan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Nabi Muhammad SAW,” pungkasnya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya