Dewan Pers

Dark/Light Mode

Indonesia Butuh Imajinasi Besar

Anis Matta: Aliansi Kampus Harus Pelopori Gerakan Pemikiran

Sabtu, 21 Agustus 2021 21:01 WIB
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta (Foto: Istimewa)
Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta (Foto: Istimewa)

RM.id  Rakyat Merdeka - Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta berpandangan masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh aliansi politik, tetapi ditentukan oleh aliansi kampus.

Sebab, kampus akan melahirkan sebuah gerakan intelektual baru. Serta akan mempelopori gerakan pemikiran tentang Arah Baru Indonesia.

"Kita coba mulai satu gerakan intelektual baru, gerakan pemikiran baru Indonesia. Ini jauh lebih fundamental bagi saya dalam membangun Indonesia ke depan, daripada membentuk aliansi politik," kata Anis Matta dalam diskusi 'Membaca Politik Taliban dan Masa Depan Geopolitik Dunia Islam', Jumat (20/8) malam.

Berita Terkait : KFC Indonesia Percepat Vaksinasi Seluruh Karyawan Gerai

Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Aceh-Yogyakarta secara virtual ini, menurut Anis Matta, partai politik (parpol) perlu membentuk aliansi dengan kampus dan seluruh akademisi.

"Kita bisa mendiskusikan semua pertanyaan mengenai pemikiran manusia, tentang satu model ekonomi baru yang tatanan globalnya benar-benar runtuh, " katanya.

Neoliberalisme telah memunculkan ketimpangan sosial dan memunculkan kelompok Ultranasionalis di Amerika dan Eropa, akibat sistem kapitalisme.

Berita Terkait : Perkuat Kerja Sama Pembangunan ASEAN dan Italia

"Makanya Amerika dan Eropa sekarang perlahan-lahan mulai meninggalkan kapitalisme dan beralih ke sosialisme. Sementara China, dari sosialisme justru menjadi kapitalisme," katanya.

Artinya, semua negara di dunia saat ini sedang mencari sebuah sistem tatanan global baru. Karena tidak mungkin lagi menggunakan sistem kapitalisme dan sosialisme.

"Kapitalisme telah merusak lingkungan dan menimbulkan ketimpangan sosial, sementara sosialisme menghalangi kebebasan demokrasi. Dua sistem ini tidak mungkin lagi diterima secara global," jelas Anis Matta.

Berita Terkait : Jajaki Kerja Sama Teknologi Nano dan Pertukaran Peneliti

Hal ini menjadi peluang bagi Indonesia untuk ikut serta menentukan sistem tatanan global baru, sehingga menjadi kekuatan global.

"Indonesia bisa menjadi kekuatan kelima besar dunia dan ikut menentukan sistem tatanan baru global, atau menjadi outsider seperti selama ini, menerima dan melaksanakan sistem tersebut," katanya.
 Selanjutnya