Dark/Light Mode

Memperbaiki Tata Kelola MBG

Senin, 21 April 2025 04:53 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang dijalankan pemerintah, terbukti manfaatnya. Program ini mampu memperbaiki gizi, terutama bagi anak-anak sekolah dari kalangan keluarga menengah ke bawah. Sudah banyak testimoni dari anak-anak yang senang dan bahagia dengan adanya program ini.

Agar pelaksanaan program ini semakin baik, evaluasi harus terus dilakukan secara berkala. Tata kelolanya harus terus disempurnakan. Dengan begitu, program ini benar-benar menjangkau semua anak yang membutuhkan, tidak ada makanan terbuang, dan tentunya juga tidak ada penyimpangan.

Sejak diluncurkan pada 6 Januari 2025, MBG sudah menjangkau lebih dari 3 juta penerima manfaat. Program ini sudah terlaksana di 38 provinsi seluruh Indonesia. Sedangkan untuk kabupaten/kota, belum ada laporan resminya.

Baca juga : Tindak Tegas KKB Papua

Di tengah pelaksanaan ini, muncul sedikit masalah. Di antaranya, dapur MBG di Kalibata, Jakarta Selatan, berhenti beroperasi karena ada masalah pembayaran antara pihak yayasan dan dapur. Menyikapi masalah ini, Badan Gizi Nasional (BGN) mengubah pola pendanaan bagi dapur tersebut agar kembali beroperasi dan melanjutkan program MBG. 

Meski kasus di Kalibata adalah masalah internal antara pihak yayasan dan dapur, hal itu tetap harus menjadi perhatian. Harus ada antisipasi, agar kasus serupa tidak terulang di kemudian hari. BGN harus lebih hati-hati dan ketat dan melakukan pembayaran. Tentunya juga harus tepat waktu.

Sejauh ini, jumlah dapur MGB baru mencapai 1.072. Pemerintah menargetkan, hingga akhir 2025 ini, program MBG bisa menjangkau 82,9 juta penerima manfaat. Saat itu, jumlah dapur MBG tentu akan sangat banyak. Berlipat-lipat dari jumlah saat ini.

Baca juga : Menghentikan Kekejaman KKB

Dengan banyaknya jumlah tersebut, potensi masalah yang akan muncul juga semakin besar. Atas hal itu, kasus di Kalibata harus menjadi pelajaran dan bahan evaluasi. Agar potensi-potensi masalah pelaksanaan MBG bisa diminimalisir.

Selain itu, pola penyaluran juga perlu dievaluasi. Khususnya MBG bagi para santri di pondok pesantren. Di pesantren, para santri sudah mendapatkan jatah makan sehari tiga kali. Untuk pesantren menengah, santri biasanya mendapatkan lauk berupa telur, ikan, dan sayur. Ayam atau daging sesekali.

Untuk itu, lauk dalam MBG bagi para santri harus lebih "istimewa". Bisa berupa ayam atau daging dengan ukuran yang lebih besar. 

Baca juga : Mewaspadai Membanjirnya Barang Impor

Agar mendapatkan menu yang lebih istimewa tersebut, pola penyaluran bisa diatur. Yang tadinya setiap hari, bisa diubah menjadi dua hari sekali. Sehingga dana per porsi pun menjadi lebih besar. Dari Rp 10.000 menjadi Rp 20.000. Dengan cara ini, bisa mendapatkan lauk berupa ayam atau daging dengan ukuran yang lebih memadai.

Tentu para santri akan lebih senang dengan pola seperti ini. Mereka tidak akan bosan akibat terus-terusan diberi telur. Gizi bagi mereka juga akan menjadi jauh lebih baik.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.