Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
RM.id Rakyat Merdeka - Nilai keberhasilan eksekusi penalti di Piala Dunia 2026 hanya 66,1 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai pada Piala Dunia 1966.
Titik putih yang selama ini identik dengan peluang emas mencetak gol berubah menjadi hantu menakutkan di Piala Dunia 2026. Turnamen di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu memperlihatkan semakin sulitnya para pemain mengonversi tendangan penalti menjadi gol, bahkan bagi deretan bintang kelas dunia.
Data Opta Analyst menunjukkan hingga berakhirnya babak 16 besar, termasuk adu penalti, tercatat 59 penalti telah dieksekusi. Namun, hanya 39 yang berbuah gol, sedangkan 20 lainnya gagal, sehingga tingkat keberhasilan penalti hanya 66,1 persen. Angka tersebut menjadi yang terendah sejak pencatatan dimulai pada Piala Dunia 1966.
Baca juga : Mesir Cetak Sejarah Di Piala Dunia 2026, Salah Jadi Playmaker
Tren penurunan efektivitas penalti sebenarnya sudah terlihat dalam beberapa edisi terakhir. Setelah sempat mencapai 80,4 persen pada Piala Dunia 1998, tingkat keberhasilan penalti terus menurun menjadi 70,6 persen pada 2018, 67,2 persen pada 2022, dan kini hanya 66,1 persen di Piala Dunia 2026. Sebaliknya, seluruh 13 penalti yang terjadi pada Piala Dunia 1966 dan 1970 berhasil dikonversi menjadi gol.
Fenomena ini juga menyeret sejumlah nama besar. Dari 20 penalti yang gagal, Kylian Mbappe menjadi salah satu yang paling disorot setelah eksekusinya berhasil ditepis kiper Maroko, Yassine Bounou, pada perempat final.
Sebelumnya, Lionel Messi juga dua kali gagal memanfaatkan hadiah penalti, yakni saat menghadapi Austria di fase grup dan kembali digagalkan kiper Mesir, Mostafa Shobeir, pada babak 16 besar. Selain itu, gelandang Brazil Bruno Guimaraes, striker Norwegia Jorgen Strand Larsen, hingga penyerang Iran Mehdi Taremi juga masuk dalam daftar pemain yang gagal menaklukkan penjaga gawang dari titik 12 pas.
Baca juga : Presiden Minta Jaksa, Polisi & TNI Berbenah: Korupsi & Penipuan Tak Akan Dibiarkan
Salah satu penyebabnya adalah perkembangan analisis data dalam sepak bola modern. Hampir semua tim kini memiliki bank data lengkap mengenai kebiasaan para eksekutor penalti lawan, mulai dari arah favorit tendangan, pola ancang-ancang, hingga persentase keberhasilannya.
Di sisi lain, kehadiran teknologi VAR (Video Assistant Referee) memang membuat aturan penalti semakin ketat. Posisi kaki kiper di garis gawang maupun pelanggaran pemain yang masuk ke kotak penalti dapat dipantau dengan lebih teliti. Namun, kemajuan teknologi itu ternyata tidak membuat para penendang lebih mudah mencetak gol.
Faktor psikologis juga berperan besar. Tekanan tampil di panggung terbesar sepak bola dunia, ditambah sorotan miliaran pasang mata, membuat beban mental eksekutor semakin berat. Sedikit keraguan saja sudah cukup membuat tendangan kehilangan akurasi atau mudah dibaca kiper. [GO]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya