Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
- Bangun 29 Bendungan, Waskita Karya Perkuat Ketahanan Pangan Dan Ekonomi Daerah
- Terima Ancaman Bom, SDN Srengseng Sawah 15 Jaksel Disisir Densus 88
- TikTok Perkuat Transparansi dan Literasi Konten Buatan AI
- PGN Sebut Jaringan Gas Sumatera Makin Kuat, Investor Diajak Lihat Langsung
- Disebut sebagai Sahabat, Kapolri Panggil Jaksa Agung Kakak Asuh
RM.id Rakyat Merdeka - Panggung terakhir yang pahit bagi Thibaut Courtois, Kevin De Bruyne, hingga Romelu Lukaku. Untuk bisa disebut generasi emas, mereka gagal meraih medali emas.
Belgia masih bermimpi untuk meraih trofi Piala Dunia. Drama pahit di penghujung laga perempat final melawan Spanyol menjadi penutup perjalanan generasi emas Setan Merah.
Belgia harus mengakui keunggulan Spanyol 1-2 setelah kebobolan gol penentu pada menit ke-88. Berawal dari kegagalan kiper muda Senne Lammens mengamankan bola, si kulit bundar jatuh ke kaki Mikel Merino yang tanpa ampun mengirimkan Spanyol ke semifinal.
Baca juga : Lisandro Martinez, Puji Wasit, Semprot Wartawan
“Lammens benar-benar tidak berdaya di momen itu. Dia tampil tanpa cela bersama Manchester United musim lalu, namun tekanan di panggung seperti ini jelas berada di level yang berbeda,” ujar pengamat sepakbola Stephen Warnock.
Laga kontra Spanyol diyakini menjadi penampilan terakhir sejumlah ikon Belgia yaitu Thibaut Courtois, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku, hingga Axel Witsel yang telah menjadi tulang punggung sejak 2014.
Selain itu, beberapa pemain senior seperti Leandro Trossard (31), Brandon Mechele (33), Timothy Castagne (33), Hans Vanaken (33), dan Thomas Meunier (34) juga diperkirakan telah memainkan menit-menit terakhir mereka di Piala Dunia. Courtois yang harus ditarik keluar karena cedera di pertengahan babak kedua, hanya bisa terpaku dari pinggir lapangan.
Baca juga : Dunia Desak China Patuhi Hukum Laut Internasional
Perjalanan generasi emas Belgia dimulai di Piala Dunia 2014 Brazil. Saat mengalahkan Aljazair 2-1 pada laga pembuka, skuad bertabur bintang seperti Courtois, De Bruyne, Lukaku, Witsel, Eden Hazard, Vincent Kompany, Mousa Dembele, Dries Mertens, hingga Marouane Fellaini memberi harapan lahirnya juara dunia baru.
Belgia menembus perempat final pada 2014, kemudian mencatat prestasi terbaik dengan finis di peringkat ketiga Piala Dunia 2018 Rusia. Mereka juga mencapai perempat final Euro 2016 dan Euro 2020, sebelum mengalami kemunduran dengan tersingkir di fase grup Piala Dunia 2022 Qatar.
Selama bertahun-tahun, generasi emas Belgia selalu dipenuhi ekspektasi. Mereka memiliki kualitas individu luar biasa, sempat menduduki peringkat pertama dunia FIFA, dan berkali-kali masuk jajaran favorit juara. Namun, trofi yang dinantikan tak pernah berhasil diraih negara dengan populasi kurang dari 12 juta jiwa itu. “Untuk bisa disebut sebagai ‘generasi emas’, Anda harus memenangkan medali emas terlebih dahulu,” ceplos jurnalis sepakbola Spanyol, Guillem Balague.
Baca juga : Bernadya Punya Dua Rumah, Lebih Suka Ngekos
Tongkat estafet akan berpindah ke generasi berikutnya, sementara kisah generasi emas akan selalu dikenang sebagai akhir manisnya cokelat Belgia. Enak untuk dinikmati, tetapi menyisakan rasa pahit. [GO]
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya