Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Sebelumnya
Loly menuturkan, pelanggaran konten internet ini paling banyak menggunakan media Instagram sebanyak 72 konten melanggar (35 persen), Facebook 69 konten (34 persen), Twitter 54 konten (27 persen), TikTok 7 konten (3 persen), dan YouTube dengan 2 konten (1 persen).
Adapun dari 204 konten melanggar, sebanyak 196 konten menyasar Paslon Capres-Cawapres, sedangkan sisanya sebanyak 8 konten menyasar penyelenggara pemilu.
Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno tak menampik, bila suasana Pilpres di medsos lebih panas dari dunia nyata. “Dari dulu medsos memang brisik dan gaduh. Antar pendukung tanpa henti saling berkelahi. Padahal realita di bawah santai saja,” tuturnya.
Baca juga : Waspada Cuaca Besok Di Jakarta! BMKG: Ada Potensi Hujan Disertai Petir Dan Angin
Namun, Adi menilai, panasnya Pilpres yang terjadi sekarang, masih lebih baik dibanding 5 tahun lalu. Saat ini, kata dia, tak ada lagi narasi PKI, cebong vs kampret, atau penggunaan ayat-ayat agama untuk kepentingan politik. Di dunia nyata, bahkan kondisinya lebih dingin.
“Sekarang tak ada isu agama. Sekarang paslonnya tiga. Jadi lebih kondusif di grassroot,” ulasnya.
Direktur Eksekutif Trias Politik Strategis Agung Baskoro mengatakan, menjadi hal yang wajar ketika tensi politik semakin tinggi jelang pencoblosan. Namun, polarisasi pada Pilpres ini lebih minim ketimbang dua Pilpres sebelumnya.
Baca juga : Soal Surat Suara Pilpres Di Taipei, Ini Tanggapan Ganjar
Agar tensi dari dunia maya tidak menjalar ke dunia nyata, Agung berpesan agar aparat penegak hukum bisa profesional. “Sehingga di satu sisi patut kita syukuri. Walaupun aparat tetap perlu waspada untuk terus mencegah ekses yang bisa saja mengemuka,” pesan Agung.
Artinya, damai tidaknya Pilpres bergantung kepada semua pihak. “Utamanya jari-jemari kita agar lebih baik dalam mengontrol diri sehingga tak mudah terjebak kepada hoaks, fitnah, hingga ujaran kebencian,” kata Agung.
Artikel ini tayang di Rakyat Merdeka Cetak edisi Minggu 7/1/2024 dengan judul Suasana Pilpres, Di Dunia Maya Panas, Di Dunia Nyata Dingin
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya