Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Di tengah dunia yang gaduh, bangsa ini butuh ruang hening. Bukan hanya jeda dari hiruk-pikuk politik dan pertarungan opini, tapi juga ruang untuk menyimak suara hati sendiri. Karena bangsa bukan sekadar kumpulan warga negara—ia adalah jiwa bersama yang hidup dari nilai, harapan, dan kesadaran kolektif. Dan salah satu cara paling jujur untuk menghidupkan kembali kesadaran itu adalah... berdoa.
Doa bukan sekadar ritual. Ia adalah bentuk pengakuan bahwa kita bukan segalanya. Ia menundukkan ego, melunakkan ambisi, dan mengingatkan bahwa kuasa manusia punya batas. Bangsa yang berani berdoa bersama adalah bangsa yang masih punya ruang batin—untuk refleksi, maaf, dan perbaikan. Kita perlu merenung: sudah seberapa jauh kita melangkah, dan ke mana arah kita sebenarnya?
Baca juga : Kita Tak Punya Cerita
Negeri ini terlalu banyak bicara rencana, tapi terlalu sedikit bertanya: untuk apa semua ini? Kita membangun gedung tinggi, tapi tidak membangun kesadaran tinggi. Kita menghitung pertumbuhan ekonomi, tapi lupa menakar pertumbuhan nurani. Kita begitu takut dengan resesi fiskal, tapi santai menghadapi defisit moral. Maka tak heran jika pembangunan terasa hampa—karena ruhnya kering.
Berdoa bukan pelarian dari tanggung jawab. Ia justru sumber kekuatan paling jernih untuk bertahan dan memperbaiki. Pemimpin yang berani mendoakan bangsanya dengan jujur—bukan dengan retorika—akan lebih dipercaya rakyat daripada mereka yang hanya bicara visi tapi tak punya keteduhan jiwa. Kita butuh pemimpin yang bisa menunduk, bukan hanya berdiri gagah. Yang bisa hening, bukan hanya berteriak.
Baca juga : Pendidikan Tanpa Jiwa
Kita bukan kekurangan program. Kita kekurangan penghayatan. Kita bukan kekurangan undang-undang. Kita kekurangan kesadaran. Dan kesadaran tidak bisa diimpor atau dipaksakan. Ia hanya bisa ditumbuhkan dari dalam—melalui doa, kejujuran, dan kerendahan hati. Bangsa ini tak cukup dijaga oleh sistem. Ia harus dijaga oleh keikhlasan kolektif untuk tidak saling melukai.
Doa bersama—dalam masjid, gereja, pura, vihara, atau di dalam kamar sunyi masing-masing—bisa menjadi pelindung tak terlihat dari kehancuran moral. Doa adalah kesanggupan untuk melihat sesuatu yang lebih besar dari kekuasaan dan kepentingan. Dan dalam sejarah bangsa-bangsa besar, momen-momen terpenting selalu lahir dari hening, bukan dari gegap gempita.
Jika bangsa ini ingin panjang umur, mari kita rawat ia bukan hanya dengan pembangunan fisik, tapi juga dengan spiritualitas yang jujur. Karena negara yang besar bukan hanya yang punya senjata dan uang, tapi yang punya rakyat yang tahu bagaimana cara berharap, cara bersyukur, dan cara berdoa.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.