Dark/Light Mode

Bertahan atau Berubah

Senin, 30 Maret 2026 08:08 WIB
BUDI RAHMAN HAKIM
BUDI RAHMAN HAKIM
Wartawan Senior

RM.id  Rakyat Merdeka - Tekanan bukan sesuatu yang datang untuk dihindari. Ia hadir untuk menguji. Dalam satu bulan terakhir, negara dihadapkan pada gelombang yang tidak bisa diselesaikan dengan rutinitas: keluhan yang menumpuk, kepercayaan yang retak, dan tuntutan perubahan yang semakin nyata. Di titik ini, pertanyaannya sederhana: bertahan atau berubah?

Bertahan terdengar aman. Ia berarti menjaga pola yang sudah ada, mempertahankan narasi, dan menunda keputusan sulit. Stabilitas dijadikan alasan, konsistensi dijadikan pembenaran. Namun bertahan tanpa refleksi sering kali hanya memperpanjang masalah. Ia tidak menyelesaikan, hanya menunda.

Baca juga : Arah yang Diperbaiki

Berubah, sebaliknya, selalu mengandung risiko. Ia menuntut pengakuan bahwa ada yang perlu diperbaiki. Ia memaksa negara keluar dari zona nyaman, menghadapi kritik, dan mengambil langkah yang mungkin tidak populer. Tetapi justru di situlah letak kematangan politik—keberanian untuk menyesuaikan diri dengan realitas.

Tekanan publik sering disalahpahami sebagai ancaman. Padahal ia adalah mekanisme koreksi. Tanpa tekanan, banyak kebijakan berjalan tanpa evaluasi. Tanpa kritik, kesalahan mudah menjadi kebiasaan. Negara yang menolak tekanan sebenarnya menolak kesempatan untuk belajar.

Baca juga : Negara yang Rendah Hati

Albert Hirschman menunjukkan bahwa dalam menghadapi ketidakpuasan, masyarakat akan memilih antara voice dan exit—bersuara atau menarik diri (Exit, Voice, and Loyalty, 1970). Jika negara tidak merespons voice, maka exit akan menguat. Di situlah risiko terbesar: hilangnya keterlibatan publik.

Pilihan bertahan atau berubah bukan sekadar strategi, tetapi cerminan watak. Negara yang memilih bertahan demi kenyamanan menunjukkan ketakutan. Negara yang memilih berubah demi keadilan menunjukkan keberanian. Sejarah lebih sering berpihak pada yang kedua.

Baca juga : Kepercayaan yang Retak

Akhir Maret memberi satu pelajaran: tekanan tidak akan hilang. Ia akan terus datang dalam bentuk yang berbeda. Yang bisa berubah adalah cara negara meresponsnya. Bertahan mungkin menenangkan sesaat. Berubah membuka kemungkinan. Dan dari situlah masa depan ditentukan—bukan oleh tekanan itu sendiri, tetapi oleh pilihan yang diambil.

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.