BREAKING NEWS
 

Soal Pemerkosaan Di Kerusuhan Mei 1998, Pernyataan Fadli Zon Banjir Kritik

Fadli Zon: Sejarah Harus Berdiri Di Atas Fakta, Bukan Narasi

Reporter : ALFIAN SIDIK
Editor : DEDE HERMAWAN
Rabu, 18 Juni 2025 07:40 WIB
Fadli Zon, Menteri Kebudayaan. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)

 Sebelumnya 
Pernyataan Anda soal pemerkosaan massal 1998 menuai banyak kritik. Bisa dijelaskan maksud dari pernyataan Anda itu?

Saya sangat mengapresiasi publik yang kini semakin peduli terhadap sejarah, termasuk masa transisi refor­masi pada Mei 1998. Peristiwa 13-14 Mei saat itu memang memicu banyak perspektif. Termasuk soal apakah benar terjadi perkosaan massal. Saya hanya menekankan bahwa untuk menyebut sesuatu sebagai ‘massal’ kita perlu data dan bukti yang kuat, tidak seka­dar klaim atau narasi. Bahkan, liputan investigatif dari media ternama saat itu pun tidak berhasil membuktikan secara konkret fakta-fakta tentang hal tersebut.

Apakah itu berarti Anda me­nyangkal adanya kekerasan seksual pada saat itu?

Baca juga : Aparat Penegak Hukum Diminta Mengusut Tuntas

Sama sekali tidak. Saya mengecam keras segala bentuk perundungan dan kekerasan seksual terhadap perem­puan, baik yang terjadi di masa lalu maupun yang masih berlangsung saat ini. Pernyataan saya tidak dimaksud­kan untuk menihilkan penderitaan para korban, tetapi menekankan pentingnya kehati-hatian dalam penggunaan isti­lah, terutama dalam konteks sejarah yang menyangkut nama baik bangsa.

Anda menyinggung perlunya pendekatan akademik dan legal. Bisa dijelaskan lebih lanjut?

Ya. Sejarah harus dibangun di atas fakta yang terverifikasi secara akademik dan hukum. Itulah prinsip dalam historiografi. Apalagi menyangkut istilah “massal” yang punya dampak besar terhadap persepsi kolektif. Kita perlu menelaahnya secara teliti dan bertanggung jawab agar tidak menim­bulkan kesimpulan yang menyesatkan. Ini juga bentuk penghormatan terha­dap korban dan kebenaran itu sendiri.

Baca juga : Berantas Koruptor, Bintang Sembilan Optimis Pemerintah Tak Tebang Pilih

Istilah ‘perkosaan massal’ me­mang menjadi sorotan. Bagaimana Anda melihat polemik ini di tengah masyarakat?

Istilah itu sendiri telah menjadi perdebatan selama lebih dari dua dekade. Di kalangan akademik dan masyara­kat, masih banyak pertanyaan soal data dan konteks penggunaannya. Karena itu, saya kira penting untuk mengelola sensitivitas ini secara bi­jak dan empatik. Kekerasan seksual dalam kerusuhan memang terjadi, dan itu harus diakui serta ditangani. Tapi kalau bicara soal skalanya, kita harus hati-hati dan tidak gegabah.

Ada juga kekhawatiran publik soal narasi perempuan yang dihilangkan dalam penulisan buku Sejarah Indo­nesia. Tanggapan Anda?

Baca juga : Blokir 2 Juta Situs, Kemenkomdigi Lindungi Anak-Anak Dari Judol

Itu tuduhan yang tidak berdasar. Justru dalam penyusunan buku ini, kami sangat menekankan pengakuan terhadap peran perempuan dalam sejarah bangsa. Dalam struktur narasi yang disusun hingga Mei 2025, telah kami akomodasi berbagai tema perempuan, seperti peran mereka dalam Kongres Perempuan 1928, gerakan sosial, perjuangan militer dan diplomasi, hingga isu-isu kekerasan dalam rumah tangga dan kesetaraan gender dalam kerangka Sustainable Development Goals (SDGs). ASI

Artikel ini tayang di Harian Rakyat Merdeka Cetak, Halaman 2, edisi Rabu, 18 Juni 2025 dengan judul "Soal Pemerkosaan Di Kerusuhan Mei 1998, Pernyataan, Fadli Zon Banjir Kritik Fadli Zon: Sejarah Harus Berdiri Di Atas Fakta, Bukan Narasi"

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense