Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Setiap Agustus, bendera dinaikkan, lagu kebangsaan dinyanyikan, dan jargon persatuan disuarakan di ruang-ruang publik. Tapi pertanyaan yang lebih penting dari sekadar seremoni adalah: sudahkah rakyat betul-betul merdeka? Sudahkah keadilan menjadi realitas, bukan sekadar janji? Di balik kemeriahan menjelang HUT RI ke-80, masih terlalu banyak warga negara yang tak merasa dilayani oleh negaranya sendiri.
Merdeka bukan sekadar lepas dari penjajahan asing. Merdeka adalah ketika petani tak digusur dari tanahnya. Merdeka adalah ketika buruh bisa berserikat tanpa takut diintimidasi. Merdeka adalah ketika warga miskin kota taklagi dipindahkan tanpa ganti untung. Dalam kata-kata Bung Hatta, “Indonesia merdeka bukan untuk kaum bangsawan dan orang kaya, tapi untuk semua orang yang tertindas.” Enam puluh delapan tahun sejak ia wafat, pertanyaan itu masih relevan: merdekakah kita?
Laporan ketimpangan terbaru dari BPS menunjukkan jurang antara kaya dan miskin tetap menganga. Sementara angka pengangguran muda meningkat, dan harga kebutuhan pokok tak kunjung turun. Di sisi lain, anggaran negara untuk infrastruktur dan pengadaan senjata terus naik. Siapa yang sebenarnya sedang diprioritaskan oleh negara? Apakah kemerdekaan hanya bisa dirasakan oleh mereka yang sudah mapan?
Makna kemerdekaan terlalu suci jika hanya dirayakan oleh parade militer dan pesta elite. Ia baru hidup ketika negara betul-betul berpihak pada yang paling kecil. Ketika anak-anak desa bisa sekolah tanpa harus menempuh belasan kilometer. Ketika layanan kesehatan tidak hanya tersedia di kota besar. Ketika keadilan hukum tak berhenti pada mereka yang bisa menyewa pengacara mahal. Itulah bentuk kemerdekaan yang nyata dan itu belum sepenuhnya kita miliki.
Baca juga : Wajah Sebuah Kuasa
Kita sering menyanyikan lagu “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”—tapi yang dibangun lebih banyak beton daripada batin. Proyek strategis nasional terus dikebut, tapi proyek penanggulangan kemiskinan struktural jalan di tempat. Ada semacam kehilangan arah: pembangunan dijadikan tujuan, bukan alat. Padahal republik ini berdiri bukan untuk sekadar membangun, tapi untuk membebaskan manusia dari ketakutan dan ketimpangan.
Kemerdekaan bukan warisan, tapi pekerjaan yang tak pernah selesai. Ia harus diperjuangkan setiap hari—oleh rakyat yang kritis, dan oleh negara yang bersedia dikritik. Kita tidak butuh perayaan yang lebih mewah, kita butuh keberpihakan yang lebih jujur. Karena rakyat tidak lapar pada simbol, mereka lapar pada keadilan.
Baca juga : Arah yang Terlupakan
Menuju 17-an, mari kita rayakan kemerdekaan bukan dengan euforia kosong, tapi dengan keberanian bertanya: sudahkah republik ini hadir untuk semua, atau hanya untuk sebagian? Dan jika jawabannya belum, maka tugas kemerdekaan belum usai.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.