Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Muktamar PPP Ricuh: Kursi Beterbangan, Bibir Bengkak Kena Tonjok”. Begitu judul berita di halaman depan Rakyat Merdeka, Senin (29/9/25) kemarin.
Menarik. Menyedihkan. Juga lucu. Karena ini muktamar partai yang pernah besar. Lambangnya Ka’bah. Partai legendaris. Partai yang memiliki banyak kenangan. Historik.
Muktamar X Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini tentu saja bukan arena tinju atau lomba lempar cakram. Ini forum internal yang mestinya berlangsung adem, teduh dan sehat. Bukan menghasilkan “bibir bengkak akibat kena tonjok”.
Muktamar ini memang berlangsung di Ancol, tempat orang mencari hiburan, sehingga para peserta mungkin ingin menghadirkan atraksi. Menghibur. Tapi bukan atraksi “hiburan” seperti ini, saling lempar kursi.
Baca juga : Dari Perut Ke Petani Modern
Partai yang pernah melahirkan banyak tokoh besar ini mestinya lebih bertarung ide, visi, misi serta arah masa depan umat dan partai. Juga ada upaya membangun resolusi konflik internal yang dewasa.
Bisa menciptakan iklim demokrasi yang partisipatif dan sehat. Mengutamakan etika dan prinsip organisasi. Mestinya begitu. Bukan main fisik.
Karena, ketika demokrasi internal rusak, maka kepemimpinan yang dihasilkan cenderung tidak legiti matif. Berpotensi melemahkan partai dalam jangka panjang. Bahkan, menghasilkan dualisme yang merepotkan dan melelahkan.
Sungguh disayangkan karena muktamar ini justru memunculkan saling klaim sebagai pemenang. Mengaku sebagai yang paling banyak merebut hati DPW. Padahal, bisa jadi, ketika di dalam ruangan terjadi lemparlemparan kursi, anggota yang diklaim tersebut sedang asyik menyeruput kopi sachet di pinggir pantai Ancol.
Baca juga : “Kecil Dan Mengguncang”
Partai yang berdiri tahun 1973 ini mestinya bisa segera melakukan refleksi. Rekonsiliatif. Membicarakan dengan serius, sehat dan penuh kebersamaan mengenai arah masa depan partai.
Kita berharap, partai yang pernah melahirkan seorang wakil presiden ini bisa tumbuh sehat dan berkembang. Bisa kembali menyumbangkan kader kader terbaiknya untuk Indonesia. Di pusat maupun daerah.
Kita tunggu apa yang akan terjadi sebulan dua bulan, atau setahun ke depan. Semua pihak perlu mengupayakan suasana yang adem, damai, rukun dan sehat. Bisa memberi teladan yang baik. Bukan hanya untuk internal partai. Tapi juga untuk atmosfer politik dan demokrasi di negeri ini.
Kalau tidak bisa, muktamar berikutnya tampaknya perlu mencantumkan peraturan baru: dilarang menggunakan atau membawa kursi. Berdiri saja. Semuanya. Termasuk panitia.
Baca juga : Indonesia Kembali!
Dari situ mungkin akan lahir demokrasi internal yang sehat serta manajamen konflik yang baik. Ketika sudah capek berdiri, kursi satu bisa dibagi bersama, sembari mengajak, “ayo kita duduk bareng”. Akrab. Adem. Di situ mestinya terjadi lemparlem paran ide dan visi yang tajam. Bukan adu kuat lemparlemparan benda tumpul. Peace
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.