Dark/Light Mode

Koalisi Indonesia Maju

Permanen Di Atas, Mencair Di Bawah

Jumat, 26 Juli 2024 08:20 WIB
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golkar, Idrus Marham saat jumpa pers di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (25/7/2024). (Foto: Aristo/JPNN.com)
Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golkar, Idrus Marham saat jumpa pers di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (25/7/2024). (Foto: Aristo/JPNN.com)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kekompakan Koalisi Indonesia Maju (KIM) di Pilpres lalu, tak berbanding lurus saat menghadapi Pilkada serentak. Di level atas, KIM memang permanen. Namun, di level bawahnya, KIM malah mencair.

Di Pilpres lalu, KIM yang beranggotakan Gerindra, Golkar, Demokrat, dan PAN, menunjukkan kekompakannya. Kerja sama erat dan strategi politik efektif berhasil membawa pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden periode 2024-2029.

Para bos KIM berharap kekompakan di tingkat pusat ini, bisa dipermanenkan dan diteruskan dalam gelaran pilkada. Sayangnya, keinginan tersebut sulit direalisasikan. Pasalnya, masing-masing parpol anggota KIM punya jagoan yang berbeda di pilkada.

Baca juga : Golden Visa Untuk Good Quality Travelers

Di Pilkada Banten misalnya, Gerindra dan Golkar, dua kekuatan besar di KIM, punya jagoan berbeda. Gerindra yang dinahkodai Prabowo Subianto menjagokan Andra Soni. Andra dipasangkan dengan mantan Bupati Pandeglang yang saat ini menjadi kader PKS, Dimyati Natakusumah. Pasangan ini diusung Koalisi Banten Maju yang beranggotakan Gerindra NasDem, PAN, PKS, PKB, PPP, dan PSI. Sementara Golkar mengusung mantan Walikota Tangsel Airin Rachmi Diany.

Di Pilkada Jawa Barat, peta politik menunjukkan hal serupa. Golkar dan Gerindra berpotensi pecah kongsi. Golkar tampaknya akan mengusung Ridwan Kamil atau akrab disapa Kang Emil sebagai calon gubernur. Sementara Gerindra ingin mengusung kadernya Dedi Mulyadi sebagai cagub.

Di Pilkada DKI Jakarta, kekompakan KIM pun diuji. KIM yang awalnya kompak mengusung Kang Emil, kini tampak kehilangan arah. Golkar memutuskan untuk mengusung pengusaha jalan tol Jusuf Hamka atau akrab disapa Babah Alun sebagai cagub. Gerinda punya jagoan lain, yaitu keponakan Prabowo, Budi Djiwandono.

Baca juga : Tumbuh Selektif Dan Prudent, BRI Cetak Laba Rp 29,90 Triliun

Menanggapi peta politik tersebut, Ketua Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) Partai Golkar, Idrus Marham menepis kalau KIM retak di pilkada. Idrus menyatakan, KIM adalah koalisi permanen atau koalisi jangka panjang.

Idrus mengungkapkan, ada tiga skenario yang akan diterapkan dalam Pilkada. Pertama, parpol yang tergabung dalam KIM mengusung calon yang sama.

Skenario kedua, all KIM final. Artinya, calon yang diusung parpol di KIM akan mengusung calon yang berbeda. Sebagai contoh di Pilkada Banten. Golkar mengusung Airin, dan Gerindra mengusung Andra.

Baca juga : Titi Anggraini: Kerumitan Pemilu Itu, Sangat Bisa Dikurangi

“Berarti siapa yang terpilih merupakan bagian keluarga besar Koalisi Indonesia Maju,” kata Idrus, dalam jumpa pers di kawasan Matraman, Jakarta Timur, Kamis (25/7/2024).

Skenario ketiga, persaingan di antara partai-partai politik yang tergabung di KIM pada wilayah-wilayah tertentu. Meski berbeda jalan, Idrus meyakini semua tetap memegang komitmen dalam rangka memastikan kesuksesan kepemimpinan Prabowo-Gibran.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.