Dark/Light Mode
- Perbaikan Selesai, Kondisi Jalan Lenteng Agung Sudah Normal dan Bisa Dilewati
- Persib Mulai Susun Persiapan Hadapi Musim 2026/2027
- OTT Pejabat Imigrasi Jakbar, KPK Sita Mobil, Valas, Hingga Emas
- Erling Haaland Bisa Bawa Norwegia Bersaing di Piala Dunia 2026
- Davide Ancelotti Latih Lille, Calvin Verdonk Hadapi Tantangan Baru
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - “Klasemen Liga Korupsi Indonesia” yang disusun mestinya membuat bangsa ini semakin kuat dan masif melawan korupsi.
Klasemen tersebut perlu dimaknai sebagai cambuk dan pemicu yang melahirkan gerakan masif, menyeluruh serta konsisten untuk melawan korupsi.
Pemeringkatan semacam klasemen olahraga tersebut diurut mulai dari korupsi yang kerugian negaranya super paling besar sampai yang sangat besar. Semuanya jumbo. Sampai ribuan triliun rupiah.
Momentum untuk melakukan bersih bersih ini jangan sampai hilang. Karena, selama beberapa tahun kebelakang, megakorupsi tersebut seperti tidak tertangani dan terawasi dengan baik. Kontrolnya kurang optimal.
Baca juga : Perhatikan Korban PHK
Skandal-skandal tersebut, bisa jadi, dianggap “wajar” (karena beberapa pejabat dan lembaga lain juga melaku kan nya). Atau, ada semacam pembiaran yang kemudian melahirkan banalitas.
Bisa juga, karena proses hukumnya tidak tuntas. Hanya beberapa oknum yang “terkena” dan dijadikan “tempat sampah”. Jadi public enemy. Sementara yang lain, masih bisa terus melakukan permainan yang sama, siapa pun rezimnya.
Karena itu, tekad Presiden Prabowo untuk memberantas korupsi dan menciptakan pemerintahan yang bersih, perlu diterjemahkan dan diperkuat melalui satu aksi dan gerakan yang koordinatif. Inilah saat yang tepat.
Upaya ini memang mengandung risiko. Misalnya, citra Indonesia bisa kian kusam karena banyak skandal mega korupsi yang (akan) terbongkar.
Baca juga : Lari Kencang Dengan Trust
Itu merupakan keniscayaan serta harga yang harus dibayar ketika melakukan pembersihan besar-besaran. Bayaran mahal itu jangan sampai hilang percuma. Harus ada dampak serta hasil besar yang diperoleh.
Lagi pula, risiko “citra buruk” itu akan berlangsung sementara. Namun, dampaknya akan sangat positif bagi negeri ini. Citra negeri ini sebagai salah satu negara terkorup pelanpelan bisa dikikis. Kepercayaan rakyat serta investor asing akan kembali tumbuh.
Kenapa butuh konsistensi? Karena, tekad serta “gerakan” seperti ini pernah dilakukan sebelumnya. Era Orde Lama pernah. Orde Baru juga pernah. Namun, kita semua tahu hasilnya.
Pada 1970 misalnya, Presiden Soeharto membentuk Komisi IV yang bertugas menganalisis permasalahan korupsi. Komisi ini dipimpin oleh Wilopo.
Baca juga : Stok Dan Sisa Makanan
Karena belum efektif, tahun 1977 tugas pemberantasan korupsi diserahkan ke Kopkamtib. Saat itu, dilakukan Operasi Tertib (Opstib) yang melakukan inspeksi mendadak ke departemen-departemen yang dinilai korup. Banyak koruptor yang ditangkap basah.
Sayangnya, tidak ada konsistensi dan keseriusan. Hasilnya: Orde Baru tumbang, antara lain, karena korupsi.
Karena itu, momentum bersih-bersih ini membutuhkan konsistensi serta keseriusan. Dan yang kalah pentingnya: keteladanan. Dengan demikian, kita yakin, nama Indonesia tidak lagi tercantum dalam klasemen Liga Korupsi Dunia.
Kita tunggu hasil dan kabar baiknya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.