BREAKING NEWS
 

Stok Beras Surplus, Tapi... Di Retail Modern Langka, Di Pasaran Harganya Naik

Daniel Johan: Jangan Ada Spekulan Yang Mainkan Harga

Reporter : NANA MAULANA
Editor : DEDE HERMAWAN
Senin, 8 September 2025 07:15 WIB
Daniel Johan, Anggota Komisi IV DPR. (Foto: Dok. Rakyat Merdeka/rm.id)

RM.id  Rakyat Merdeka - Kelangkaan stok beras di retail modern dan harga beras di pasaran yang masih tinggi, membuat resah masyarakat. 

Hal itu diungkap oleh Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI). Atas kondisi tersebut, muncul berbagai masukan kepada Pemerintah.

Ketua YLKI Niti Emiliana mengaku heran kenapa terjadi kekosongan stok beras di retail modern dan harga beras di pasar tradisional mengalami kenaikan. Padahal, kata dia, Menteri Pertanian sudah mengatakan stok melimpah.

“Polemik soal beras belum juga beres dilapangan masih ada persoalan yang menjadi PR pemerintah untuk segera menuntaskan,” ujar Niti, Sabtu (6/9/2025)

Baca juga : Niti Emiliana: Pemerintah Harus Segera Bereskan Masalah Beras

Mananggapi keluhan dari YLKI tersebut, Anggota Komisi IV DPR Daniel Johan mengaku memahami keluhan dari masyarakat mengenai beras. Untuk itu, Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini menyarankan kepada Pemerintah untuk benar-benar mengetahui persedian stok beras, termasuk harga di pasaran.

“Kami mendorong, agar harga pangan khususnya beras dibuat secara transparan dan _real time_,” ujar Daniel kepada Rakyat Merdeka, Minggu (7/9/2025).

Sementara itu, Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengakui adanya anomali (ketidaknormalan) di sektor pangan, di mana stok beras nasional mengalami surplus, namun harga komoditas tersebut tetap tinggi di pasaran. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi beras hingga Oktober 2025 mencapai 31,04 juta ton, surplus 3,7 juta ton dibanding periode sama tahun sebelumnya, yang produksinya hanya 28 juta ton.

“Artinya produksi di atas surplus 3,7 juta ton dibanding tahun lalu. Dan yang menarik adalah 31 juta ton itu sampai Oktober. Tahun lalu produksi hanya 30 juta ton,” kata Amran di kompleks DPR RI, Kamis (3/9/2025).

Baca juga : Waspadai Gelombang PHK Massal Industri Tembakau

Amran menyebut fenomena ini sebagai anomali yang tidak hanya terjadi pada beras, tetapi juga komoditas lain, seperti minyak goreng, ayam, dan telur. 

“Minyak goreng kita adalah produksi terbesar dunia. Kenapa naik? Ayam, telur kenapa naik? Kita sudah swasembada, kita ekspor. Artinya ini ada anomali,” ungkapnya.

Untuk mengatasi anomali antara ketersediaan dan harga ini, Pemerintah melakukan operasi pasar besar-besaran. Amran menginstruksikan fokus penanganan pada daerah-daerah dengan harga tertinggi.

“Anomali ini kita perbaiki bersama. Caranya memperbaiki kalau khusus beras, itu kita operasi pasar besar-besaran," ujarnya.

Baca juga : Kapolri Ajak Masyarakat Jaga Persatuan Dan Kesatuan

Dia mengungkapkan, operasi pasar telah dilaksanakan melalui 4.000 titik di seluruh Indonesia yang mencakup 7.282 kecamatan. Pemerintah menyiapkan 1,3 juta ton beras untuk program Stabilisasi Harga dan Pasokan (SPHP), termasuk untuk varian premium yang harganya masih tinggi.

“Seluruh Indonesia. Sehingga Alhamdulillah ini sudah ada penurunan harga. Tetapi kita ingin lebih rendah lagi,” tuturnya

Untuk mengetahui lebih lanjut, pandangan dari Daniel Johan, mengenai polemik stok beras di retail modern dan kenaikan harga beras di pasar tradisional, berikut wawancaranya.
 Selanjutnya 

Update berita dan artikel RM.ID menarik lainnya di Google News

Dapatkan juga update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari RM.id. Mari bergabung di Grup Telegram "Rakyat Merdeka News Update", caranya klik link https://t.me/officialrakyatmerdeka kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Tags :

Berita Lainnya
 

TERPOPULER

Adsense