RM.id Rakyat Merdeka - Pemutusan hubungan kerja (PHK) di industri tekstil, semakin mengkhawatirkan.
Berdasarkan data Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), sejak Januari hingga Mei 2024, sebanyak 20 hingga 30 pabrik telah gulung tikar, mengakibatkan 10.800 karyawan kehilangan pekerjaan.
Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengamini adanya fenomena PHK, secara massal di industri tekstil.
Baca juga : Kurniasih Mufidayati: Harga Produk Impor Jauh Lebih Murah
“Pertama, relokasi pabrik dari Jawa Barat ke daerah lain di Jawa, itu ada. Ada juga yang memang pabriknya ditutup,” kata Bahlil di Kantor BPKM, Jakarta, Senin (29/7/2024).
Selain itu, Bahlil menyebut, PHK massal yang terjadi di industri tekstil dalam beberapa waktu terakhir, disebabkan dua faktor. “Mesinnya sudah tua dan biaya ekonominya tinggi dibandingkan negara-negara lain," ucapnya.
Secara spesifik, lanjut Bahlil, tingginya biaya produksi ini berbanding terbalik dengan produktivitas pekerja. Kondisi ini mengakibatkan terganggunya keuangan perusahaan yang akhirnya terpaksa melakukan efisiensi.
Baca juga : Pemerintah Bangun Pusat Riset Morowali
“Kita ini harus mencari jalan tengah, hak-hak buruh tetap kita perhatikan. Tapi, buruh juga harus memperhatikan keberlangsungan perusahaan. Kalau ini tutup, yang rugi kita semua,” ujarnya.
Wakil Ketua Komisi IX DPR, Kurniasih Mufidayati menilai, angka PHK di industri tekstil kian mengkhawatirkan. Menurut dia, jika tidak ada solusi dari pemangku kebijakan, angka pengangguran akibat lesunya industri tekstil, akan membebani Pemerintah.
Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo mengatakan, Indonesia sedang mengalami ujian pada sektor industri, khususnya tekstil dan produk turunannya. Sebab, PHK massal terjadi di sektor ini.
Baca juga : Hanif Tegaskan PKB Bukan Jawasentris
“Industri tekstil kita tidak dalam kondisi baik-baik saja. Saya kira, Pemerintah harus mengambil langkah sebagai bentuk antisipasi,” ujar dia, Senin (29/7/2024).
Untuk membahas topik ini lebih lanjut, berikut wawancara dengan Rahmad Handoyo mengenai hal tersebut.
Selanjutnya
Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News
Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.