Dark/Light Mode
Wartawan Senior
RM.id Rakyat Merdeka - Kekuasaan sering diasosiasikan dengan ketinggian: posisi, otoritas, dan jarak. Semakin tinggi, semakin sulit disentuh. Namun, dalam praktik pemerintahan yang matang, justru sebaliknya: kekuasaan yang mau turun menjadi lebih kuat. Ia tidak kehilangan wibawa, tetapi menemukan legitimasi.
Kerendahan hati bukan sifat yang lazim dilekatkan pada negara. Ia terdengar terlalu personal untuk institusi yang besar. Padahal dalam kepemimpinan publik, kerendahan hati adalah kemampuan untuk mengakui keterbatasan, membuka diri terhadap kritik, dan belajar dari pengalaman warga. Tanpa itu, kekuasaan mudah terjebak dalam ilusi kebenaran sendiri.
Baca juga : Kepercayaan yang Retak
Dalam beberapa waktu terakhir, tekanan publik menunjukkan bahwa negara tidak selalu berada pada posisi yang benar. Kebijakan yang dikritik, layanan yang dikeluhkan, dan keputusan yang dipertanyakan menjadi sinyal bahwa ada jarak antara rencana dan realitas. Di titik ini, respons paling menentukan bukan pembelaan, melainkan kerendahan hati untuk mendengar.
Negara yang rendah hati tidak terburu-buru menjawab semua kritik. Ia memberi ruang untuk memahami. Ia tidak melihat perbedaan pendapat sebagai ancaman, melainkan sebagai sumber koreksi. Dalam sikap ini, kekuasaan tidak melemah, tetapi justru diperkuat oleh kepercayaan yang tumbuh.
Baca juga : Dialog atau Formalitas
Jim Collins dalam Good to Great menunjukkan bahwa kepemimpinan paling efektif sering kali menggabungkan ketegasan profesional dengan kerendahan hati pribadi. Pemimpin seperti ini tidak mencari sorotan, tetapi fokus pada hasil yang berkelanjutan (Collins, 2001). Prinsip yang sama berlaku pada negara: kekuatan sejati lahir dari kesediaan untuk tidak selalu merasa benar.
Kerendahan hati juga berarti mendekat. Turun ke lapangan bukan sekadar simbol, tetapi upaya memahami langsung kehidupan warga. Dari sana, kebijakan tidak lagi disusun dari asumsi, melainkan dari pengalaman. Negara yang dekat lebih mudah dipercaya daripada negara yang hanya terdengar.
Baca juga : Represif yang Halus
Kekuasaan yang mau turun justru lebih kuat. Ia tidak dibangun dari jarak, tetapi dari hubungan. Dalam dunia yang penuh tekanan, kerendahan hati bukan kelemahan—ia adalah strategi moral untuk bertahan dan berkembang. Dan di situlah negara menemukan kembali maknanya: bukan sekadar memerintah, tetapi melayani.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.