Dark/Light Mode
BREAKINGNEWS
Bakal Masuk Investasi 300 Triliun, Indonesia Masih Primadona Investor
Minggu, 12 Juli 2026 08:22 WIB
RM.id Rakyat Merdeka - Indonesia masih menjadi primadona di hadapan investor. Buktinya, sejumlah investor dikabarkan akan menanamkan modalnya hingga Rp 300 triliun.
Kabar baik ini disampaikan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto. Kata dia, sejumlah investor akan membangun data center hingga 1,3 gigawatt (GW).
Airlangga menjelaskan, saat ini kapasitas data center terbangun di Indonesia baru sebatas 580 megawatt (MW). Hitungannya, investasi yang akan masuk di proyek data center ini mencapai 15 miliar-20 miliar dolar atau sekitar Rp 300 triliun.
"Yang sudah itu 580 MW, mungkin setara 1 juta dolar per MW. Kalau ditambahkan lagi sekitar 1,3 GW, yang sekarang di Batam itu, investasinya sekitar 15-20 billion (dolar) yang sudah on the pipeline (sedang dalam proses)," katanya, di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Airlangga mengungkapkan, salah satu investor yang akan menggelontorkan modalnya adalah Nvidia, perusahaan teknologi asal Amerika Serikat. Nantinya, Nvidia akan bermitra dengan perusahaan Australia.
Baca juga : Presiden Minta Jaksa, Polisi & TNI Berbenah: Korupsi & Penipuan Tak Akan Dibiarkan
Ia menambahkan, pembangunan data center juga akan dilakukan di Karawang, Jawa Barat. Investornya mayoritas merupakan raksasa teknologi. "Karena sekarang ini AI sangat menjadi kunci, yang mengandalkan quantum computing," tutur Airlangga.
Soal pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), Pemerintah akan menggandeng perusahaan semikonduktor asal Inggris, Arm Ltd. Langkah ini sejalan dengan upaya Pemerintah yang tengah mengembangkan sektor hulu digital.
"Diharapkan dengan upstream (hulu) itu nanti kita turun lagi ke downstream (hilir), tetapi kuncinya ini kan seluruhnya adalah SDM. Jadi targetnya, arahan Pak Presiden 15 ribu engineers dan pekerja Indonesia bisa masuk di dalam ARM ecosystem," katanya.
Kabar baik lainnya, Airlangga menyebut akan ada peresmian tambahan jaringan kabel serat optik bawah laut atau landing fiber optic cable dari Batam ke Singapura, dan dari Bitung, Sulawesi Utara, ke Amerika Serikat. Jika tidak ada aral melintang, peresmian akan dilakukan pada 20 Juli 2026.
Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso menyebut, banyak investor yang antre di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Minat ini tak luntur sekalipun kinerja Purchasing Manufacturers' Index (PMI) masuk zona kontraksi pada Juni 2026.
Baca juga : Emas 74 Kg Dan Uang Ratusan M Ada Yang Punya
Kata Susiwijono, meski angka bulanan PMI Juni turun, ekspektasi manufaktur 6 dan 12 bulan ke depan masih positif. "Itu kan juga komponen pilarnya, optimismenya malah positif sebenarnya. Jadi nggak bisa kita spot melihat angka itu," terangnya, Senin (6/7/2026).
Ia mengatakan, investasi yang masuk ke Indonesia memang banyak ke sektor manufaktur. Namun, tidak bisa dibandingkan secara bulanan, karena butuh waktu tahunan untuk melakukan pembangunan hingga pabrik berjalan.
Direktur NEXT Indonesia Herry Gunawan mengatakan, rencana masuknya investasi asing yang akan menanamkan modal di bisnis data center menjadi kabar baik. Terlebih, yang akan berinvestasi tersebut merupakan perusahaan terkemuka di dunia.
Herry menyebut, rencana tersebut mencerminkan bahwa Indonesia masih jadi primadona investor asing. Jika selama ini investasinya belum terealisasi, mungkin hanya soal waktu, sembari investor melihat perkembangan di Indonesia.
"Sebab, pada umumnya, investasi langsung atau direct investment perlu banyak pertimbangan. Berbeda dengan investasi di portofolio yang bisa hit and run setiap saat," ulasnya, saat dihubungi, Jumat (10/7/2026).
Baca juga : Rupiah Kurang Bertenaga
Dengan masuknya investasi sebesar itu, Herry menyebut, Indonesia banyak diuntungkan. Pertama, penambahan investasi yang berpotensi mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Mengingat, investasi merupakan komponen terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Kedua, peluang penyerapan tenaga kerja, khususnya tenaga kerja terdidik jika investasinya di data center. Sehingga, ada transfer teknologi meski secara tidak langsung. Ketiga, meningkatkan persepsi positif tentang Indonesia di dunia internasional.
Agar investasi itu lancar, Herry berpesan kepada Pemerintah untuk menjaga stabilitas politik di Tanah Air. "Kalau investor asing merasa tidak aman atau bahkan merasa risau dengan situasi politik, mereka bisa membatalkan investasi di Indonesia," sarannya.
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tags :
Berita Lainnya